FAO: Harga Pangan Global Terus Naik jika Perang Iran Berlanjut

- FAO memperingatkan harga pangan global akan terus naik jika perang Iran dengan AS dan Israel berlanjut, karena kenaikan harga minyak memicu lonjakan biaya produksi pertanian.
- Perang antara Iran, AS, dan Israel masih berlangsung tanpa kesepakatan damai, meski berbagai upaya negosiasi dan mediasi telah dilakukan namun belum membuahkan hasil.
- Presiden AS Donald Trump menyatakan yakin dapat mengakhiri perang dengan Iran dalam dua hingga tiga minggu, bahkan siap melancarkan serangan lebih keras bila negosiasi gagal.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyebut harga pangan global akan terus naik jika perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut. Sebab, perang tersebut telah membuat harga minyak naik sehingga harga pangan global juga ikut terdampak.
FAO dalam pernyataannya pada Jumat (3/4/2026) menambahkan, jika perang Iran terus berlanjut sampai lebih dari 40 hari ke depan, maka aktivitas pertanian global juga akan terdampak. Sebab, para petani kemungkinan harus mengurangi jumlah tanaman hingga mengurangi biaya produksinya agar harga pangan tidak semakin mahal.
1. Kenaikan harga pangan pada awal konflik masih relatif kecil

Menurut Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, harga pangan global pada Maret 2026 lalu mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, Torero menyebut kenaikan tersebut merupakan yang tertinggi sejak September 2025.
Sejak perang antara Iran dengan AS-Israel pecah pada 28 Februari lalu, harga pangan dunia sebetulnya sudah mulai naik. Namun, kenaikan harga saat itu masih relatif kecil dan belum menimbulkan dampak yang meluas.
"Kenaikan harga sejak konflik dimulai relatif kecil, terutama didorong oleh harga minyak yang lebih tinggi dan diimbangi oleh pasokan sereal global yang melimpah," kata Torero, seperti dilansir Jerusalem Post.
2. Perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlangsung

Hingga saat ini, perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlangsung. Sebab, AS dan Israel masih melancarkan serangan ke Iran. Terbaru, AS berupaya meluncurkan serangan udara ke Iran pada Jumat malam waktu setempat. Namun, serangan itu gagal karena Iran mengklaim berhasil menjatuhkan jet tempur AS yang dipakai untuk menyerang mereka.
Untuk mengakhiri perang, AS sebetulnya sudah berulang kali mengajak Iran untuk bernegosiasi. Selain itu, AS juga sudah beberapa kali mengusulkan proposal perdamaian. Namun, semua upaya tersebut menemui jalan buntu karena Iran tidak kunjung sepakat.
Menurut Pakistan yang berperan sebagai mediator, Iran saat ini juga masih enggan bertemu dengan AS untuk membicarakan perdamaian. Ini membuat konflik antara kedua negara kian alot.
3. Donald Trump yakin bisa mengakhiri perang dengan Iran dalam dua atau tiga pekan

Meski negosiasi berjalan buntu, Presiden AS, Donald Trump, beberapa waktu lalu mengatakan dirinya yakin bisa mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu dua sampai tiga minggu. Dalam periode waktu tersebut, Trump juga berencana menyerang Iran jika mereka tidak juga sepakat untuk bernegosiasi dengan AS.
“Kita berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan semua tujuan militer AS dalam waktu singkat, sangat singkat. Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan.” ujar Trump dilansir Politico.



















