ilustrasi BBM (unsplash.com/engin akyurt)
Ketegangan militer di Timur Tengah menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis bagi 20 persen pasokan minyak mentah dunia. Hal ini memicu krisis energi di Filipina, mengingat 98 persen impor minyak negara tersebut bergantung pada kawasan Timur Tengah.
Presiden Marcos Jr. telah menetapkan status darurat energi nasional pada 24 Maret 2026. Harga bahan bakar diesel diperkirakan melonjak hingga melampaui 130 peso Filipina (Rp36,48 ribu) per liter. Dampaknya, tarif angkut pengiriman beras dari Vietnam naik dua kali lipat, dari 20 dolar AS (Rp339,57 ribu) menjadi 40 dolar AS (Rp679,14 ribu) per metrik ton.
"Gangguan yang terus berlanjut di Selat Hormuz mendorong harga minyak lebih tinggi. Kondisi ini meningkatkan tarif angkutan dan biaya input pertanian esensial, termasuk pupuk dan bahan bakar di seluruh pelosok negeri," ujar Menteri Pertanian Filipina, Francisco Tiu Laurel Jr, dilansir Time.
Krisis ini juga diperburuk oleh melemahnya nilai tukar peso Filipina yang menyentuh rekor terendah 60,30 terhadap dolar AS pada 23 Maret 2026. Selain sektor pangan, industri penerbangan seperti Cebu Pacific dan Philippine Airlines mulai menangguhkan penerbangan untuk menghemat bahan bakar. Saat ini, cadangan minyak nasional menyusut menjadi 45 hari, yang mengakibatkan penutupan 425 SPBU.
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah berupaya mengamankan 700 ribu barel minyak dari Rusia melalui mekanisme pengecualian sanksi. Intervensi harga beras dinilai krusial karena komoditas ini mencakup sepersepuluh pengeluaran rumah tangga warga Filipina.