Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Gagal Damai dan Ancaman Blokade Trump, Harga Minyak Tembus 100 Dolar

Gagal Damai dan Ancaman Blokade Trump, Harga Minyak Tembus 100 Dolar
Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Intinya Sih
  • Harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel setelah Trump mengancam blokade Selat Hormuz, memicu kekhawatiran gangguan pasokan global dan gejolak di pasar saham.
  • Iran dilaporkan meraup keuntungan hingga 2 juta dolar AS per kapal yang melintas di Selat Hormuz, dengan ekspor minyak mencapai rata-rata 1,85 juta barel per hari.
  • Kenaikan harga minyak diperkirakan mendorong inflasi dan lonjakan harga bahan pokok di AS, terutama pada sektor pangan akibat terganggunya rantai pasok pupuk dan kemasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Harga minyak mentah dunia kembali meroket hingga melewati angka 100 dolar AS per barel, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan rencana memblokade seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Hal itu berisiko mengganggu pasokan minyak global. Berdasarkan data pasar, minyak mentah brent yang menjadi patokan internasional mengalami kenaikan sebesar 8 persen ke level 102 dolar AS per barel. Kondisi serupa terjadi pada minyak mentah AS yang juga melonjak 8 persen menjadi 104 dolar AS per barel.

Dilansir CNN, gejolak tersebut pun berdampak pada pasar modal, di mana kontrak berjangka Dow merosot 1,04 persen atau kehilangan 502 poin, diikuti pelemahan S&P 500 sebesar 1 persen dan Nasdaq sebesar 1,15 persen.

1. Gagalnya gencatan senjata picu kenaikan harga

Donald Trump baru turun dari helikopter.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Meski meroket, posisi harga minyak saat ini sebenarnya masih di bawah level tertinggi yang sempat tercapai pada pekan lalu. Sebelumnya, harga sempat melandai saat Trump membatalkan ancaman serangan ke Iran dan setuju melakukan pembicaraan gencatan senjata.

Namun, belum adanya kesepakatan permanen hingga mendekati tenggat waktu membuat harga kembali merangkak naik.

Saat ini harga minyak sudah lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan pada 1 April lalu. Situasi diperparah dengan respons negatif pasar terhadap pidato Trump sebelumnya yang dianggap tidak menjelaskan secara rinci mengenai strategi keluar dari konflik tersebut.

“Kami tidak akan membiarkan Iran menghasilkan uang dengan menjual minyak kepada pihak yang mereka sukai dan tidak kepada pihak yang tidak mereka sukai, atau apa pun itu. Ini akan menjadi semuanya atau tidak sama sekali,” kata Trump dalam sebuah wawancara di Fox News.

2. Cuan Iran di Selat Hormuz ditaksir capai 2 juta dolar AS

ilustrasi Selat Hormuz
ilustrasi Selat Hormuz (pixabay.com/Bergadder)

Selama konflik berlangsung, Iran dilaporkan mendapat keuntungan finansial dengan menarik biaya lintasan hingga 2 juta dolar AS bagi setiap kapal yang melewati Selat Hormuz. Trump sempat mengusulkan ide serupa sebagai bentuk usaha patungan dengan Iran pada pekan sebelumnya.

Data dari Kpler menunjukkan Iran mampu mengekspor rata-rata 1,85 juta barel minyak mentah per hari hingga Maret. Angka ekspor tersebut mengalami kenaikan sekitar 100 ribu barel per hari jika dibandingkan dengan periode tiga bulan sebelumnya.

3. Ancaman inflasi dan kenaikan harga bahan pokok

ilustrasi inflasi
ilustrasi inflasi (IDN Times/Aditya Pratama)

Rencana blokade itu diprediksi akan membebani masyarakat AS secara langsung. Jika tren kenaikan minyak terus berlanjut, harga bahan bakar dipastikan akan tetap tinggi. Hingga Minggu, rata-rata harga bensin di AS sudah menyentuh 4,12 dolar AS per galon, atau naik 38 persen sejak awal perang.

Peneliti senior dari Middle East Institute Karen Young menyebutkan penyelesaian perang dan penurunan harga minyak mungkin masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Dia juga memperingatkan tingginya biaya minyak akan memicu inflasi pada sektor pangan karena terganggunya rantai pasok bahan pupuk dan kemasan makanan. Kondisi itu diprediksi akan menaikkan tekanan harga pada berbagai barang di toko ritel besar.

“Kita akan mulai melihat tekanan inflasi itu. Pikirkan semua yang Anda beli di toko ritel besar,” ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Latest in Business

See More