Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gangguan Geopolitik, METI Desak Percepatan Transisi Energi Nasional
ilustrasi transisi energi surya yang lebih ramah lingkungan (unsplash.com/Andreas Gücklhorn)
  • METI menegaskan percepatan transisi energi sebagai langkah wajib untuk mencapai kemandirian dan ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
  • Hambatan utama transisi energi meliputi dominasi energi fosil, lemahnya komitmen kebijakan, serta belum jelasnya insentif fiskal dan mekanisme harga bagi sektor energi terbarukan.
  • METI mengusulkan program Green Fast Track, mendorong investasi bersih, memperkuat regulasi melalui UU EBET, serta mengembangkan teknologi PLTA dan akses listrik di wilayah 3T.
  • METI menegaskan percepatan transisi energi sebagai langkah wajib untuk mencapai kemandirian dan ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global yang mengganggu pasokan energi dunia.
  • Hambatan utama transisi energi meliputi dominasi energi fosil, lemahnya komitmen kebijakan, serta belum jelasnya insentif fiskal dan mekanisme harga bagi sektor energi terbarukan.
  • METI mendorong program Green Fast Track, pengesahan UU EBET, serta pengembangan PLTA dan inisiatif desa transisi energi guna mempercepat investasi dan memperluas akses listrik berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Zulfan Zahar menyebut percepatan transisi energi sebagai langkah mutlak untuk mencapai kemandirian energi nasional. Langkah tersebut dinilai sebagai solusi paling rasional untuk memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global yang mengganggu pasokan energi dunia.

Situasi internasional saat ini memaksa banyak negara untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari luar negeri.

"Jelas bahwa transisi energi bukan sekedar jargon atau kontribusi sosial dan lingkungan. Transisi energi adalah langkah mutlak untuk mencapai kemandirian energi. Energi terbarukan adalah solusi yang paling rasional untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).

1. Hambatan kebijakan dan dominasi energi fosil masih jadi tantangan

ilustrasi PLTU (pixabay.com/bhumann34)

METI menilai transisi energi di Indonesia masih terhambat oleh belum kuatnya komitmen kebijakan. Hal tersebut dipengaruhi oleh dominasi energi fosil serta belum jelasnya insentif fiskal bagi sektor energi terbarukan.

Selain itu, mekanisme harga dan akses proyek bagi pihak swasta dianggap belum kondusif. METI menilai penetapan target energi saat ini belum sepenuhnya didasarkan pada kajian yang matang. Diperlukan kebijakan yang lebih terstruktur, seperti penerapan skema feed-in tariff dan pelibatan METI dalam perumusan kebijakan sejak awal.

2. Rekomendasi strategis jangka pendek hingga panjang

ilustrasi energi hijau (pexels.com/Pixabay)

Untuk mempercepat proses tersebut, METI mengusulkan program jangka pendek bernama Green Fast Track. Program tersebut bertujuan mempercepat tender proyek energi terbarukan dengan pendekatan Supply Create Demand, perbaikan mekanisme pengadaan, serta revisi Perpres 112/2025.

METI juga menyiapkan model dokumen PJBL agar proses dari tender hingga penandatanganan selesai dalam waktu maksimal enam bulan.

Dari sisi pendanaan, METI mendorong pelipatgandaan investasi energi bersih melalui peningkatan kapasitas pinjaman bank, lembaga pendanaan multilateral, dan instrumen inovatif. Pemerintah juga diminta melakukan investasi masif pada kualitas jaringan listrik dan jalur transmisi antarpulau.

Sedangkan untuk jangka panjang, METI menekankan pentingnya stabilitas regulasi melalui pengesahan UU EBET guna membangun kepercayaan investor. Kolaborasi publik-swasta serta pengembangan tenaga kerja terampil di sektor energi juga menjadi poin utama dalam rekomendasi tersebut.

Arah kebijakan ke depan difokuskan pada percepatan pembangunan pembangkit sesuai prioritas RUPTL. Peningkatan jumlah proyek diharapkan menciptakan kompetisi sehat yang menghasilkan tarif lebih kompetitif.

Karena kepastian tarif menjadi kunci daya tarik investasi, METI memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah dan PLN untuk merancang skema yang mendukung iklim investasi tersebut.

3. Inisiatif program dan pengembangan teknologi PLTA

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tonsealama di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

METI tengah menjalankan lima program utama, di antaranya Desa/Pulau Transisi Energi, rekomendasi untuk 100 GW, serta Access to Finance for Just Energy Transition (AFJET). Inisiatif lainnya REBID untuk industri dan REBED untuk masyarakat di wilayah 3T juga terus didorong guna memperluas akses listrik berbasis teknologi.

Dalam hal teknologi, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dinilai sebagai sektor yang paling matang di Indonesia. PLTA dianggap memiliki keunggulan pada kapasitas besar, tarif kompetitif, serta tingkat keandalan yang tinggi dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya.

Terkait posisi organisasi, METI menegaskan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan PLN dan pemangku kepentingan lainnya. Zulfan memastikan organisasi tetap kredibel melalui proses audit internal dan pengawasan yang ketat.

"Secara internal, METI juga telah melalui proses audit dan memastikan fungsi pengawasan oleh Dewan Pengawas berjalan dengan baik, sehingga posisi dan kredibilitas organisasi tetap terjaga," kata Zulfan.

Editorial Team