Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gen Z dan Milenial Ubah Cara Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Gen Z dan Milenial Ubah Cara Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi
IMGR 2027
Intinya Sih
  • Gen Z dan Milenial semakin adaptif menghadapi tekanan ekonomi dengan strategi individu seperti diversifikasi pendapatan, perlindungan finansial, serta menjaga keseimbangan mental untuk memperkuat ketahanan pribadi.
  • Mayoritas Gen Z dan Milenial kini memiliki pekerjaan sampingan sebagai sumber penghasilan tambahan, didorong oleh kebutuhan finansial dan keinginan menciptakan rasa aman ekonomi di tengah ketidakpastian.
  • Fenomena multi-income mencerminkan kesadaran finansial tinggi generasi muda, terbukti dari indeks literasi dan inklusi keuangan mereka yang melampaui rata-rata nasional menurut survei OJK dan BPS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Tekanan kondisi makroekonomi yang semakin berat mendorong Generasi Milenial dan Generasi Z (Gen Z) untuk mengambil langkah-langkah adaptif. Selain menyadari berbagai faktor struktural yang memengaruhi kondisi ekonomi, kedua generasi ini kini lebih berfokus pada strategi adaptasi di tingkat individu untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan finansial mereka.

Temuan tersebut terungkap dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027. Laporan tersebut menunjukkan bahwa berbagai bentuk adaptasi finansial yang dilakukan Milenial dan Gen Z bukan lagi sekedar pilihan pribadi, melainkan respons rasional terhadap kondisi ekonomi yang menuntut fleksibilitas, ketahanan, dan kendali yang lebih besar atas sumber daya yang mereka miliki.

1. Milenial dan Gen Z mendefinisikan ulang rasa aman di era ketidakpastian

IMGR 2027 HY208369.jpg
IMGR 2027

Bentuk adaptasi yang diambil pun beragam, mulai dari diversifikasi pendapatan, perubahan sikap terhadap instrumen perlindungan seperti asuransi, hingga eksplorasi instrumen alternatif dan mobilitas tenaga kerja lintas batas. Langkah ini juga memicu pendefinisian ulang konsep jaring pengaman oleh kaum muda.

Jaring pengaman kini tidak hanya dilihat dari kerangka ekonomi, melainkan juga beririsan erat dengan kesehatan mental dan stabilitas emosional demi mempertahankan rasa aman di tengah ketidakpastian yang kompleks. Strategi-strategi ini muncul sebagai cerminan nyata dari adanya kesenjangan antara kebutuhan individu dengan kapasitas sistem yang ada saat ini.

2. Satu gaji tak lagi cukup, Gen Z dan Milenial ramai-ramai cari penghasilan tambahan

ilustrasi buku tabungan anak (freepik.com/rawpixel)
ilustrasi buku tabungan anak (freepik.com/rawpixel)

Bagi Gen Z dan Milenial, mengandalkan satu pekerjaan saja kini tidak lagi dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menciptakan rasa aman finansial. Karena itu, memiliki lebih dari satu sumber pendapatan telah menjadi norma baru, baik melalui pekerjaan utama, pekerjaan lepas (freelance), maupun berbagai usaha sampingan.

Data dari GoodStats menunjukkan bahwa sekitar 45 persen masyarakat Indonesia saat ini memiliki pekerjaan sampingan. Fenomena ini sejalan dengan temuan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2025 yang mencatat bahwa 43 persen Gen Z dan 50 persen Milenial di Indonesia secara aktif menjalankan pekerjaan sampingan untuk meningkatkan pendapatan mereka.

Data terbaru dari survei GoodStats (2026) juga menunjukkan bahwa motivasi utama di balik keputusan tersebut masih didominasi oleh faktor finansial. Sebanyak 75,63 persen responden mengaku mengambil pekerjaan tambahan untuk memperoleh penghasilan ekstra.

3. Multi-Income jadi normal baru bagi Gen Z dan milenial

Ilustrasi tabungan (Pexels/maitree rimthong)
Ilustrasi tabungan (Pexels/maitree rimthong)

Fenomena multi-income bukan sekedar tren musiman, melainkan mencerminkan cara pandang baru terhadap pekerjaan dan masa depan. Menariknya, pilihan untuk memiliki lebih dari satu sumber pendapatan ini bukan didorong oleh rendahnya pemahaman keuangan, melainkan merupakan keputusan sadar dari generasi yang justru memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi.

Hal tersebut tercermin dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap 10.800 responden di 34 provinsi. Survei tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia 18–25 tahun dan 26–35 tahun memiliki indeks literasi keuangan tertinggi secara nasional, masing-masing sebesar 73,22 persen dan 74,04 persen, melampaui rata-rata nasional yang berada pada angka 66,46 persen. Tingkat inklusi keuangan pada kedua kelompok usia tersebut juga tercatat paling tinggi, yaitu 89,96 persen dan 86,10 persen, dibandingkan rata-rata nasional sebesar 80,51 persen.

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More