Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS, Bos PLN: Ini Wake Up Call
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu dan jajaran Dinas ESDM Jateng saat memberikan keterangan kepada media. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Darmawan Prasodjo menilai lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel menjadi peringatan penting bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada energi impor.
  • PLN terbantu oleh kebijakan harga gas domestik yang tetap, sehingga tidak perlu membeli LNG dari pasar spot yang kini mencapai sekitar 19–20 dolar AS per MMBTU.
  • Produksi LNG global terganggu, termasuk penurunan produksi di Qatar sebesar 5 juta ton per tahun yang diperkirakan butuh lima tahun untuk pulih, meningkatkan risiko pasokan energi impor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
13 April 2026

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan dalam rapat dengan Komisi XII DPR bahwa PLN bergantung pada kebijakan harga gas domestik untuk menjaga stabilitas pembangkit. Ia menegaskan PLN beruntung mendapat alokasi gas dari negara dengan harga yang dikunci sehingga tidak perlu impor LNG.

kini

Harga minyak dunia telah menembus di atas 100 dolar AS per barel dan menjadi peringatan bagi PLN untuk mengurangi ketergantungan energi impor. Harga LNG di pasar spot mencapai sekitar 19–20 dolar AS per MMBTU, sementara produksi LNG di Qatar turun 5 juta ton per tahun dan diperkirakan butuh lima tahun untuk pulih.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran terhadap biaya energi dan ketergantungan impor bagi PLN.
  • Who?
    Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan kondisi tersebut dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Gedung DPR RI, Jakarta, dalam forum rapat dengar pendapat bersama Komisi VII.
  • When?
    Kegiatan berlangsung pada Senin, 13 April 2026, saat harga minyak dunia melampaui ambang 100 dolar AS per barel.
  • Why?
    Kenaikan harga minyak global dan gangguan produksi LNG di Qatar menyebabkan risiko terhadap pasokan energi berbasis impor.
  • How?
    PLN mengandalkan alokasi gas domestik berharga tetap untuk menjaga stabilitas pembangkit listrik dan menghindari pembelian LNG dari pasar spot yang lebih mahal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Harga minyak di dunia naik sampai lebih dari 100 dolar. Pak Darmawan, bos PLN, bilang ini tanda supaya hati-hati dan jangan terlalu bergantung pada energi dari luar negeri. Sekarang PLN masih bisa pakai gas dari dalam negeri dengan harga tetap, jadi listrik tetap jalan. Tapi di luar negeri gasnya mahal dan stoknya berkurang karena ada masalah produksi di Qatar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Direktur Utama PLN menunjukkan bahwa di tengah lonjakan harga minyak dunia, perusahaan tetap mampu menjaga stabilitas berkat alokasi gas domestik dengan harga terkunci. Kondisi ini menegaskan efektivitas kebijakan energi nasional dalam melindungi sektor kelistrikan dari gejolak pasar global sekaligus mendorong kesadaran untuk memperkuat kemandirian energi di masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan perusahaan saat ini bergantung pada kebijakan harga gas domestik untuk menjaga stabilitas operasional pembangkit listrik.

Dia menyebut PLN sangat terbantu karena mendapatkan alokasi gas dari negara dengan harga yang sudah dipatok, sehingga untuk saat ini perusahaan tidak perlu melakukan impor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG).

"Beruntung kami mendapatkan alokasi gas dari negara yang harganya sudah dikunci," katanya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (13/4/2026).

1. Harga minyak dunia jadi alarm untuk kurangi energi impor

Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Darmawan mengakui kondisi geopolitik global saat ini sebagai peringatan atau wake up call. Hal tersebut menyusul pergerakan harga minyak dunia yang menyentuh angka di atas 100 dolar AS per barel.

​Menurutnya, situasi tersebut sangat berpengaruh pada biaya energi untuk pembangkit listrik karena harga gas internasional terbukti memiliki korelasi yang erat dengan harga minyak dunia.

"Ada pertanyaan bagaimana kondisi geopolitics, nah ini wake up call. Harga minyak sudah kemarin sempat menyentuh di atas 100 dolar per barel. Nuwun sewu juga harga gas ternyata berkorelasi dengan harga minyak internasional," paparnya.

2. Biaya bahan bakar melonjak jika ambil dari pasar spot

Ilustrasi harga minyak naik (IDN Times/Arief Rahmat)

Dari hasil pemantauan PLN, harga LNG di pasar spot saat ini mencapai 19 dolar AS per MMBTU. Darmawan memberikan gambaran jika PLN harus mengambil gas dari pasar spot, biaya bahan bakar yang dikeluarkan bisa membengkak hingga 14 sen dolar AS per kWh.

Harga LNG tersebut bahkan bisa mencapai 20 dolar AS per MMBTU jika perusahaan memerlukan kargo tambahan secara mendadak. Namun, stok di pasar Jepang-Korea masih tersedia di harga 19 dolar AS per MMBTU.

"Begitu kami cek di Japan-Korean Market LNG harganya 19 dolar, Alhamdullilahirabbil alamin kalau kami butuh ekstra kargo masih mungkin kami mendapatkan kargo tersebut," ujar dia.

3. Pasokan global terganggu akibat gangguan produksi

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Persoalan tidak hanya terletak pada harga, tetapi juga ketersediaan stok di tingkat global. Darmawan mengungkapkan produksi LNG di Qatar saat ini turun hingga 5 juta ton per tahun dan diperkirakan butuh waktu 5 tahun untuk pulih kembali.

Kondisi akibat dinamika geopolitik itu disebutnya sebagai risiko bagi energi yang berbasis impor. Situasi tersebut menjadi dasar bagi PLN untuk semakin waspada terhadap ketergantungan pasokan energi dari luar negeri.

"Di Qatar ada 5 juta ton per tahun hilang produksinya dan butuh 5 tahun untuk recovery-nya. Jadi mohon izin tadi sudah disampaikan pertanyaan geopolitiknya gimana, ini wake up call. Energi berbasis pada impor," tuturnya.

Editorial Team