Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ikut Hilirisasi Bijih Besi-Nikel, KRAS Genjot Proyek Carbon Steel

Ikut Hilirisasi Bijih Besi-Nikel, KRAS Genjot Proyek Carbon Steel
Logo PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS). (dok. YouTube Krakatau Steel)
Intinya Sih
  • Krakatau Steel mengembangkan proyek Carbon Steel berkapasitas 1,5 juta ton per tahun dan Stainless Steel 1,2 juta ton per tahun untuk mendukung hilirisasi bijih besi dan nikel.
  • Perusahaan menekankan hilirisasi membutuhkan ekosistem industri terintegrasi melalui kolaborasi industri baja, pertambangan, pemerintah, investor, dan pengusaha nasional guna menciptakan nilai tambah serta lapangan kerja.
  • Krakatau Steel mengembangkan Kawasan Industri Krakatau III terintegrasi dan mendorong keterlibatan pengusaha muda dalam inovasi green steel, digitalisasi rantai pasok, specialty steel, serta peningkatan SDM manufaktur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) tengah mengembangkan proyek Carbon Steel berkapasitas 1,5 juta ton per tahun dan Stainless Steel berkapasitas 1,2 juta ton per tahun.

Proyek merupakan salah satu pendukung program hilirisasi bijih besi dan nikel. Perusahaan menggarap pengembangan Carbon Steel dan Stainless Steel bersama mitra kerja.

“Hilirisasi akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila diikuti dengan tumbuhnya industri-industri baru yang mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat daya saing nasional, serta memperluas kesempatan kerja,” kata Direktur Infrastruktur dan Operasi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Sidik Darusulistyo dikutip Jumat, (7/8/2026).

1. Ekosistem industri harus terintegrasi

Ikut Hilirisasi Bijih Besi-Nikel, KRAS Genjot Proyek Carbon Steel
Produksi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS). (dok. KRAS)

Sidik mengatakan, program hilirisasi nasional tidak hanya ditentukan oleh pengolahan sumber daya alam (SDA), tetapi juga melalui penguatan ekosistem industri nasional yang terintegrasi.

Oleh sebab itu, dia menekankan pentingnya kerja sama antara industri baja, sektor pertambangan, pemerintah, investor, dan pengusaha nasional.

2. Baja topang seluruh aktivitas industri

Ikut Hilirisasi Bijih Besi-Nikel, KRAS Genjot Proyek Carbon Steel
Direktur Infrastruktur dan Operasi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Sidik Darusulistyo. (dok. KRAS)

Sidik mengatakan, industri baja merupakan mother of industries yang menopang hampir seluruh sektor industri. Selain menjadi fondasi pembangunan, industri baja juga memiliki dampak ekonomi yang besar melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok, dan pertumbuhan industri turunannya, sehingga menjadi salah satu sektor penting dalam mendukung agenda hilirisasi dan industrialisasi nasional.

"Industri baja bukan sekadar menghasilkan produk, tetapi menjadi fondasi pembangunan nasional. Ketika industri baja tumbuh kuat dan berdaya saing, maka berbagai sektor strategis nasional akan ikut berkembang. Karena itu, penguatan industri baja merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi Indonesia," ujar Sidik.

3. Kembangkan kawasan industri

Ikut Hilirisasi Bijih Besi-Nikel, KRAS Genjot Proyek Carbon Steel
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) mengungkapkan telah terjadi peristiwa keadaan memaksa (force majeure) yang diduga dipicu kebakaran di area produksi Continuous Tandem Cold Mill (CTCM) pada pabrik Cold Rolling Mill (CRM). (Dok/Istimewa).

Selain pengembangan produk, perusahaan juga melakukan pengembangan Kawasan Industri Krakatau III sebagai kawasan industri terintegrasi yang didukung infrastruktur logistik, energi, air industri, teknologi informasi, serta konektivitas pelabuhan, jalan tol, dan jalur kereta api.

Dalam menjaga keberlangsungan industri baja, Sidik mengatakan, pengusaha muda harus dilibatkan. Keterlibatan pengusaha muda diharapkan bisa meningkatkan produksi produk baja hilir bernilai tambah, menghadirkan inovasi teknologi green steel, digitalisasi rantai pasok, pengembangan specialty steel, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia manufaktur.

"Masa depan industri baja Indonesia tidak hanya ditempa di dalam tanur peleburan baja, tetapi juga di dalam pikiran-pikiran inovatif para pengusaha mudanya," tutur Sidik.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More