Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

HSBC Siapkan Kredit Rp65 T, Indonesia Jadi Target Utama Energi Hijau

HSBC Siapkan Kredit Rp65 T, Indonesia Jadi Target Utama Energi Hijau
ilustrasi modal (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • HSBC China meluncurkan fasilitas kredit Rp65 triliun untuk mendukung ekspansi perusahaan energi bersih asal China, dengan Indonesia sebagai target utama pembiayaan transisi energi hijau.
  • Indonesia dinilai memiliki peluang investasi energi bersih terbesar di Asia Tenggara, dan HSBC berperan sebagai penghubung antara kebutuhan pendanaan nasional dengan perusahaan energi global.
  • Permintaan global terhadap teknologi rendah karbon terus meningkat, mendorong ekspansi perusahaan China di sektor kendaraan listrik dan energi bersih yang didukung oleh fasilitas kredit HSBC.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - HSBC China meluncurkan fasilitas kredit senilai 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp65 triliun untuk mendukung ekspansi perusahaan energi bersih dan rendah karbon asal China ke pasar global. Indonesia disebut menjadi target utama dari penyaluran pembiayaan tersebut.

Langkah ini dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi, terutama di tengah kebutuhan investasi hijau yang terus meningkat hingga 2030.

1. Indonesia jadi incaran investasi energi hijau China

HSBC Siapkan Kredit Rp65 T, Indonesia Jadi Target Utama Energi Hijau
ilustrasi kendaraan listrik (Unsplash.com/Zaptec)

Fasilitas pembiayaan bernama Sustainability and Transition Credit Facility itu akan menyasar berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, kendaraan listrik, pusat data, hingga akal imitasi (AI).

Ekspansi ini juga didukung oleh penguatan hubungan dagang ASEAN dan China lewat ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 Upgrade Protocol yang diteken pada 2025. Perjanjian tersebut memperluas kerja sama ke sektor ekonomi hijau dan digital.

Indonesia dinilai menjadi pasar strategis karena kebutuhan pendanaan transisi energinya sangat besar. Berdasarkan Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP) dari Just Energy Transition Partnership (JETP), kebutuhan pendanaan Indonesia diperkirakan mencapai 97 miliar dolar AS demi memenuhi target iklim 2030. Selain itu, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025 juga menargetkan tambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 42.569 MW hingga 2034.

2. HSBC sebut Indonesia punya peluang terbesar di Asia Tenggara

HSBC Siapkan Kredit Rp65 T, Indonesia Jadi Target Utama Energi Hijau
ilustrasi energi bersih terbarukan Pertamina (dok. Pertamina)

Presiden Direktur HSBC Indonesia, Stuart Rogers mengatakan, Indonesia menjadi salah satu pasar energi bersih paling menjanjikan di kawasan.

“Transisi energi di Indonesia merupakan salah satu peluang investasi energi bersih terbesar di kawasan, dan skala pembiayaan yang dibutuhkan untuk memenuhi target 2030 sangat signifikan,” ujar Stuart, dikutip Kamis (28/5/2026.

Dia menambahkan, HSBC ingin menjadi penghubung antara kebutuhan investasi Indonesia dengan perusahaan energi bersih global, khususnya dari China.

“HSBC berada pada posisi strategis untuk menghubungkan ambisi Indonesia dengan perusahaan energi bersih kelas dunia, termasuk dari China, yang memiliki teknologi, pengalaman, dan kapasitas untuk mewujudkannya. Fasilitas kredit ini memperkuat kemampuan kami untuk melakukan hal tersebut,” tutur Stuart.

3. HSBC bidik lonjakan bisnis kendaraan listrik dan energi bersih

1001050444.jpg
ilustrasi energi bersih terbarukan Pertamina (dok. Pertamina)

HSBC melihat permintaan global terhadap teknologi rendah karbon akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Saat ini, China menyumbang sekitar 47 persen ekspor teknologi bersih dunia dan menguasai dua pertiga ekspor panel surya serta baterai global.

Di sisi lain, penjualan kendaraan listrik global diperkirakan mencapai 26 juta unit pada 2026. Konsumsi listrik pusat data global juga diproyeksikan melonjak hampir dua kali lipat menjadi 945 TWh pada 2030.

Global Head of Sustainable Finance and Transition HSBC, Natalie Blyth mengatakan, perusahaan rendah karbon asal China kini menjadi pemain penting dalam ekosistem transisi energi global.

“China merupakan rumah bagi sejumlah perusahaan rendah karbon paling dinamis di dunia. Perusahaan-perusahaan ini menetapkan tolok ukur baru dalam manufaktur kelas atas, sekaligus memainkan peran penting dalam mentransformasi ekosistem transisi energi,” ujar Natalie.

Menurut dia, ekspansi internasional perusahaan-perusahaan tersebut membutuhkan dukungan pembiayaan global yang kuat.

“Fasilitas kredit ini dirancang untuk menyediakan dukungan tersebut dan tidak ada bank selain HSBC yang mampu membantu nasabah untuk menemukan, mengakses, dan menavigasi peluang pertumbuhan di seluruh ekosistem global,” ucap Natalie

Share Article
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More