Ilustrasi Emas Mulia (IDN Times/Arief Rahmat)
Ketua Umum Indonesia Bullion Market Association (IBMA) sekaligus Direktur Pemasaran, Penjualan dan Pengembangan Produk PT Pegadaian, Selfie Dewiyanti mengatakan, pembentukan IBMA menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem perdagangan dan jasa bullion nasional. Menurut Selfie, keberadaan asosiasi tersebut akan mendorong kolaborasi antar pelaku industri sekaligus membangun pasar bullion yang lebih transparan dan berdaya saing global.
"Indonesia tidak hanya akan menjadi negara penghasil emas, tetapi juga berkembang sebagai pusat perdagangan dan jasa bullion di kawasan yang mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap investasi, pendalaman pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Selfie.
Potensi tersebut ditopang oleh posisi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil emas dunia. Data World Gold Council mencatat produksi emas Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 104 ton, menempatkan Indonesia di peringkat ke-10 dunia.
Di sisi lain, tren permintaan emas global juga terus menunjukkan penguatan. World Gold Council mencatat investasi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan permintaan emas. Kepemilikan emas melalui ETF emas global memasuki tahun kedua terkuat sepanjang sejarah, sementara permintaan terhadap emas batangan dan koin mencapai level tertinggi dalam 12 tahun terakhir.
Momentum tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran emas dalam perekonomian domestik. Karena itu, anggota IBMA akan mendorong pengembangan produk bullion, memperkuat sinergi dengan sektor keuangan syariah, meningkatkan kemudahan berusaha, serta memperluas literasi masyarakat mengenai investasi dan layanan berbasis emas.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperluas basis investor sekaligus meningkatkan pemanfaatan emas dalam sistem keuangan nasional. Pada saat yang sama, IBMA menjadi wadah bagi pelaku industri dan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi peluang, merespons tantangan, serta memperkuat arah pengembangan rantai nilai emas dari hulu hingga hilir.
Dengan ekosistem yang semakin terintegrasi, pengelolaan emas di dalam negeri tidak berhenti pada aktivitas produksi dan perdagangan komoditas. Emas juga berpeluang menjadi bagian yang semakin penting dalam hilirisasi, pendalaman pasar keuangan, serta penguatan pertumbuhan ekonomi nasional.