Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Ditutup Perkasa ke Level Rp17.748 per Dolar AS

Rupiah Ditutup Perkasa ke Level Rp17.748 per Dolar AS
ilustrasi lembaran uang kertas rupiah Indonesia (pexels.com/Robert Lens)
  • Rupiah ditutup menguat 92 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.748 per dolar AS pada perdagangan Kamis sore.
  • Penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan dolar AS setelah Departemen Keuangan AS menggandakan buyback obligasi jangka panjang menjadi 4 miliar dolar AS per operasi.
  • Pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen geopolitik, saat investor menimbang pernyataan berbeda Amerika Serikat dan Iran mengenai status pelayaran di Selat Hormuz.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup menguat pada akhir perdagangan, Kamis (20/8/2026) sore. Rupiah parkir di level 17.748 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat menguat 92 poin atau 0,52 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

  1. 1. Rincian mata uang di Asia bergerak menguat

    Mayoritas mata uang di Asia bergerak menguat, rinciannya:

    • Bath Thailand menguat 0,21 persen
    • Ringgit Malaysia menguat 0,43 persen
    • Yuan China menguat 0,11 persen
    • Rupee India menguat 0,08 persen
    • Pesso Filipina menguat 0,26 persen
    • Dolar Taiwan menguat 0,05 persen

  2. 2. Penyebab rupiah menguat seharian

    Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan, pergerakan rupiah yang menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini seiring pelemahan dolar AS setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) memperbesar operasi pembelian kembali atau buyback obligasi jangka panjang.

    Departemen Keuangan AS menggandakan ukuran operasi buyback untuk surat utang tenor panjang menjadi 4 miliar dolar AS per operasi, dari sebelumnya 2 miliar dolar AS. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan likuiditas di pasar obligasi AS.

    "Rupiah menguat seiring pelemahan tajam pada dolar AS itu sendiri setelah Departemen Keuangan mengumumkan rencana untuk menggandakan operasi buyback," kata Lukman.

  3. 3. Sentimen geopolitik pengaruhi pergerakan rupiah

    Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menambahkan, sentimen geopolitik juga memengaruhi pergerakan rupiah.

    Para investor disebut tengah menimbang sinyal yang saling bertentangan dari Teheran dan Washington mengenai status Selat Hormuz bagi pelayaran kapal. Presiden AS Donald Trump bilang bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka.

    “Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Iran bahwa jalur air vital tersebut masih tertutup bagi lalu lintas pelayaran,” ucap Ibrahim.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More