ilustrasi lihat hp, ponsel, smartphone, AI user, teknologi, bendera Amerika Serikat (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Lonjakan impor pada Agustus kemungkinan belum menjadi akhir dari cerita. KPMG menilai pembangunan data center belum mencapai titik puncaknya, sehingga kebutuhan terhadap berbagai barang impor untuk membangun infrastruktur AI diperkirakan masih kuat. Artinya, meskipun tarif impor AS semakin tinggi, kebutuhan perusahaan terhadap semikonduktor, perangkat telekomunikasi, mesin, dan material pendukung tetap bisa menjaga arus impor pada level tinggi.
Menariknya, KPMG memperkirakan pengaruh pembangunan data center terhadap perdagangan AS masih bisa terasa hingga akhir 2026 dan 2027. Perusahaan membutuhkan waktu untuk membangun fasilitas, memasang perangkat komputasi, serta menyiapkan infrastruktur energi yang mendukung operasionalnya. Jadi, perkembangan AI yang selama ini sering kamu lihat dari sisi chip, software, atau chatbot ternyata juga punya dampak nyata terhadap perdagangan barang dan perekonomian global.
Pada akhirnya, defisit perdagangan AS sebesar 105,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.886 triliun pada Agustus 2026 menunjukkan betapa besarnya aktivitas impor di tengah pembangunan infrastruktur AI. Impor AS bahkan mencapai rekor 420,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.518 triliun, dengan semikonduktor dan barang modal menjadi salah satu pendorong penting.
Meski defisit perdagangan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan PDB, lonjakan impor juga mencerminkan kuatnya permintaan dan investasi domestik. Kalau pembangunan data center AI terus berlanjut sesuai perkiraan, kebutuhan impor teknologi AS kemungkinan masih menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam perdagangan global.