Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Ancam Tarif hingga 300 Persen Perusahaan Tak Bangun Pabrik di AS

3 min read
Trump Ancam Tarif hingga 300 Persen Perusahaan Tak Bangun Pabrik di AS
Donald Trump (commons.wikimedia.org/Ali Shaker)
  • Donald Trump mengancam tarif 150 hingga 300 persen bagi perusahaan asing yang tidak membangun pabrik di AS dalam sekitar satu setengah tahun.
  • Ancaman itu muncul saat Korea Selatan ditekan merealisasikan komitmen investasi 350 miliar dolar AS, termasuk kemungkinan keterlibatan dalam proyek LNG Alaska.
  • Seoul masih menilai kelayakan komersial proyek LNG Alaska yang mahal, sambil mengakui penolakan investasi dapat memicu tekanan tarif baru dari AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times  -  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 300 persen terhadap perusahaan asing yang tidak membangun pabrik di AS dalam waktu sekitar satu setengah tahun.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Trump berkampanye di Butler High School, Vandalia, Ohio pada Sabtu (3/10/2026).

  1. 1. Trump beri waktu 1,5 tahun untuk bangun pabrik

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump
    Presiden Amerika Serikat Donald Trump (commons.wikimedia.org/The White House)

    Trump mengatakan, perusahaan asing akan diberi waktu sekitar satu setengah tahun untuk membangun fasilitas produksi di AS sebelum menghadapi tarif antara 150 hingga 300 persen.

    "Kami memberi mereka sedikit waktu sekitar satu setengah tahun agar mereka dapat membangun pabrik di sini. Jika tidak, kami akan mengenakan tarif 150, 200, 250, 300 persen," ujar Trump dalam kampanye tersebut sebagaimana dikutip Seoul Economic Daily.

    Trump menyebut China, Jepang, Korea Selatan (Korsel), dan Kanada sebagai negara yang selama ini menggunakan tarif terhadap AS. Ia mengatakan kebijakan tarifnya telah mendorong perusahaan asing menanamkan modal di sektor manufaktur AS.

  2. 2. Korea Selatan hadapi tekanan soal investasi

    Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump
    Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (commons.wikimedia.org/The White House)

    Pernyataan Trump muncul ketika Korsel menghadapi tekanan Washington terkait pelaksanaan komitmen investasi senilai 350 miliar dolar AS (setara Rp6.260,98 triliun) di AS.

    Korsel sebelumnya menyepakati investasi tersebut sebagai bagian dari kesepakatan untuk menurunkan tarif barang Korsel dari 25 persen menjadi 15 persen. Paket itu mencakup 150 miliar dolar AS (setara Rp2.683,28 triliun) untuk kerja sama pembuatan kapal dan 200 miliar dolar AS (setara Rp3.577,70 triliun) untuk investasi strategis.

    Trump pekan ini memasukkan partisipasi Korsel dalam proyek gas alam cair (LNG) Alaska ke dalam paket investasi strategis tersebut. Namun, Seoul menyatakan baru menyepakati peninjauan proyek dan belum mengambil keputusan final mengenai apakah akan berinvestasi atau berapa besar dana yang akan dialokasikan.

    Sehari sebelumnya, Trump menolak anggapan bahwa dirinya terlalu cepat mengumumkan partisipasi Korsel dalam proyek tersebut. Ia mengatakan, jika Seoul tidak ingin melanjutkannya, AS dapat mengenakan tarif lebih tinggi.

  3. 3. Seoul pertimbangkan kelayakan proyek LNG Alaska

    Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung
    Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (commons.wikimedia.org/Republic of Korea)

    Dilansir The Korea Herald, kehati-hatian Korsel terhadap proyek LNG Alaska terutama berkaitan dengan keekonomiannya. Pengembang utama proyek, Glenfarne Group, memperkirakan biaya pembangunan mencapai 44,5 miliar dolar AS (setara Rp796,04 triliun) hingga 54,5 miliar dolar AS (setara Rp974,92 triliun). 

    Bahkan, Reuters melaporkan bahwa biaya per unit kapasitas produksi tahunannya akan lebih dari dua kali lipat biaya banyak proyek LNG di Pantai Teluk AS baru-baru ini.

    Proyek tersebut membutuhkan jalur pipa sepanjang 800 mil atau 1.287 kilometer dari North Slope di Alaska menuju Nikiski serta fasilitas pengolahan dan terminal pencairan gas.

    Presiden Korsel Lee Jae Myung mengatakan pada September bahwa kelayakan komersial menjadi salah satu persoalan dalam negosiasi dengan Washington, termasuk mengenai pembagian keuntungan dan penanganan kerugian dari proyek yang tidak menguntungkan.

    Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Korsel Kim Jung Kwan mengatakan, negaranya tidak seharusnya menanamkan modal pada proyek yang tidak memenuhi standar komersial. Namun, ia mengakui bahwa penarikan diri dari proyek yang tercakup dalam kesepakatan dapat memicu tekanan tarif baru dari AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More