Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Inflasi Hanya Naik Beberapa Persen, Tapi Kebutuhan Terasa Mahal?

5 min read
Inflasi Hanya Naik Beberapa Persen, Tapi Kebutuhan Terasa Mahal?
Ilustrasi inflasi (magnific.com)
  • Data CPI AS September 2025 mencatat inflasi tahunan 3%, tetapi angka rata-rata ini tidak selalu mencerminkan kenaikan biaya yang dirasakan tiap rumah tangga.
  • Tekanan harga berbeda menurut komposisi belanja, pendapatan, dan lokasi; sewa, makanan, energi, serta transportasi dapat menyerap porsi anggaran besar dan naik dengan laju berbeda.
  • Untuk merespons biaya hidup, individu dapat meninjau pengeluaran, meningkatkan pendapatan, serta mempertimbangkan penempatan dana sesuai tujuan, likuiditas, dan toleransi risiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika pemerintah mengumumkan angka inflasi, mungkin kamu bertanya-tanya mengapa kenaikan tersebut terasa jauh lebih besar dalam kehidupan sehari-hari. Secara statistik, inflasi mungkin hanya berada di kisaran beberapa persen. Namun, ketika harga sewa rumah, bahan makanan, bensin, listrik, dan kebutuhan rutin lainnya naik bersamaan, dampaknya terhadap anggaran rumah tangga bisa terasa jauh lebih berat.

Data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk September 2025 menunjukkan bahwa harga barang dan jasa secara keseluruhan meningkat 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut merupakan rata-rata dari berbagai kategori pengeluaran, sehingga belum tentu menggambarkan apa yang dialami setiap orang.

Julien Brault, pendiri Moose Money, menjelaskan kepada GOBankingRates bahwa inflasi memang tidak dirasakan secara sama oleh semua orang. Pengeluaran, lokasi tempat tinggal, dan tingkat pendapatan masing-masing individu dapat menentukan seberapa besar tekanan kenaikan harga yang benar-benar dirasakan.

  1. 1. Inflasi berbeda di setiap kategori

    Ilustrasi belanja (freepik.com)
    Ilustrasi belanja (freepik.com)

    Angka inflasi resmi merupakan rata-rata dari berbagai kategori barang dan jasa. Padahal, setiap kategori bisa mengalami perubahan harga yang berbeda. Sebagai contoh, harga makanan naik sekitar 3,1 persen secara tahunan, sementara harga energi meningkat 2,8 persen. Artinya, meskipun angka inflasi keseluruhan berada di level 3 persen, pengalaman setiap rumah tangga bisa sangat berbeda tergantung pada barang dan jasa yang paling banyak mereka beli.

    “Inflasi bukan satu pengalaman yang sama bagi semua orang,” ujar Brault. Menurutnya, tingkat inflasi yang dirasakan seseorang sangat bergantung pada apa yang mereka beli, tempat tinggal, serta pendapatan mereka.

    Jika sebagian besar anggaran digunakan untuk membayar sewa, membeli kebutuhan makanan, bahan bakar, atau membayar tagihan utilitas, kenaikan harga pada kategori-kategori tersebut akan langsung terasa. Rumah tangga berpenghasilan lebih rendah biasanya mengalokasikan porsi pendapatan yang lebih besar untuk kebutuhan pokok, sehingga kenaikan harga dapat memberikan tekanan yang lebih cepat dan signifikan terhadap keuangan mereka.

    Dengan kata lain, angka inflasi nasional belum tentu sama dengan “inflasi pribadi” yang dirasakan setiap orang.

  2. 2. Lokasi tempat tinggal juga berpengaruh

    Uang
    Ilustrasi uang (freepik.com)

    Selain jenis pengeluaran, lokasi tempat tinggal juga dapat menentukan seberapa besar dampak inflasi terhadap keuangan seseorang. Harga barang dan jasa dipengaruhi oleh kondisi pasokan dan permintaan. Di wilayah dengan jumlah penduduk yang besar, biaya tempat tinggal dan kebutuhan lainnya dapat mengalami tekanan harga yang berbeda dibandingkan daerah lain.

    “Lokasi juga berpengaruh,” kata Brault. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga perumahan dan energi dapat sangat berbeda antara satu kota dengan kota lainnya. Akibatnya, dua orang dengan gaji yang sama belum tentu merasakan tekanan finansial yang sama.

    Di kota-kota besar, tingginya jumlah penduduk dan permintaan dapat membuat sejumlah biaya menjadi lebih mahal. Namun, masyarakat di daerah yang lebih kecil atau pedesaan juga tidak selalu terbebas dari kenaikan harga.

    Jumlah bisnis yang lebih sedikit berarti persaingan antarpenjual bisa lebih rendah. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat memberikan ruang lebih besar bagi bisnis yang ada untuk menentukan harga. Karena itu, ketika membicarakan dampak inflasi, penting untuk melihat bukan hanya angka nasional, tetapi juga kondisi ekonomi di wilayah tempat seseorang tinggal.

  3. 3. Coba periksa kembali pola pengeluaran

    Menghitung uang
    Ilustrasi menghitung uang (freepik.com)

    Ada alasan lain mengapa inflasi bisa terasa lebih tinggi daripada angka resmi: pola pengeluaran pribadi. Kebutuhan seperti tempat tinggal, makanan, dan energi memang menjadi bagian penting dari sebagian besar anggaran rumah tangga. Namun, setiap orang memiliki komposisi pengeluaran yang berbeda.

    Salah satu cara sederhana untuk mengetahuinya adalah dengan melihat kembali tagihan atau laporan transaksi kartu kredit beberapa bulan terakhir. Dengan melakukan ini, kamu dapat mengetahui kategori mana yang menyerap sebagian besar pendapatan dan apakah harga pada kategori tersebut mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

    “Tidak semua harga naik dengan kecepatan yang sama,” jelas Brault. Beberapa kategori dapat mengalami lonjakan harga yang besar, sementara kategori lainnya hanya naik sedikit atau bahkan mengalami penurunan. Semua perubahan tersebut kemudian digabungkan ke dalam satu angka CPI.

    Biaya tempat tinggal memiliki pengaruh besar karena menjadi salah satu pengeluaran terbesar bagi banyak rumah tangga. Sementara itu, harga makanan dan bahan bakar cenderung berubah lebih cepat, sehingga kenaikannya sering kali lebih mudah diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari.

    Itulah sebabnya angka inflasi 3 persen tidak selalu terasa seperti kenaikan 3% bagi setiap orang.

  4. 4. Bagaimana cara mengimbangi inflasi?

    Menerima gaji
    Ilustrasi menerima gaji (freepik.com)

    Inflasi bukan sesuatu yang dapat dikendalikan oleh individu. Namun, cara seseorang merespons kenaikan biaya hidup masih dapat memengaruhi kondisi keuangannya dalam jangka panjang. Menurut Brault, salah satu cara utama untuk menghadapi inflasi adalah meningkatkan pendapatan.

    Hal ini bisa dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, mengembangkan keterampilan yang memiliki nilai lebih di pasar kerja, hingga membangun sumber penghasilan tambahan melalui pekerjaan sampingan.

    Di sisi lain, terlalu lama menyimpan seluruh tabungan dalam bentuk uang tunai juga dapat menjadi masalah ketika harga terus meningkat. Meskipun uang tersebut tetap aman secara nominal, daya belinya dapat menurun dari waktu ke waktu.

    Karena itu, sebagian dana dapat dipertimbangkan untuk ditempatkan pada instrumen yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi daripada tingkat inflasi dalam jangka panjang. Pilihan instrumennya tentu perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan toleransi risiko masing-masing orang.

  5. 5. Jangan hanya melihat angka inflasi

    Ilustrasi inflasi (freepik.com)
    Ilustrasi inflasi (freepik.com)

    Inflasi memang mudah terlihat sebagai satu angka yang diumumkan setiap bulan. Namun, dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari jauh lebih personal daripada angka tersebut.

    Seseorang yang sebagian besar penghasilannya digunakan untuk sewa, makanan, dan transportasi mungkin merasakan tekanan yang berbeda dibandingkan orang yang memiliki biaya tempat tinggal lebih rendah. Bahkan dua orang dengan pendapatan yang sama dapat mengalami kondisi finansial yang berbeda karena lokasi dan pola pengeluaran mereka.

    Karena itu, memahami inflasi sebaiknya tidak berhenti pada melihat angka nasional. Perhatikan juga ke mana uangmu pergi, kategori mana yang paling banyak mengalami kenaikan harga, dan bagaimana pendapatanmu berkembang dari waktu ke waktu.

    Pada akhirnya, menghadapi inflasi bukan hanya soal mencari cara untuk mengurangi pengeluaran. Meningkatkan pendapatan, mengevaluasi kebiasaan belanja, menjaga dana tetap produktif, dan membuat keputusan investasi yang sesuai dengan tujuan jangka panjang dapat membantu menjaga daya beli.

    Inflasi mungkin berada di luar kendali kita, tetapi cara kita mengelola uang di tengah kenaikan harga masih berada dalam kendali kita. Dengan memahami tekanan yang paling nyata terhadap keuangan pribadi dan mengambil langkah secara lebih proaktif, kita dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk menghadapi biaya hidup yang terus berubah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More