Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jumlah Tertanggung Asuransi Jiwa Melonjak Jadi 118 Juta Orang
Ilustrasi asuransi (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Industri asuransi jiwa mencatat pertumbuhan positif pada kuartal I 2026 dengan premi baru naik 5 persen dan jumlah tertanggung melonjak 20,9 persen menjadi 118,28 juta orang.
  • Klaim kesehatan meningkat 15,3 persen menjadi Rp6,72 triliun, sementara klaim akhir kontrak melonjak hingga 112 persen, menandakan kebutuhan perlindungan masyarakat makin tinggi.
  • Total aset industri mencapai Rp652,89 triliun dan investasi tumbuh 5,7 persen, menunjukkan fondasi keuangan yang kuat serta komitmen menjaga kepercayaan publik melalui transformasi berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang sekarang punya asuransi jiwa, sudah 118 juta orang. Uangnya juga banyak sekali karena orang mau punya perlindungan kalau sakit atau meninggal. Pak Albertus dan teman-temannya di AAJI bilang asuransi tetap kuat dan bisa bayar klaim ke orang-orang. Sekarang mereka terus kerja supaya semua orang makin percaya dan terlindungi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Industri asuransi jiwa mencatat sinyal positif pada awal 2026. Di tengah dinamika ekonomi yang masih berlangsung, premi bisnis baru industri asuransi jiwa tumbuh 5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp27,90 triliun pada kuartal I-2026.

Tak hanya itu, jumlah tertanggung melonjak 20,9 persen menjadi 118,28 juta orang. Capaian ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan finansial semakin meningkat.

Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Albertus Wiroyo mengatakan, industri asuransi jiwa tetap menjalankan perannya sebagai penyedia perlindungan keuangan bagi masyarakat.

"Sepanjang Januari hingga Maret 2026, industri asuransi jiwa membukukan total pendapatan keseluruhan sebesar Rp47,63 triliun. Di saat yang sama, industri juga tetap menjalankan komitmennya melalui pembayaran klaim dan manfaat sebesar Rp38,73 triliun kepada masyarakat atau tumbuh 1,5 persen yoy," ujar Albertus dalam pernyataan resminya, Selasa (2/6/2026)

Menurutnya, kinerja tersebut menunjukkan industri mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pemenuhan kewajiban kepada pemegang polis.

1. Asuransi tradisional masih jadi andalan masyarakat

ilustrasi asuransi (IDN Times/Aditya Pratama)

Dari sisi pendapatan premi, industri mencatat total premi unweighted yang relatif stabil pada angka Rp47,27 triliun.

Produk asuransi jiwa tradisional masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan premi mencapai Rp30,10 triliun. Hal ini menunjukkan masyarakat masih memprioritaskan perlindungan dasar dalam perencanaan keuangannya.

Sementara itu, produk unit link tetap memiliki pangsa pasar yang signifikan sebagai salah satu pilihan perlindungan bagi masyarakat.

Pada kanal distribusi, bancassurance masih menjadi penyumbang premi terbesar dengan nilai Rp18,54 triliun. Kanal alternatif menyusul dengan premi Rp14,44 triliun, sedangkan kanal keagenan tumbuh 1,2 persen menjadi Rp14,29 triliun.

2. Klaim kesehatan naik dua digit, kebutuhan perlindungan makin tinggi

Ilustrasi Asuransi (IDN Times/Aditya Pratama)

AAJI mencatat dinamika menarik dari sisi pembayaran klaim. Klaim akhir kontrak melonjak hingga 112 persen menjadi Rp10,45 triliun. Sebaliknya, klaim surrender turun 30,4 persen menjadi Rp13,37 triliun.

Penurunan klaim surrender dinilai mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk mempertahankan polis asuransi sebagai perlindungan jangka panjang.

Di sisi lain, klaim meninggal dunia tercatat sebesar Rp2,83 triliun. Sementara itu, klaim kesehatan meningkat 15,3 persen menjadi Rp6,72 triliun.

Ketua Bidang Literasi dan Perlindungan Konsumen AAJI, Wianto Chen menilai, kenaikan klaim kesehatan menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan.

"Adanya kenaikan klaim kesehatan menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan masyarakat masih tinggi, dan perlindungan asuransi kesehatan tetap memainkan peran yang sangat penting. Karena itu, industri saat ini terus beradaptasi melalui transformasi yang sejalan dengan kebijakan regulator, agar perlindungan kesehatan tetap dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat dalam jangka panjang," tutur Wianto.

3. Aset industri tembus Rp652,89 triliun

ilustrasi asuransi jiwa (freepik.com/creativeart)

Di tengah tantangan pasar, industri asuransi jiwa juga mencatat penguatan fundamental keuangan. Total aset industri tumbuh 5,8 persen menjadi Rp652,89 triliun pada kuartal I 2026.

Sementara itu, total investasi meningkat 5,7 persen menjadi Rp571,70 triliun.

Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri dan Internasional AAJI, Handojo G Kusuma, mengatakan pertumbuhan aset dan investasi menunjukkan fondasi industri tetap kuat.

"Total aset industri asuransi jiwa pada kuartal pertama 2026 meningkat 5,8 persen menjadi Rp652,89 triliun. Sementara total investasi tumbuh 5,7 persen menjadi Rp571,70 triliun. Peningkatan aset dan investasi menunjukkan bahwa secara fundamental industri tetap memiliki fondasi keuangan yang solid dalam menjalankan kewajibannya kepada pemegang polis," ujar dia.

AAJI juga menyatakan industri terus memperkuat transformasi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, sertifikasi tenaga pemasar, penguatan permodalan, hingga implementasi regulasi baru di sektor asuransi kesehatan.

Di sisi lain, Albertus menegaskan berbagai langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kepercayaan publik terhadap industri asuransi jiwa.

"Berbagai langkah ini merupakan bagian dari upaya industri untuk terus memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan perlindungan asuransi jiwa tetap relevan dan berkelanjutan di masa depan," katanya.

Editorial Team

Related Article