Shinta Kamdani Ungkap Kondisi Terkini Industri Manufaktur
- Indikator manufaktur seperti PMI mulai membaik setelah sebelumnya berkontraksi, tetapi pemulihan industri pengolahan belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan ekonomi nasional.
- Industri pengolahan tumbuh 4,5 persen secara tahunan, masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional; delapan dari 16 subsektor juga melambat dibandingkan kuartal pertama.
- Lima subsektor masih mengalami kontraksi secara tahunan maupun kuartalan, menandakan pertumbuhan manufaktur belum merata dan perlu perhatian pemerintah karena kontribusinya besar terhadap PDB.
Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani menyoroti kondisi industri manufaktur Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang masih menjadi perhatian pemerintah.
Menurut Shinta, sejumlah indikator manufaktur memang mulai menunjukkan perbaikan. Namun, kondisi industri pengolahan secara keseluruhan belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan ekonomi nasional, karena masih ada sejumlah subsektor yang mengalami perlambatan hingga kontraksi.
“Saya juga bisa sharing sedikit ya, dari segi pertumbuhan manufaktur, ini yang sebenarnya menjadi kunci kita. Saya bisa share beberapa data, karena sebenarnya kalau kita lihat dari sisi manufaktur, data yang terbaru itu memang menunjukkan kondisi yang mulai membaik dari segi PMI, manufaktur, kemudian kita lihat sebelumnya kontraksi ini, ada sudah mulai tumbuh lagi,” ujar Shinta dalam acara Ngobrol Seru by IDN Times, Jumat (14/8/2026).
Meski mulai membaik, Shinta mengatakan, pertumbuhan industri pengolahan masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.
“Tapi industri pengolahan secara keseluruhan ini tumbuhnya 4,5 persen year-on-year. Jadi masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Shinta juga membeberkan kondisi di 16 subsektor industri pengolahan. Dari jumlah tersebut, delapan subsektor tercatat tumbuh lebih lambat dibandingkan kuartal pertama.
“Yang jadi perhatian ini, dari 16 subsektor industri pengolahan, 8 subsektor tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan kuartal 1,” ujar Shinta.
Selain itu, ketika dibandingkan berdasarkan pertumbuhan year-on-year dan quarter-to-quarter, masih terdapat lima subsektor yang mengalami kontraksi. Menurut Shinta, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan manufaktur belum terjadi secara merata.
“Jadi, kita mesti lihat tidak rata ini ternyata. Kita contoh industri pengolahan saja, ada yang mungkin tumbuh, tapi juga banyak yang masih kontraksi,” katanya.
Shinta menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah karena industri pengolahan memiliki kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Jadi, ini kondisi di lapangan kalau ditanya tidak baik-baik saja. Ini yang mungkin menjadi perhatian, karena bagaimanapun juga kontribusi daripada industri pengolahan itu termasuk yang paling besar untuk PDB, untuk pertumbuhan,” ujar Shinta.
“Jadi, bagaimanapun juga itu tetap harus menjadi dasar untuk menjadi perhatian,” lanjutnya.









