Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), mengurai empat faktor yang dinilai turut memengaruhi kondisi sosial-ekonomi Indonesia. Keempat faktor tersebut di antaranya perang di berbagai kawasan, bencana alam, korupsi, dan kualitas anggaran serta kebijakan pemerintah.
Menurut dia, tekanan terhadap perekonomian Indonesia tidak dapat dilepaskan dari situasi global yang penuh ketidakpastian. Perang di berbagai kawasan, ancaman bencana alam, korupsi, serta kebijakan belanja negara menjadi sejumlah faktor yang perlu diantisipasi secara serius.
Hal itu disampaikan JK dalam kuliah bertajuk Leadership Amidst Uncertainty : Lessons from Experience atau “Kepemimpinan di Tengah Ketidakpastian : Pelajaran dari Pengalaman” di Belfer Case Study Room, CGIS South, Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Kamis (22/10/2026) waktu setempat.
Adapun pemberian kuliah umum di Harvard ini merupakan bagian dari rangkaian agenda akademik JK di Amerika Serikat. Sebelumnya, JK menghabiskan sekitar dua pekan di Northern Illinois University (NIU), DeKalb, Illinois, melalui program Vice President Kalla Lecture Series.
Jusuf Kalla Ungkap 4 Faktor yang Menekan Ekonomi Indonesia

Take a Deeper Read
1. Bencana hingga perang pengaruhi tekanan ekonomi nasonal
JK menyoroti kompleksitas geopolitik dunia yang turut mempengaruhi tekanan ekonimi nasional. Konflik di berbagai kawasan dapat mengganggu pasokan minyak dan komoditas lainnya.
Gangguan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga, menekan daya beli masyarakat, dan menambah beban perekonomian nasional.
“Kita tidak bisa menganggap persoalan global sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ketika pasokan terganggu dan harga naik, rakyat yang merasakan dampaknya secara langsung,” ujar JK.
Kemudian, JK juga bicara mengenai ancaman bencana alam. Kebakaran hutan dan fenomena El Nino dapat mengganggu produktivitas, ketersediaan air, serta produksi pangan. JK mengingatkan pemerintah agar mengantisipasi potensi kekurangan beras melalui perencanaan yang matang dan tidak meremehkan risiko yang mungkin terjadi.
2. JK soroti kualitas anggaran dan kebijakan pemerintah
Terakhir, JK menyoroti pentingnya kualitas kebijakan publik dan penentuan prioritas anggaran. Ia menekankan pentingnya perencanaan yang sistematis dengan mempertimbangkan kebutuhan paling mendesak serta kemampuan keuangan negara.
Menurutnya, pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan belanja dan memastikan setiap pengeluaran sesuai dengan kapasitas fiskal. Pengeluaran yang tidak terukur dan ketergantungan berlebihan pada utang berisiko menambah beban keuangan negara pada masa mendatang.
“Belanja negara harus disusun berdasarkan skala prioritas dan kemampuan keuangan. Jangan sampai pengeluaran terlalu besar, sementara kemampuan membayar terbatas. Utang hari ini pada akhirnya menjadi tanggungan generasi mendatang,” kata JK.
3. JK terima penghargaan khusus dari Northern Illinois University
Setelah dua pekan mengajar di Northern Illinois University (NIU), Jusuf Kalla menutup rangkaian kunjungannya dengan menerima penghargaan khusus dari universitas tersebut. Penghargaan itu diberikan dalam acara pelepasan JK sebagai dosen tamu pada Selasa (20/10/2026) waktu DeKalb, Illinois, Amerika Serikat.
Presiden NIU, Dr. Lisa Freeman, para dekan, dan dosen senior hadir dalam acara tersebut. Lisa menyampaikan, kehadiran JK selama dua pekan di NIU menjadi simbol kuatnya hubungan Indonesia dan Amerika Serikat, sekaligus mempertemukan beragam perspektif dari berbagai negara.
“Selama dua pekan berada di Northern Illinois University, kehadiran Jusuf Kalla menjadi jembatan kokoh yang menghubungkan Indonesia dan Amerika Serikat," kata dia.
"Bahkan, lebih dari itu, beliau menjadi jembatan dunia karena mahasiswa NIU datang dari berbagai penjuru dunia. Kehadiran beliau memberikan kesempatan bagi sivitas akademika kami untuk belajar langsung dari pengalaman dan perspektif seorang pemimpin dengan pengalaman global,” imbuhnya.
Selama berada di NIU, JK mengisi rangkaian kuliah yang membahas berbagai persoalan, mulai dari demokrasi dan otonomi daerah, penyelesaian konflik, hingga tantangan transisi energi hijau. Ia berbagi pengalaman Indonesia dalam menghadapi persoalan pembangunan dan perdamaian kepada mahasiswa serta sivitas akademika universitas tersebut.
Curated For You
- Perempuan Penggerak Koperasi Tangguh di Tepi Rel20 Oct 2026, 09:20 WIB
- CPO Makin Mahal! Ini 4 Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia23 Oct 2026, 12:08 WIB
- Dipa Andika Bongkar Soal Perizinan dan Produksi Operasi Pesta Copet di Pestapora04 Sep 2026, 08:59 WIB
- Singgung Data IMF, Prabowo Sebut Ekonomi RI Terbesar Ketujuh Dunia22 Oct 2026, 15:42 WIB
- Indikator Ekonomi Terjaga, Ini 4 Tips untuk Pemerintah22 Oct 2026, 14:57 WIB