Kisah Lulusan ITB Bangun Bisnis AI, Tembus Jaringan Global Endeavor

- Dani Yogatama, lulusan ITB dan mantan peneliti Google DeepMind, mendirikan Reka pada 2022 untuk mengembangkan model AI multimodal bagi pasar global.
- Reka mencapai valuasi US$1 miliar setelah menerima pendanaan US$110 juta dari NVIDIA dan Snowflake pada 2025, sambil mengembangkan produk AI yang efisien.
- Dani terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia ke-120, membuka akses Reka ke jaringan mentor, investor, dan mitra global untuk ekspansi serta pengembangan organisasi.
Jakarta, IDN Times – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia masih banyak ditandai oleh pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan layanan bisnis. Namun, Dani Yogatama, Co-Founder sekaligus CEO Reka, mengambil langkah berbeda dengan membangun model AI yang dikembangkan untuk bersaing di pasar global.
Reka merupakan perusahaan teknologi yang mengembangkan frontier AI models multimodal, yakni model AI yang mampu memproses teks, gambar, audio, dan video dalam satu sistem. Didirikan pada 2022, perusahaan ini telah mencapai valuasi US$1 miliar setelah memperoleh pendanaan US$110 juta dari NVIDIA dan Snowflake pada 2025.
Dani kini resmi terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia ke-120 melalui International Selection Panel (ISP) Endeavor ke-109 di Montreal, Kanada. Pencapaian ini membuka akses bagi Dani ke jaringan global mentor, pengusaha, dan investor untuk mendukung pengembangan bisnis Reka ke tahap berikutnya.
Berikut tiga hal yang perlu diketahui dari perjalanan bisnis Dani Yogatama dan Reka di industri AI global.
1. Berbekal pengalaman di Google DeepMind, Dani bangun Reka

Dani Yogatama, Co-Founder sekaligus CEO Reka. (Dok. Endeavor) Perjalanan Dani membangun Reka didukung pengalaman akademik dan profesional di bidang kecerdasan buatan. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini melanjutkan pendidikan di University of Tokyo sebagai Monbukagakusho Fellow, kemudian meraih gelar PhD dari School of Computer Science, Carnegie Mellon University.
Sebelum mendirikan Reka, Dani bekerja di Baidu Silicon Valley AI Lab dan menghabiskan enam tahun sebagai Senior Staff Research Scientist di Google DeepMind, London. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk membangun perusahaan yang berfokus pada pengembangan teknologi AI di tingkat dasar.
Reka mengembangkan sejumlah produk, di antaranya Reka Flash, model bahasa besar multimodal dengan 21 miliar parameter yang dapat memahami video, gambar, teks, dan audio. Perusahaan juga menghadirkan Reka Vision untuk pencarian dan penalaran berbasis data visual, serta Reka Research, platform agentic AI yang menjawab pertanyaan kompleks melalui riset berbasis web dan dokumen.
Selain itu, Reka mengembangkan Reka Quant untuk meningkatkan efisiensi model. Upaya ini menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap teknologi AI yang tidak hanya memiliki kemampuan riset kuat, tetapi juga efisien dari sisi komputasi dan biaya penggunaan.
“AI berkembang sangat cepat. Tetapi membangun model yang mampu bersaing di lapisan paling dasar membutuhkan kombinasi riset, talenta, infrastruktur, dan kemampuan untuk membawa teknologi tersebut ke penggunaan nyata. Kami ingin membangun teknologi yang bukan hanya kuat secara riset, tetapi juga efisien dan dapat digunakan perusahaan di berbagai industri,” ujar Dani.
2. Valuasi Reka tembus US$1 miliar setelah pendanaan
Reka telah mencapai valuasi US$1 miliar setelah mendapatkan pendanaan US$110 juta dari NVIDIA dan Snowflake pada 2025. Pencapaian tersebut menempatkan perusahaan sebagai salah satu pelaku teknologi AI yang mengembangkan model sendiri untuk bersaing di pasar global.
Berbeda dari perusahaan yang hanya mengadopsi teknologi AI untuk mendukung operasional, Reka berfokus pada pengembangan model multimodal yang dapat menjadi fondasi bagi berbagai aplikasi dan kebutuhan bisnis.
Strategi ini juga mencakup upaya membuat model AI lebih efisien agar dapat digunakan dalam skala besar. Seiring teknologi AI bergerak dari tahap eksperimen menuju penerapan di perusahaan, kebutuhan terhadap efisiensi komputasi dan biaya inferensi menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan bisnis.
Dani menegaskan bahwa fokus perusahaan tetap pada pengembangan teknologi untuk pasar internasional.
“Fokus kami tetap jelas, membangun dan mengembangkan teknologi AI frontier untuk pasar global. Endeavor membuka akses langsung ke mitra bisnis dan penasihat yang tepat, sehingga kami bisa bergerak lebih cepat. Seiring dengan semakin luasnya jejak global kami, kami juga ingin berkontribusi kembali kepada komunitas founder dan mendukung generasi berikutnya dari .perusahaan deep-tech,” ujar Dani.
3. Masuk jaringan Endeavor untuk memperluas bisnis global

Endeavor Outliers 2026 Soroti 13 Startup Tangguh 2026. (Dok. Endeavor Indonesia) Terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur memberikan Dani akses ke jaringan global mentor, entrepreneur, dan investor Endeavor. Bagi Reka, dukungan tersebut dapat membantu perusahaan menghadapi tantangan pertumbuhan berikutnya, mulai dari ekspansi pasar dan pengembangan kemitraan strategis hingga pembangunan organisasi global.
Seleksi Endeavor dilakukan melalui International Selection Panel, tahap akhir dari proses seleksi yang berlangsung selama 12–18 bulan. Dalam proses tersebut, para pendiri perusahaan dengan rekam jejak bisnis dan ambisi global menjalani wawancara intensif dengan panelis bisnis internasional sebelum kandidat terpilih ditentukan.
Dalam ISP ke-109 di Montreal, Dani berdiskusi dengan investor dan entrepreneur dari berbagai negara. Proses tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi strategi dan asumsi bisnis Reka dalam menghadapi fase pertumbuhan berikutnya.
“Duduk bersama para pendiri dan operator berpengalaman membantu kami menajamkan kembali asumsi tentang apa yang benar-benar dibutuhkan untuk membawa Reka ke skala operasional berikutnya. Kami datang bukan hanya untuk menceritakan apa yang sudah kami bangun, tetapi juga untuk mendapatkan perspektif tentang bagaimana teknologi ini bisa tumbuh menjadi bisnis global,” kata Dani.
Managing Director Endeavor Indonesia, Monika Rudijono, menilai kehadiran Dani memperluas representasi sektor teknologi Indonesia dalam jaringan tersebut, terutama di bidang deep tech.
“Indonesia tidak kekurangan talenta AI kelas dunia. Yang selama ini kurang adalah jalur bagi talenta itu untuk membangun perusahaan global dan tetap terhubung ke ekosistem asalnya. Dani membuktikan keduanya bisa berjalan bersamaan. Keberadaan Dani di Endeavor menambahkan satu simpul yang belum dimiliki ekosistem ini. Jika selama ini sebagian besar Endeavor Entrepreneur Indonesia datang dari sektor konsumen, fintech, dan logistik, kini hadir seorang Endeavor Entrepreneur di sektor deep tech di lapisan paling dasar.”
Terpilihnya Dani menambah jumlah Endeavor Entrepreneur Indonesia menjadi 120 orang. Secara global, Endeavor menaungi lebih dari 3.100 entrepreneur di lebih dari 45 negara yang telah menciptakan lebih dari 6,1 juta lapangan kerja dan menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$111 miliar.
Bagi ekosistem teknologi Indonesia, perjalanan Reka menunjukkan peluang bagi talenta lokal untuk tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga membangun teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan di berbagai negara.





















