Pergerakan saham di Amerika Serikat (AS) menunjukkan perubahan menarik ketika saham semikonduktor melemah, sementara Berkshire Hathaway milik Warren Buffett justru mencatatkan kenaikan. Dalam periode sekitar tiga minggu hingga 20 Oktober 2026, saham chip turun sekitar 15 persen, sedangkan saham Berkshire naik sekitar 7 persen. Perbedaan kinerja ini memunculkan pertanyaan apakah investor mulai mengurangi eksposur terhadap teknologi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).
Berkshire Kalahkan Saham Chip, Apakah Ini Sinyal AI Bubble?

- Dalam tiga minggu hingga 20 Oktober 2026, saham semikonduktor turun sekitar 15%, sementara Berkshire Hathaway naik 7% dan saham kelas B mencetak rekor penutupan.
- Selisih kinerja sekitar 22 poin persentase mengingatkan pola Oktober 2001 pasca-dot-com, tetapi belum membuktikan AI mengalami gelembung karena kondisi bisnis perusahaan AI beragam.
- Investor menyoroti valuasi serta belanja infrastruktur AI; pendapatan yang tak memenuhi harapan dapat menekan laba dan arus kas, sedangkan pergerakan Berkshire bukan sinyal pasti pasar.
Pergerakan Berkshire kalahkan saham chip tersebut juga mengingatkan pasar pada pola yang pernah muncul ketika gelembung dot-com pecah pada awal 2000-an. Kendati demikian, kemiripan pola harga tidak otomatis membuktikan bahwa pasar AI sedang mengalami gelembung. Untuk memahaminya, kita perlu melihat sejumlah faktor yang memengaruhi saham teknologi dan perilaku investor.
1. Saham chip melemah ketika Berkshire mencatatkan rekor

ilustrasi chip (unsplash.com/Immo Wegmann) Saham semikonduktor mengalami tekanan ketika investor mulai mempertimbangkan kembali prospek perusahaan teknologi yang berkaitan dengan AI. Berdasarkan data dalam laporan Yahoo Finance, indeks saham semikonduktor turun sekitar 15 persen selama tiga minggu, sedangkan saham Berkshire Hathaway naik sekitar 7 persen. Pada 20 Oktober 2026, saham Berkshire kelas B juga mencatatkan rekor harga penutupan setelah terakhir kali mencapai rekor pada Mei 2025.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa saham dari sektor yang berbeda dapat mengalami pergerakan berlawanan dalam periode yang sama. Berkshire memiliki bisnis yang tersebar di berbagai bidang, sehingga kinerjanya tidak hanya bergantung pada industri semikonduktor. Meski demikian, kenaikan Berkshire tidak membuktikan bahwa seluruh investor sedang meninggalkan saham teknologi atau bahwa Berkshire pasti lebih menguntungkan ke depannya.
2. Kemiripan dengan era dot-com memunculkan kekhawatiran

ilustrasi domain website (magnific.com/magnific) Laporan tersebut mencatat bahwa selisih kinerja Berkshire dan saham semikonduktor selama 12 sesi perdagangan mencapai sekitar 22 poin persentase. Kombinasi saham chip yang turun setidaknya 14 persen sementara Berkshire naik setidaknya 7 persen terakhir kali muncul pada Oktober 2001. Periode tersebut berdekatan dengan masa setelah gelembung dot-com pecah, ketika banyak saham perusahaan internet mengalami penurunan tajam.
Gelembung dot-com terjadi ketika antusiasme terhadap bisnis internet mendorong harga banyak saham teknologi melampaui nilai yang dapat didukung oleh kinerja bisnisnya. Ketika ekspektasi pertumbuhan tidak terpenuhi, banyak saham mengalami koreksi besar. Namun, perusahaan AI saat ini memiliki model bisnis dan kondisi keuangan yang beragam, sehingga investor tidak bisa menyamakan seluruh perkembangan AI dengan gelembung internet pada masa lalu.
3. Valuasi dan belanja AI menjadi perhatian investor

ilustrasi artificial intelligence (magnific.com/DC Studio) Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah besarnya dana yang dikeluarkan perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI. Pengembangan pusat data, pembelian chip, dan penyediaan kapasitas komputasi membutuhkan investasi besar. Jika pendapatan dari layanan AI tidak tumbuh sesuai harapan, perusahaan dapat menghadapi tekanan terhadap keuntungan dan arus kasnya.
Investor perlu menilai apakah harga saham sudah mencerminkan prospek pertumbuhan yang realistis. Valuasi yang tinggi tidak otomatis berarti suatu saham mengalami gelembung, tetapi dapat meningkatkan risiko ketika hasil bisnis tidak memenuhi ekspektasi pasar. Kita juga perlu membedakan perusahaan yang sudah menghasilkan keuntungan dari AI dengan perusahaan yang masih membutuhkan investasi besar sebelum memperoleh pendapatan berarti.
4. Pergerakan Berkshire bukan bukti pasti gelembung AI

ilustrasi kenaikan harga (unsplash.com/Arturo Añez) Berkshire Hathaway juga mengalami perubahan dalam penggunaan modalnya di bawah kepemimpinan Greg Abel. Pada kuartal II 2026, perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri senilai sekitar US$4,5 miliar dan mengakhiri 14 kuartal berturut-turut sebagai penjual bersih saham. Pada periode yang sama, simpanan kas Berkshire turun dari rekor sebelumnya sebesar US$397 miliar.
Langkah tersebut menunjukkan perubahan dalam pengelolaan modal perusahaan, tetapi tidak dapat langsung dianggap sebagai sinyal bahwa Buffett atau Abel memperkirakan gelembung AI akan pecah. Dalam enam kejadian historis yang dianalisis dalam laporan tersebut, saham chip memang cenderung lebih tinggi sepekan setelah pola serupa muncul, tetapi lima dari enam kejadian berakhir dengan saham chip lebih rendah setahun kemudian. Jumlah kejadian yang terbatas dan kesamaan kondisi pasar pada beberapa periode membuat pola tersebut tidak cukup untuk meramalkan arah pasar berikutnya.
Berkshire kalahkan saham chip menjadi pengingat bahwa tren investasi yang populer tetap memiliki risiko. Kemiripan dengan era dot-com layak diperhatikan, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa gelembung AI pasti akan pecah. Sebelum mengambil keputusan, kita perlu menilai valuasi, keuntungan, arus kas, dan kemampuan perusahaan untuk mengubah investasi AI menjadi pendapatan nyata, bukan hanya mengikuti pergerakan harga dalam jangka pendek.







![[QUIZ] Tebak Tagline Bank di Indonesia, Uji Pengetahuanmu!](https://image.idntimes.com/post/20261015/20220128-banner-bca-siaranpers_36d0f881-bd40-42b3-99bb-990bd1a644c6.jpg)














