Kasus Penipuan Gegara AI di Sektor Keuangan Melonjak 1.550 Persen

- Penipuan berbasis AI di sektor keuangan semakin canggih dan menimbulkan kerugian finansial serta reputasi perusahaan.
- OJK mencatat total kerugian masyarakat akibat kejahatan keuangan mencapai Rp2,5 triliun, terutama terkait penipuan dan kecurangan.
Jakarta, IDN Times - Kasus penipuan berbasis kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) di sektor keuangan Indonesia mengalami lonjakan secara signifikan jelang akhir 2024. Dalam catatan VIDA, kasus penipuan tersebut alami lonjakan sebesar 1.550 persen.
Adapun metode penipuan yang sering terjadi adalah deepfake dan penipuan berbasis AI, pengambilalihan akun (account takeovers/ATOs), penipuan identitas sintetis, dan lainnya.
"Lonjakan kasus penipuan berbasis AI ini menjadi peringatan tegas bagi kita semua. Jika tidak segera ditangani, kerugian finansial dan reputasi yang ditimbulkan akan semakin besar. Industri keuangan harus beradaptasi dan memperkuat pertahanan mereka terhadap ancaman ini. Kasus-kasus seperti penggunaan KTP palsu untuk pengajuan pinjaman dan kredit ilegal telah menciptakan kerugian besar bagi konsumen sekaligus meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi keuangan," ujar Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang dalam pernyataan resminya, Jumat (27/12/2024).
1. Total kerugian yang diderita masyarakat akibat penipuan berbasis AI

Penipuan berbasis AI di sektor keuangan semakin canggih dan menimbulkan kerugian finansial dan reputasi perusahaan.
Dalam catata Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sejak 2022 hingga kuartal I-2024, total kerugian masyarakat akibat kejahatan keuangan mencapai Rp2,5 triliun, khususnya terkait penipuan dan kecurangan (scam dan fraud).
2. Ragam modus kejahatan di berbagai industri keuangan

Dalam industri perbankan dan fintech, teknologi deepfake telah digunakan untuk menipu karyawan agar menyetujui transaksi ilegal, salah satunya melalui manipulasi gambar nasabah yang tampak autentik. Bahkan, pada 2021, sebuah bank di Eropa kehilangan 35 juta dolar AS akibat teknologi deepfake yang sangat meyakinkan.
Tidak hanya itu, serangan phishing tetap menjadi ancaman utama, dengan 41 persen kasus penipuan finansial terkait pembayaran fintech lending atau pinjaman online (pinjol) yang sering mengeksploitasi kelemahan dalam proses otentikasi pengguna.
"Modus ini sering mengeksploitasi kelemahan dalam proses otentikasi pengguna, termasuk melalui pengiriman file APK berbahaya via instant messaging platform atau metode lain yang semakin canggih," kata Victor.
Kemudian di sektor multifinance dan consumer finance, pengambilalihan akun kian marak akibat pencurian data pribadi dari serangan phishing atau kebocoran data. Dampaknya sering kali berupa transaksi tidak sah atau kerugian finansial yang signifikan.
"Selain itu, penipuan identitas sintetis menjadi ancaman yang semakin nyata, di mana pelaku menggunakan data curian atau teknologi deepfake untuk menciptakan identitas palsu demi mendapatkan akses ke produk keuangan. Jenis penipuan ini diperkirakan menyebabkan kerugian global hingga 2 miliar dolar AS per tahun," ujar Victor.
Sementara itu, di industri asuransi, pemalsuan dokumen dan tanda tangan semakin menjadi modus utama dalam mengajukan klaim palsu yang berujung pada kerugian finansial signifikan.
Praktik ini memperburuk situasi dengan meningkatkan risiko klaim ganda dan penipuan lainnya. Kebocoran data pribadi yang baru-baru ini terjadi juga dapat disalahgunakan untuk memperkuat klaim palsu, memperbesar ancaman terhadap stabilitas industri asuransi.
"Sebagai akibatnya, tingginya tingkat penipuan tidak hanya merugikan perusahaan asuransi, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan biaya premi bagi konsumen," kata Victor.
3. Vida Identity Stack

Guna menghadapi ancaman tersebut, VIDA menghadirkan VIDA Identity Stack (VIS) sebagai solusi berbasis teknologi AI yang menawarkan perlindungan menyeluruh. VIS mengintegrasikan teknologi verifikasi identitas berbasis biometrik, otentikasi multifaktor, serta deteksi penipuan yang didukung AI untuk mencegah aksi penipuan sebelum terjadi.
Dengan VIS, Victor menjamin perusahaan dapat memperkuat sistem keamanannya secara signifikan dan memastikan transaksi digital tetap aman, serta terpercaya.
“VIDA Identity Stack bukan hanya solusi teknologi, tetapi juga langkah transformasional dalam melindungi sektor keuangan dari ancaman yang terus berkembang. Kami berkomitmen membantu industri keuangan Indonesia menciptakan ekosistem yang lebih aman, mengurangi risiko, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital," tutur Victor.
VIDA, sambung Victor, menyerukan kepada seluruh pelaku industri keuangan untuk segera mengadopsi teknologi canggih dalam upaya melindungi diri dari ancaman penipuan berbasis AI.
"Kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan regulator diperlukan untuk membangun ekosistem keuangan yang aman dan tepercaya bagi semua pihak," kata dia.


















