ilustrasi influencer (unsplash.com/Taan Huyn)
Meski skalanya mungkin di bawah kategori macro dan mega, micro influencer terkadang justru lebih dilirik brand. Berikut sejumlah alasannya.
Micro influencer biasanya punya jumlah pengikut yang tidak terlalu banyak. Karena itu, mereka punya kesempatan lebih besar untuk berinteraksi langsung dengan audiens, baik lewat komentar, pesan, maupun konten-kontennya.
Kedekatan ini bisa membuat para followers merasa lebih mengenal si influencer. Alhasil, ketika ada produk yang dipromosikan, penyampaiannya juga terasa seperti rekomendasi dari orang yang sudah mereka kenal, bukan sekadar iklan.
Berbekal jumlah pengikutnya yang belum terlalu banyak, micro influencer biasanya punya fokus konten atau niche tertentu. Misalnya khusus seputar kuliner, kecantikan, teknologi, parenting, dan lainnya. Dengan konten yang spesifik, sebagian pengikutnya juga datang karena memiliki ketertarikan terhadap topik tersebut.
Bagi brand, hal ini bisa membuat promosi produknya lebih mudah diarahkan. Jadi, mereka tak hanya mengejar views saja, tetapi mempertimbangkan potensi audiens tersebut menjadi konsumennya.
Dari sisi biaya, micro influencer umumnya juga menawarkan tarif kerja sama yang lebih terjangkau dibandingkan influencer dengan pengikut yang sudah sangat besar. Mengingat ramah budget, brand yang baru mulai merintis atau berkembang tak perlu khawatir dengan anggarannya terbatas. Alih-alih menghabiskan sebagian besar dana untuk satu influencer besar, mereka bahkan dapat menggandeng beberapa micro influencer sekaligus.
Seorang micro influencer sering membuat konten dengan gaya komunikasi yang lebih santai, sehingga mudah diterima oleh pengikutnya. Bagi brand, konsep tersebut bisa membantu menyampaikan pesan promosi secara lebih natural. Bahkan, kalangan muda zaman sekarang juga lebih suka dengan gaya konten demikian.
Para micro influencer punya karakter konten yang cukup jelas dan spesifik. Alhasil, brand dapat memilih kreator yang cocok berdasarkan gaya komunikasi, topik atau targer audiens yang ingin dituju. Misalnya, produk olahraga dapat dipromosikan melalui kreator dengan konten workout, sedangkan produk makanan dapat menggandeng kreator yang memang rutin membuat konten kuliner.