Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Micro Influencer Lebih Dilirik Brand? Berikut Alasannya
ilustrasi influencer (pexels.com/Ron Lach)
  • Micro influencer adalah jenis influencer dengan pengikut lebih kecil dan fokus niche spesifik.

  • Brand suka melirik micro influencer karena kedekatan interaksi membuat promosi terasa natural, target audiens lebih terarah, biaya kerja sama fleksibel, serta kontennya relatable.

  • Pemilihan influencer perlu mempertimbangkan kesesuaian audiens, kualitas konten, tingkat interaksi, anggaran, dan tujuan kampanye.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memasuki era serba digital, penggunaan influencer menjadi salah satu strategi yang banyak dipilih brand untuk memasarkan produk. Lewat konten media sosial, para influencer ini bisa membantu sebuah brand agar lebih dikenal oleh target audiens.

Menariknya, tidak semua brand selalu memilih influencer dengan jumlah pengikut paling banyak. Sebagian justru lebih suka melirik micro influencer yang biasanya punya 1.000 hingga 10.000 pengikut, tetapi dengan karakter konten dan komunitas lebih spesifik.

Lantas, kenapa micro influencer lebih dilirik brand? Berikut ulasannya yang telah IDN Times rangkum dari berbagai sumber. Yuk, simak!

1. Apa itu micro influencer?

ilustrasi influencer (pexels.com/silverkblack)

Secara umum, influencer terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan jumlah pengikutnya. Di antaranya bisa disebutkan seperti micro influencer, macro influencer, sampai mega influencer.

Micro influencer sendiri adalah kreator yang punya jumlah pengikut lebih kecil dibandingkan influencer dengan skala macro atau mega. Biasanya, kategori ini memiliki antara lebih dari 1.000 hingga 100.000 followers, tergantung platform atau acuan yang digunakan.

Selain jumlah pengikut, micro influencer juga punya ciri khas berupa fokusnya yang terarah ke satu topik atau niche tertentu. Misalnya, ada kreator yang khusus membahas skincare, makanan, olahraga, teknologi, fesyen, wisata, dan lain sebagainya. Mengingat fokus pada topik tertentu, seorang micro influencer umumnya juga memiliki audiens yang spesifik.

2. Kenapa micro influencer lebih dilirik brand?

ilustrasi influencer (unsplash.com/Taan Huyn)

Meski skalanya mungkin di bawah kategori macro dan mega, micro influencer terkadang justru lebih dilirik brand. Berikut sejumlah alasannya.

  • Lebih dekat dengan audiens

Micro influencer biasanya punya jumlah pengikut yang tidak terlalu banyak. Karena itu, mereka punya kesempatan lebih besar untuk berinteraksi langsung dengan audiens, baik lewat komentar, pesan, maupun konten-kontennya.

Kedekatan ini bisa membuat para followers merasa lebih mengenal si influencer. Alhasil, ketika ada produk yang dipromosikan, penyampaiannya juga terasa seperti rekomendasi dari orang yang sudah mereka kenal, bukan sekadar iklan.

  • Menjangkau audiens lebih spesifik

Berbekal jumlah pengikutnya yang belum terlalu banyak, micro influencer biasanya punya fokus konten atau niche tertentu. Misalnya khusus seputar kuliner, kecantikan, teknologi, parenting, dan lainnya. Dengan konten yang spesifik, sebagian pengikutnya juga datang karena memiliki ketertarikan terhadap topik tersebut.

Bagi brand, hal ini bisa membuat promosi produknya lebih mudah diarahkan. Jadi, mereka tak hanya mengejar views saja, tetapi mempertimbangkan potensi audiens tersebut menjadi konsumennya.

  • Biaya bisa lebih fleksibel

Dari sisi biaya, micro influencer umumnya juga menawarkan tarif kerja sama yang lebih terjangkau dibandingkan influencer dengan pengikut yang sudah sangat besar. Mengingat ramah budget, brand yang baru mulai merintis atau berkembang tak perlu khawatir dengan anggarannya terbatas. Alih-alih menghabiskan sebagian besar dana untuk satu influencer besar, mereka bahkan dapat menggandeng beberapa micro influencer sekaligus.

  • Konten terasa relatable

Seorang micro influencer sering membuat konten dengan gaya komunikasi yang lebih santai, sehingga mudah diterima oleh pengikutnya. Bagi brand, konsep tersebut bisa membantu menyampaikan pesan promosi secara lebih natural. Bahkan, kalangan muda zaman sekarang juga lebih suka dengan gaya konten demikian.

  • Lebih mudah menyesuaikan target

Para micro influencer punya karakter konten yang cukup jelas dan spesifik. Alhasil, brand dapat memilih kreator yang cocok berdasarkan gaya komunikasi, topik atau targer audiens yang ingin dituju. Misalnya, produk olahraga dapat dipromosikan melalui kreator dengan konten workout, sedangkan produk makanan dapat menggandeng kreator yang memang rutin membuat konten kuliner.

3. Tips pilih influencer yang tepat untuk brand

ilustrasi influencer mempromosikan produk (pexels.com/Gustavo Fring)

Saat memilih influencer, ada baiknya tidak hanya melihat berdasarkan jumlah followers. Brand juga perlu melihat aspek lain agar kerja samanya sesuai dengan tujuan kampanye. Berikut sejumlah tips yang bisa dicoba.

  • Sesuaikan dengan target audiens

Saat ingin menggandeng influencer, sebaiknya brand memilih kreator yang punya pengikut sesuai dengan target konsumennya. Misalnya, produk olahraga akan lebih cocok dipromosikan lewat influencer yang audiens-nya memang tertarik pada olahraga atau gaya hidup aktif.

  • Lihat kualitas kontennya

Perhatikan juga bagaimana influencer membuat dan menyampaikan konten. Pilih kreator yang punya gaya komunikasi sesuai dengan karakter brand sehingga promosinya tidak terasa terlalu dipaksakan.

  • Perhatikan tingkat interaksi

Sebelum memilih, bisa juga cek bagaimana respons audiens terhadap konten-konten sebelumnya, baik itu komentar, likes, hingga bentuk interaksi lain. Audiens yang aktif bisa menjadi tanda bahwa konten tersebut memang diperhatikan.

  • Sesuaikan dengan anggaran

Menentukan budget yang tersedia sebelum memilih influencer juga penting. Tidak harus selalu pilih influencer dengan followers besar dengan fee tinggi, bisa dicoba micro influencer jika audiensnya lebih sesuai dengan target kampanye.

  • Tentukan tujuan kerja sama

Brand perlu mengetahui apa yang ingin dicapai dari kerja samanya dengan influencer. Misal untuk meningkatkan brand awareness, memperkenalkan produk baru, mendapatkan engagement, atau mendorong penjualan. Tujuan ini nantinya membantu menentukan tipe influencer yang paling sesuai.

Demikianlah tadi ulasan untuk menjawab kenapa micro influencer lebih dilirik brand. Semoga informasinya bermanfaat, ya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article