Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 41 poin atau 0,23 persen dibandingkan penutupan kemarin. Pada perdagangan Rabu (16/9), rupiah ditutup melemah 2 poin ke Rp17.696 per dolar AS.
Suku Bunga The Fed Naik, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.737 per dolar AS

- Rupiah dibuka melemah 41 poin atau 0,23 persen ke Rp17.737 per dolar AS pada Kamis pagi, setelah ditutup Rp17.696 per dolar AS sehari sebelumnya.
- Mayoritas mata uang Asia turut melemah, termasuk baht Thailand, ringgit Malaysia, peso Filipina, won Korea, dan dolar Taiwan.
- Kenaikan suku bunga The Fed 25 bps menjadi 3,75–4 persen serta sinyal hawkish menekan rupiah; pergerakannya diperkirakan berada pada Rp17.650–Rp17.800 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah pada Kamis (17/9/2026) pagi. Mata uang Garuda dibuka pada level Rp17.737 per dolar Amerika Serikat (AS).
1. Rincian mata uang yang melemah
Mayoritas mata uang di Asia terpantau melemah, dengan rincian sebagai berikut:
- Bath Thailand melemah 0,03 persen
- Ringgit Malaysia melemah 0,02 persen
- Pesso Filipina melemah 0,07 persen
- Won Korea melemah 4,85 persen
- Dolar Taiwan melemah 0,09 persen.
2. Rupiah melemah karena The Fed naikkan suku bunga acuan
Pengamat pasar uang Lukman Leong mengatakan, nilai tukar rupiah diperkirakan kembali tertekan terhadap dolar AS setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada Rabu (16/9/2026) waktu setempat.
The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen-4 persen. Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh anggota Federal Open Market Committee (FOMC).
"Sentimen terhadap rupiah semakin tertekan setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pernyataan bernada hawkish," ujarnya.
Sikap tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS masih membuka ruang untuk kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun.
3. Rupiah berpotensi sentuh Rp17.800 per dolar AS sore ini
Pasar valuta asing pun langsung merespons keputusan tersebut. Dolar AS menguat dan indeks dolar AS (DXY) mencapai level tertinggi dalam sekitar tujuh pekan, seiring kenaikan imbal hasil US Treasury dan sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena aset berbasis dolar AS menjadi relatif lebih menarik ketika suku bunga AS berada pada level tinggi.
"Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.650-Rp17.800 per dolar AS1," ucapnya.




















