Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Gandeng Jepang, RI Percepat Pengembangan Energi Baru termasuk Nuklir

Gandeng Jepang, RI Percepat Pengembangan Energi Baru termasuk Nuklir
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Intinya Sih
  • Indonesia dan Jepang menandatangani MoC untuk mempercepat pengembangan energi nuklir, LNG, dan PLTSa sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih dan ketahanan energi nasional.
  • Hendry Cahyono menilai kerja sama ini membuka peluang besar bagi Indonesia menguasai teknologi energi baru serta memanfaatkan kekayaan mineral untuk memperkuat industri hijau.
  • Implementasi kerja sama difokuskan pada alih teknologi dan penerapan standar keselamatan tinggi agar Indonesia dapat mengembangkan energi rendah karbon secara mandiri dan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ekonom Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Hendry Cahyono, mengapresiasi langkah diplomasi energi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dalam menjalin kerja sama Indonesia dan Jepang di sektor energi dan mineral kritis. Ia menilai, langkah tersebut strategis untuk mendorong transisi energi hijau sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Kerja sama itu mencakup pengembangan energi nuklir, ekspor LNG, hingga pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Hendry menilai kesepakatan tersebut menjadi sinyal positif Indonesia semakin serius mengembangkan energi bersih berbasis teknologi maju.

“Dari sisi teknis dan ekonomi, Indonesia sebenarnya telah merencanakan pengembangan PLTN sejak era 1960-an. Kesepakatan ini menunjukkan kemajuan, meskipun jalan menuju realisasinya masih panjang,” kata Hendry, Rabu (18/3/2026).

Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Memorandum of Cooperation (MoC) yang ditandatangani Bahlil bersama Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Ryosei Akazawa.

1. RI–Jepang Perkuat Kemitraan Energi, Peluang Kuasai Teknologi Nuklir Terbuka

Kementerian ESDM
Kementerian ESDM

Menurut Hendry, kemitraan dengan Jepang membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat penguasaan teknologi energi baru, termasuk nuklir yang selama ini terkendala tingginya biaya investasi dan keterbatasan transfer teknologi.

Ia menambahkan, manfaat kerja sama ini juga signifikan jika dikaitkan dengan kekayaan sumber daya mineral Indonesia, terutama dalam mendukung pengembangan ekosistem energi bersih.

“Indonesia memiliki sekitar 43 persen cadangan nikel dunia, serta cadangan bauksit, timah, tembaga, dan logam tanah jarang. Ini menjadi modal kuat untuk hilirisasi dan pengembangan industri energi hijau,” ujarnya.

2. Kerja sama ini ciptakan efek berganda

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Foto: Pixabay

Hendry menilai, kerja sama ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan efisiensi produksi hingga penciptaan lapangan kerja.

“Diharapkan ada multiplier effect berupa peningkatan efisiensi produksi nasional, peningkatan pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, Hendry menilai langkah Indonesia dalam memperkuat kerja sama energi merupakan keputusan yang tepat.

“Ini merupakan respons rasional terhadap dinamika geopolitik. Posisi Indonesia saat ini berada dalam window of opportunity yang sangat baik,” katanya.

3. Kerja sama di bidang energi nuklir difokuskan pada pengembangan teknologi

PLTN (pexels.com/jason hu)
PLTN (pexels.com/jason hu)

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya memastikan implementasi kerja sama berjalan optimal, terutama dalam aspek alih teknologi, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar.

Menurutnya, meskipun Indonesia relatif tertinggal dalam pengembangan energi nuklir dibandingkan negara maju, kondisi tersebut justru memberikan keuntungan tersendiri.

“Indonesia dapat belajar dari pengalaman negara lain, termasuk peristiwa Fukushima nuclear disaster, sehingga bisa mengadopsi teknologi yang lebih aman tanpa mengulang kesalahan masa lalu,” pungkasnya.

Sebelumnya, penandatanganan kerja sama ini dilakukan dalam pertemuan bilateral di sela agenda Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3).

Kerja sama di bidang energi nuklir difokuskan pada pengembangan teknologi dengan tetap mengedepankan standar keselamatan tinggi. Melalui kemitraan ini, Indonesia berpeluang memanfaatkan pengalaman dan teknologi Jepang untuk mengembangkan energi rendah karbon.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More