Apa yang membuat sebuah produk lokal terlihat lebih menarik ketika kemasannya dihiasi aksara Hangeul? Bagi konsumen yang tidak dapat membaca bahasa Korea, deretan huruf tersebut mungkin tidak menyampaikan makna linguistik apa pun. Namun, Hangeul tetap dapat memberikan kesan Korea, modern, dan mengikuti tren global.
Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam kuliah khusus “Korean Vibes, Local Brand: Hangeul sebagai Strategi Branding” yang diselenggarakan Korean Cultural Center (KCC) Indonesia pada Rabu (26/8). Pengajar Program Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Gadjah Mada (UGM), Suray Agung Nugroho, menjelaskan bahwa konsumen Indonesia yang tidak dapat berbahasa Korea tetap dapat mengenali produk yang menggunakan aksara Hangeul.
"Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep desemantisasi, yaitu ketika sebuah teks kehilangan atau tidak lagi mengutamakan makna linguistiknya. Hangeul pada kemasan produk tidak selalu dibaca untuk dipahami, tetapi cukup dikenali sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Korea," ujar Suray.
Dalam kacamata produk, Hangeul kini bergeser menjadi semiotika estetika. Aksara tersebut berfungsi sebagai simbol visual yang dianggap menarik atau keren, meskipun konsumen tidak memiliki keterikatan langsung dengan makna linguistik yang tertulis.
Dengan kata lain, Hangeul pada sebuah produk lokal bukan berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai penanda identitas visual. Fenomena ini membuat sebuah produk yang diproduksi di Indonesia dapat memperoleh kesan Korea hanya melalui penggunaan beberapa karakter Hangeul pada kemasannya.
