Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ketika Hangeul Menjadi Strategi Branding Produk Lokal Indonesia
berbagai produk bertuliskan aksara Hangeul. (Dok. Pribadi)
  • Hangeul pada kemasan produk lokal berfungsi sebagai simbol visual Korea yang modern, memanfaatkan reputasi K-pop, drama, dan teknologi untuk meningkatkan daya tarik serta persepsi nilai produk.
  • Penggunaan Hangeul berisiko menjadi gimmick atau eksploitasi visual bila salah konteks dan tanpa pemahaman budaya; integrasi autentik membutuhkan keterkaitan nyata, kolaborasi, atau pertukaran budaya.
  • Dalam jangka pendek, Hangeul dapat menarik perhatian dan mendorong pembelian impulsif, tetapi keberlanjutan brand tetap bergantung pada kualitas produk, cerita autentik, literasi, dan penggunaan aksara yang tepat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apa yang membuat sebuah produk lokal terlihat lebih menarik ketika kemasannya dihiasi aksara Hangeul? Bagi konsumen yang tidak dapat membaca bahasa Korea, deretan huruf tersebut mungkin tidak menyampaikan makna linguistik apa pun. Namun, Hangeul tetap dapat memberikan kesan Korea, modern, dan mengikuti tren global.

Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam kuliah khusus “Korean Vibes, Local Brand: Hangeul sebagai Strategi Branding” yang diselenggarakan Korean Cultural Center (KCC) Indonesia pada Rabu (26/8). Pengajar Program Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Gadjah Mada (UGM), Suray Agung Nugroho, menjelaskan bahwa konsumen Indonesia yang tidak dapat berbahasa Korea tetap dapat mengenali produk yang menggunakan aksara Hangeul.

"Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep desemantisasi, yaitu ketika sebuah teks kehilangan atau tidak lagi mengutamakan makna linguistiknya. Hangeul pada kemasan produk tidak selalu dibaca untuk dipahami, tetapi cukup dikenali sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Korea," ujar Suray.

Dalam kacamata produk, Hangeul kini bergeser menjadi semiotika estetika. Aksara tersebut berfungsi sebagai simbol visual yang dianggap menarik atau keren, meskipun konsumen tidak memiliki keterikatan langsung dengan makna linguistik yang tertulis.

Dengan kata lain, Hangeul pada sebuah produk lokal bukan berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai penanda identitas visual. Fenomena ini membuat sebuah produk yang diproduksi di Indonesia dapat memperoleh kesan Korea hanya melalui penggunaan beberapa karakter Hangeul pada kemasannya.

1. Hangeul sebagai cultural capital

Pengajar Program Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM, Suray Agung Nugrohokuliah memberikan materi kuliah khusus “Korean Vibes, Local Brand: Hangeul sebagai Strategi Branding” di Korean Cultural Center (KCC) Indonesia. (Dok. Pribadi)

Menurut Suray, fenomena tersebut dapat dilihat melalui konsep cultural capital atau modal budaya. Reputasi positif Korea yang terbentuk melalui industri kreatif seperti K-pop dan drama Korea, serta perkembangan teknologi Korea, dapat ikut terbawa ke produk yang menggunakan Hangeul. Kondisi ini berkaitan dengan konsep country of origin, yakni ketika persepsi positif terhadap suatu negara atau industrinya dapat memengaruhi cara konsumen memandang produk.

Akibatnya, produk lokal yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan langsung dengan Korea dapat dipersepsikan lebih menarik atau memiliki kualitas lebih tinggi hanya karena tampilannya membawa elemen visual Korea.

Hangeul juga dapat menjadi pembeda bagi sebuah produk. Konsumen tidak hanya membeli barang, tetapi juga dapat merasa sedang membeli gaya hidup yang diasosiasikan dengan Korea. Dalam konteks tersebut, Hangeul berpotensi menjadi symbolic capital yang memberikan nilai tambahan pada produk.

Fenomena ini tidak sepenuhnya baru. Indonesia sebelumnya pernah mengalami penggunaan aksara dan bahasa asing sebagai bagian dari strategi branding.

Pada 1980-an, misalnya, ketika Jepang berkembang sebagai kekuatan ekonomi, penggunaan katakana dan kanji pada berbagai merek dapat memberikan kesan kualitas dan teknologi tinggi. Kemudian, pada 1990-an, muncul fenomena French washing, yakni penggunaan istilah atau aksara Prancis dalam industri seperti kecantikan dan makanan untuk membangun kesan chic dan luxury.

Memasuki 2020-an, tren tersebut bergeser seiring menguatnya K-Wave. Korea kini berada pada posisi historis yang sebelumnya ditempati Jepang dan Prancis. Hangeul pun berpotensi berfungsi sebagai global visual currency—bukan lagi sekadar sistem aksara, melainkan simbol dari kekuatan budaya dan ekonomi kreatif Korea di tingkat global.

Fenomena penggunaan Hangeul pada kemasan produk lokal Indonesia kemudian dapat dilihat sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai “Koreanization of Packaging".

2. Ketika identitas Korea menjadi gimmick produk

berbagai produk bertuliskan aksara Hangeul. (Dok. Pribadi)

Meski penggunaan Hangeul dapat menjadi strategi pemasaran yang efektif, fenomena tersebut juga memiliki risiko. Salah satunya adalah ketika produk lokal menggunakan Hangeul secara tidak tepat atau bahkan salah secara tata bahasa hanya untuk mengejar tren dan daya tarik visual.

Masalahnya bukan sekadar kesalahan penulisan. Ketika sebuah aksara dan bahasa digunakan hanya sebagai ornamen tanpa memahami konteks budaya dan maknanya, penggunaan tersebut berpotensi menjadi eksploitasi visual.

Jika semakin banyak produk, termasuk produk dengan kualitas rendah, menggunakan Hangeul hanya sebagai gimmick, penggunaan aksara tersebut dapat kehilangan daya tariknya. Citra autentisitas dan kualitas yang diasosiasikan dengan Korea berisiko mengalami penurunan dan justru dipersepsikan sebagai sesuatu yang murahan.

Karena itu, penggunaan Hangeul dalam branding perlu dibedakan antara sekadar "meminjam identitas" dan membangun “integrasi yang otentik”.

Brand lokal yang meminjam identitas menggunakan Hangeul secara dominan untuk membentuk persepsi konsumen tanpa memiliki keterikatan langsung dengan budaya Korea. Sementara itu, integrasi otentik dapat muncul melalui kolaborasi dengan ikon Korea atau eksplorasi nilai Korea oleh brand Indonesia yang memiliki pertukaran budaya secara nyata.

Perbedaannya terletak pada apakah Korea hanya digunakan sebagai tampilan visual atau benar-benar menjadi bagian dari cerita dan nilai yang dibangun oleh sebuah produk.

3. Akankah Hangeul tetap menjual?

berbagai produk bertuliskan aksara Hangeul. (Dok. Pribadi)

Dalam jangka pendek, penggunaan Hangeul sebagai strategi pemasaran masih berpotensi efektif. Visual Hangeul dapat menjadi attention grabber yang kuat di rak supermarket. Di tengah banyaknya pilihan produk, tampilan yang diasosiasikan dengan Korea dapat menarik perhatian konsumen dan mendorong impulse buying. Tren tersebut juga dapat memanfaatkan fenomena FOMO (fear of missing out), terutama ketika produk dikaitkan dengan budaya populer Korea yang sedang diminati.

Namun, daya tarik visual memiliki batas. Menurut Suray, dalam jangka panjang tren penggunaan Hangeul dapat mengalami kejenuhan. Ketika konsumen semakin terbiasa melihat aksara Korea pada berbagai produk, perhatian mereka akan kembali tertuju pada product quality dan authentic storytelling.

Artinya, Hangeul mungkin dapat membuat sebuah produk terlihat menarik untuk pertama kali, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya alasan konsumen terus memilih produk tersebut.

“Dalam jangka panjang, tren visual Hangeul ini bisa menjenuhkan. Yang akan bertahan adalah brand dengan ciri dasar yang kuat walaupun tetap pakai Hangeul pada produknya,” ujar Suray.

Fenomena Hangeul pada produk lokal juga dapat menjadi kesempatan untuk membangun hubungan budaya yang lebih dalam. Suray memberikan tiga cara agar penggunaan Hangeul tidak sekadar jadi pajangan visual, tapi bisa dipahami dan dihayati budayanya secara mendalam.

Pertama, literasi aksara. Ketertarikan konsumen terhadap Hangeul pada kemasan dapat diarahkan menjadi ketertarikan untuk mempelajari bahasa Korea dan memahami makna Hangeul yang sebenarnya.

Kedua, standardisasi dan edukasi penggunaan Hangeul. Pelaku industri kreatif lokal perlu didorong untuk menggunakan Hangeul secara kontekstual dan tepat, bukan sekadar menempelkannya pada kemasan demi mengejar estetika.

Ketiga, kemitraan otentik atau co-creation. Kolaborasi lintas budaya dapat dikembangkan lebih jauh sehingga tidak berhenti pada eksploitasi elemen visual Korea sebagai strategi pemasaran, tetapi menghasilkan pertukaran nilai yang lebih bermakna dan saling menguntungkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article