Jakarta, IDN Times - Standard & Poor's mencatat kinerja manufaktur Indonesia per Maret tercatat di level 50,1 atau turun tajam dibandingkan Feruari yang berada di level 53,8. Bahkan, angka ini menjadi yang terendah dalam delapan bulan terakhir, sekaligus menunjukkan kondisi operasional yang relatif stagnan meski masih berada di zona ekspansi.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti mengatakan, data manufaktur Indonesia pada Maret menunjukkan penurunan output paling tajam dalam sembilan bulan terakhir. Selain itu, terjadi penurunan permintaan yang dikaitkan dengan turunnya permintaan ekspor baru paling tajam sejak November 2025 lalu.
Usamah menuturkan, berdasarkan laporan peserta survei, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir kuartal I-2026 adalah pecahnya konflik di Timur Tengah.
“Perang menyebabkan tekanan signifikan pada harga dan pasokan bahan baku, berdampak pada produksi dan permintaan, serta mendorong inflasi biaya ke level tertinggi dalam dua tahun,” kata Usamah dalam keterangannya, dikutip Jumat (3/4/2026).
