Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kinerja Manufaktur RI Melemah Dihantam Konflik Timur Tengah
ilustrasi pekerja pabrik manufaktur (vecteezy.com/MALAY CHANDRA DAS)
  • Indeks manufaktur Indonesia turun ke 50,1 pada Maret 2026, level terendah delapan bulan terakhir akibat penurunan output dan permintaan ekspor yang dipicu konflik di Timur Tengah.
  • Kenaikan harga bahan baku dan kelangkaan pasokan mendorong inflasi biaya tertinggi dua tahun terakhir, membuat produsen menaikkan harga jual di tingkat pabrik.
  • Pemerintah menegaskan sektor manufaktur masih ekspansif berkat permintaan domestik dan upaya mitigasi risiko eksternal untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Standard & Poor's mencatat kinerja manufaktur Indonesia per Maret tercatat di level 50,1 atau turun tajam dibandingkan Feruari yang berada di level 53,8. Bahkan, angka ini menjadi yang terendah dalam delapan bulan terakhir, sekaligus menunjukkan kondisi operasional yang relatif stagnan meski masih berada di zona ekspansi.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti mengatakan, data manufaktur Indonesia pada Maret menunjukkan penurunan output paling tajam dalam sembilan bulan terakhir. Selain itu, terjadi penurunan permintaan yang dikaitkan dengan turunnya permintaan ekspor baru paling tajam sejak November 2025 lalu.

Usamah menuturkan, berdasarkan laporan peserta survei, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir kuartal I-2026 adalah pecahnya konflik di Timur Tengah.

“Perang menyebabkan tekanan signifikan pada harga dan pasokan bahan baku, berdampak pada produksi dan permintaan, serta mendorong inflasi biaya ke level tertinggi dalam dua tahun,” kata Usamah dalam keterangannya, dikutip Jumat (3/4/2026).

1. Permintaan lesu dan dampaknya ke penurunan tenaga kerja

Ilustrasi Kondisi Pabrik Sektor Manufaktur Otomotif. (Unsplash/Appliances)

Sejalan dengan melemahnya produksi dan permintaan, perusahaan mulai mengurangi tenaga kerja atau tercatat terjadi dua kali dalam tiga bulan terakhir, meski dalam skala terbatas. Pada saat yang sama, produsen juga menekan aktivitas pembelian untuk pertama kalinya sejak Juli 2025.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan baku dan kelangkaan pasokan menjadi faktor utama di balik perlambatan tersebut. Selain itu, waktu tunggu pengiriman input terus memanjang selama enam bulan berturut-turut, di tengah laporan kelangkaan material dan keterlambatan distribusi sejak pecahnya konflik di Timur Tengah,” tuturnya.

2. Terjadi kenaikan harga barang

ilustrasi manufaktur (pexels.com/Kateryna Babaieva)

Sementara itu, produsen di Indonesia melaporkan kenaikan harga input pada periode survei terbaru, dengan tingkat inflasi yang sangat kuat dan mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Kondisi ini umumnya dipicu oleh kenaikan harga bahan baku di tengah keterbatasan pasokan serta keterlambatan pengiriman. Untuk merespons hal tersebut, perusahaan berupaya mengalihkan kenaikan biaya input kepada pelanggan dengan menaikkan harga jual di tingkat pabrik, tertinggi sejak Juni 2022.

“Ke depan, produsen Indonesia tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek satu tahun mendatang. Tingkat optimisme ini meningkat dibandingkan Februari, didorong oleh harapan membaiknya permintaan serta tidak terjadinya eskalasi lanjutan konflik di Timur Tengah. Namun demikian, tingkat sentimen masih berada di bawah rata-rata,” ujarnya.

3. Pemerintah lakukan mitigasi terkait penurunan kinerja manufaktur

ilustrasi pekerja di bidang manufaktur (pexels.com/ELEVATE)

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menegaskan, ketahanan sektor manufaktur mencerminkan kemampuan ekonomi Indonesia dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal.

“Sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif pada Maret 2026, ditopang permintaan domestik dan kinerja mitra dagang utama yang terjaga. Dengan adanya beberapa tantangan seperti kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok internasional akibat eskalasi geopolitik global, serta libur dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional, PMI tetap di zona ekspansi. Hal ini menegaskan ketahanan fundamental sektor manufaktur nasional dan upaya Pemerintah untuk terus antisipatif terhadap risiko ke depan,” ujar Febrio.

Editorial Team