Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Begini Tantangan Hindari Blackout Menurut Pengamat Kelistrikan ITB

Begini Tantangan Hindari Blackout Menurut Pengamat Kelistrikan ITB
ilustrasi listrik padam (pixabay.com/Boyan Chen)
Intinya Sih
  • Pemadaman listrik di Sumatra jadi peringatan penting bagi ketahanan sistem kelistrikan modern yang kini makin rentan akibat variabilitas cuaca ekstrem dan perubahan iklim.
  • Sistem proteksi otomatis serta teknologi monitoring real-time disebut sebagai benteng utama untuk mencegah blackout total dan menjaga stabilitas jaringan interkoneksi besar.
  • Investigasi awal menemukan indikasi kabel transmisi putus akibat kombinasi faktor cuaca dan tekanan mekanis, menegaskan pentingnya ketahanan sistem terhadap kondisi alam yang berubah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemadaman listrik massal atau blackout yang sempat melanda sejumlah wilayah di Sumatra dinilai menjadi alarm penting bagi ketahanan sistem kelistrikan modern di tengah cuaca yang makin sulit diprediksi akibat perubahan iklim. Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor menilai, variabilitas cuaca kini menjadi tantangan serius dalam menjaga stabilitas jaringan interkoneksi besar.

Menurut Kevin, kondisi cuaca seperti temperatur, kecepatan angin, curah hujan, hingga kelembapan sangat mempengaruhi performa jaringan transmisi tegangan tinggi.

“Dalam sistem tenaga modern, kondisi cuaca menjadi salah satu parameter penting yang diperhitungkan dalam pengoperasian jaringan transmisi,” ujar dia dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (30/5/2026).

Berikut sejumlah poin penting terkait ancaman blackout di sistem kelistrikan modern:

1. Cuaca ekstrem bikin sistem interkoneksi makin rentan

Begini Tantangan Hindari Blackout Menurut Pengamat Kelistrikan ITB
ilustrasi listrik (pexels.com/Maor Attias)

Kevin menjelaskan, perubahan pola iklim membuat cuaca menjadi semakin dinamis. Kondisi itu menambah kompleksitas operator dalam menjaga stabilitas jaringan listrik berskala besar seperti interkoneksi Sumatra.

“Perubahan iklim tidak selalu berarti satu kejadian ekstrem langsung menyebabkan gangguan sistem. Namun variabilitas cuaca yang meningkat dapat menambah tantangan dalam pengoperasian jaringan transmisi,” katanya.

Menurut dia, gangguan pada sistem interkoneksi besar umumnya tidak dipicu satu faktor tunggal. Blackout bisa terjadi akibat kombinasi berbagai faktor yang muncul bersamaan dan memengaruhi aliran daya listrik.

“Gangguan pada sistem interkoneksi besar bersifat probabilistik. Dalam kondisi operasi tertentu, gangguan yang pada awalnya bersifat lokal berpotensi berkembang menjadi gangguan berantai (cascading disturbance) apabila gangguan tersebut berdampak pada aliran daya serta stabilitas sistem tenaga listrik,” tutur Kevin.

2. Sistem proteksi otomatis jadi benteng utama cegah blackout total

Begini Tantangan Hindari Blackout Menurut Pengamat Kelistrikan ITB
Ilustrasi listrik (freepik.com)

Kevin mengatakan, sistem proteksi otomatis pada jaringan transmisi dirancang untuk meminimalkan kerusakan lebih luas ketika terjadi gangguan.

"Ketika kestabilan sistem tenaga terganggu, sistem proteksi akan bekerja otomatis untuk mencegah risiko kerusakan yang lebih besar pada jaringan maupun pembangkit sembari mencegah blackout total seluruh sistem interkoneksi,” katanya.

Dia menilai, semakin besar sistem interkoneksi, efisiensi penyaluran energi memang meningkat. Namun, di sisi lain, pengelolaan stabilitas sistem juga menjadi jauh lebih kompleks.

Oleh karena itu, teknologi monitoring real-time hingga inspeksi jaringan menggunakan drone kini semakin penting untuk mendeteksi potensi gangguan lebih dini.

“Perkembangan teknologi monitoring dan proteksi sekarang memungkinkan operator membaca kondisi sistem lebih cepat sehingga respons terhadap gangguan juga bisa dilakukan lebih dini,” ujar Kevin.

3. Investigasi awal temukan indikasi kabel transmisi putus

D82A7B28-2856-4585-BA58-20A23B6DEFB1.jpeg
Konferensi pers hasil investigasi blackout Sumatra oleh Bareskrim Polri, Senin (25/5/2026).

Sebelumnya, investigasi awal gabungan aparat dan PLN menemukan adanya kemungkinan gangguan berasal dari putusnya kabel transmisi di area sambungan atau mid span jointing. Kerusakan itu diduga dipengaruhi kombinasi faktor cuaca dan tekanan mekanis. Dalam konferensi pers investigasi, aparat turut memperlihatkan potongan kabel yang dijadikan sampel barang bukti untuk pengujian laboratorium lebih lanjut.

Kevin menambahkan, isu ketahanan sistem kelistrikan terhadap perubahan cuaca juga menjadi perhatian banyak negara yang mengoperasikan jaringan interkoneksi besar.

“Di berbagai negara, isu power system resiliency terhadap perubahan pola cuaca memang menjadi perhatian utama dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan modern,” katanya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More