Ekspor di Februari 2026 Naik Ditopang Manufaktur

- Nilai ekspor Indonesia Februari 2026 mencapai 22,17 miliar dolar AS, naik 1,01 persen dibanding tahun sebelumnya dan total dua bulan pertama 2026 tembus 44,32 miliar dolar AS.
- Kenaikan ekspor didorong sektor industri pengolahan dengan nilai 37,06 miliar dolar AS, terutama dari komoditas kelapa sawit, nikel, kendaraan bermotor, serta produk elektronik.
- Sementara itu, ekspor pertanian turun 31,45 persen dan pertambangan turun 18,16 persen; tiga negara tujuan utama ekspor adalah China, Amerika Serikat, dan India.
Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 mencapai 22,17 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Angka tersebut naik 1,01 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 atau secara year on year (yoy). Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada Januari-Februari 2026 mencapai 44,32 miliar dolar AS, naik 2,19 persen (yoy).
Deputi Bidang Statistik dan Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, kinerja ekspor itu ditopang oleh ekspor sektor industri pengolahan atau manufaktur yang mencapai 37,06 miliar dolar AS.
“Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan tadi kinerja ekspor nonmigas sepanjang Januari sampai dengan Februari tahun 2026 dengan andilnya untuk industri pengolahan, yaitu 5,36 persen,” kata Ateng dalam konferensi pers virtual, Rabu (1/4/2026).
1. Kelapa sawit-nikel jadi pendorongnya

Dari sisi komoditas, penopang kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2026 adalah minyak kelapa sawit, nikel, kendaraan bermotor roda empat atau lebih, semikonduktor, dan komponen elektronik lainnya, serta juga ekspor dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian.
“Andil industri pengolahan ini sebesar 4,21 persen. Peningkatan secara tahunan ini untuk industri pengolahan,“ ujar Ateng.
2. Ekspor pertanian hingga pertambangan turun

Sayangnya, BPS mencatat ekspor industri pertanian turun 31,45 persen (yoy) pada Februari 2026. Begitu juga dengan industri pertambangan yang turun 18,16 persen (yoy).
“Untuk ekspor sektor pertanian, serta pertambangan dan lainnya ini justru mengalami penurunan, masing-masing untuk sektor pertanian menurun 31,45 persen, serta pertambangan dan lainnya menurun sebesar 18,16 persen,” ucap Ateng.
3. RI paling banyak ekspor ke China, AS, India

Adapun tiga negara tujuan ekspor Indonesia pada Februari 2026 China dengan andil 24,69 persen, AS dengan andil 11,81 persen, dan India 7,35 persen. Untuk ke China, komoditas utama yang diekspor adalah besi dan baja (kode HS 72), nikel dan barang daripadanya (HS 75), serta bahan bakar mineral (HS 27).
Adapun ke AS, komoditas ekspor andalan adalah mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya (kode HS 85), alas kaki (kode HS 64), serta pakaian dan aksesoris rajutan (kode HS 61). Lalu ke India, komoditasnya adalah bahan bakar mineral (HS 27), lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15), dan mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya (kode HS 85).



















