Ilustrasi kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. (Unsplash.com/Alexandr Popadin)
Korea Herald melaporkan, volume pasokan cadangan 273 juta barel minyak mentah ini cukup untuk menopang ekonomi Korsel selama lebih dari tiga bulan. Sementara, 2,1 juta ton nafta akan menjamin kebutuhan industri petrokimia selama satu bulan. Pasokan akan dikirim melalui rute alternatif yang tidak terpengaruh oleh blokade Selat Hormuz, seperti pelabuhan Laut Merah di Arab Saudi.
Arab Saudi
Saudi mengonfirmasi bahwa sekitar 50 juta barel minyak mentah, yang sebelumnya dialokasikan untuk perusahaan Korea tetapi dengan jadwal pengiriman yang tidak pasti karena perang Iran, akan dikirim antara April-Mei. Selain itu, Arab Saudi setuju untuk memprioritaskan alokasi dan pengiriman total 200 juta barel minyak mentah kepada perusahaan-perusahaan Korea mulai Juni hingga akhir tahun. Sehingga, negara ini menjadi pemasok utama dengan komitmen 250 juta barel minyak mentah dan 500 ribu ton nafta.
Kazakhstan
Astana sepakat memberikan tambahan pasokan minyak sebesar 18 juta barel untuk Seoul. Kedua negara juga sepakat membuka saluran komunikasi strategis baru untuk kerja sama energi jangka panjang, hingga pembangunan perkotaan dan proyek-proyek pembangkit listrik.
Oman
Oman menyepakati pengiriman 5 juta barel minyak mentah dan nafta 1,6 juta ton. Seoul juga meminta perhatian dan dukungan khusus dari pemerintah Oman untuk memastikan bahwa 26 kapal berbendera Korsel dapat melewati Selat Hormuz yang diblokade dengan aman.
Qatar
Pihak Qatar memberikan jaminan prioritas pengiriman gas alam cair (LNG) segera setelah Selat Hormuz dibuka kembali. Namun, kesepakatan itu tidak termasuk volume yang sebelumnya dinyatakan dalam keadaan force majeure oleh QatarEnergy pada kontrak jangka panjang untuk pasokan LNG pada akhir Maret. Untuk diketahui, Negeri Ginseng mengimpor sekitar 6,1 juta ton LNG setiap tahunnya dari Qatar.