Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Korsel Amankan 273 Juta Barel Minyak di Tengah Blokade Selat Hormuz
Ilustrasi anjungan pengeboran minyak. (unsplash.com/Maria Lupan)
  • Pemerintah Korea Selatan mengamankan pasokan 273 juta barel minyak mentah dan 2,1 juta ton nafta dari Arab Saudi, Oman, Qatar, dan Kazakhstan untuk menjaga stabilitas energi di tengah blokade Selat Hormuz.
  • Korsel berencana memperluas fasilitas penyimpanan minyak strategis di luar area konflik guna memperkuat ketahanan energi serta menawarkan program penimbunan bersama bagi produsen minyak Timur Tengah.
  • Keamanan navigasi di Selat Hormuz menjadi perhatian utama Korsel karena jalur ini vital bagi impor energi, sementara kapal berbendera Korea menghadapi hambatan akibat pembatasan Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) berhasil mengamankan komitmen pasokan 273 juta barel minyak mentah dan 2,1 juta ton nafta dari empat negara mitra, guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis keamanan di Selat Hormuz.

Kepala staf kepresidenan, Kang Hoon-sik, mengumumkan keberhasilan tersebut pada Rabu (15/4/2026). Ini setelah ia kembali dari misi diplomatik delapan hari ke Arab Saudi, Oman, Qatar, dan Kazakhstan. Langkah tersebut diambil menyusul penutupan jalur maritim sekaligus Selat Hormuz akibat konflik AS-Israel dengan Iran yang meletus sejak Februari 2026.

1. Rincian komitmen Korsel dengan 4 negara

Ilustrasi kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. (Unsplash.com/Alexandr Popadin)

Korea Herald melaporkan, volume pasokan cadangan 273 juta barel minyak mentah ini cukup untuk menopang ekonomi Korsel selama lebih dari tiga bulan. Sementara, 2,1 juta ton nafta akan menjamin kebutuhan industri petrokimia selama satu bulan. Pasokan akan dikirim melalui rute alternatif yang tidak terpengaruh oleh blokade Selat Hormuz, seperti pelabuhan Laut Merah di Arab Saudi.

Arab Saudi

Saudi mengonfirmasi bahwa sekitar 50 juta barel minyak mentah, yang sebelumnya dialokasikan untuk perusahaan Korea tetapi dengan jadwal pengiriman yang tidak pasti karena perang Iran, akan dikirim antara April-Mei. Selain itu, Arab Saudi setuju untuk memprioritaskan alokasi dan pengiriman total 200 juta barel minyak mentah kepada perusahaan-perusahaan Korea mulai Juni hingga akhir tahun. Sehingga, negara ini menjadi pemasok utama dengan komitmen 250 juta barel minyak mentah dan 500 ribu ton nafta.

Kazakhstan

Astana sepakat memberikan tambahan pasokan minyak sebesar 18 juta barel untuk Seoul. Kedua negara juga sepakat membuka saluran komunikasi strategis baru untuk kerja sama energi jangka panjang, hingga pembangunan perkotaan dan proyek-proyek pembangkit listrik.

Oman

Oman menyepakati pengiriman 5 juta barel minyak mentah dan nafta 1,6 juta ton. Seoul juga meminta perhatian dan dukungan khusus dari pemerintah Oman untuk memastikan bahwa 26 kapal berbendera Korsel dapat melewati Selat Hormuz yang diblokade dengan aman.

Qatar

Pihak Qatar memberikan jaminan prioritas pengiriman gas alam cair (LNG) segera setelah Selat Hormuz dibuka kembali. Namun, kesepakatan itu tidak termasuk volume yang sebelumnya dinyatakan dalam keadaan force majeure oleh QatarEnergy pada kontrak jangka panjang untuk pasokan LNG pada akhir Maret. Untuk diketahui, Negeri Ginseng mengimpor sekitar 6,1 juta ton LNG setiap tahunnya dari Qatar.

2. Rencana Korsel memperluas penyimpanan minyak strategisnya

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung. (x.com/대한민국 대통령실)

Dalam kunjungannya ke Kazakhstan dan negara-negara Teluk, Kang menyampaikan surat pribadi dari Presiden Korsel Lee Jae Myung kepada para pemimpin negara mitra. Surat tersebut menekankan solidaritas Seoul terhadap krisis di Timur Tengah. Lee juga memohon dukungan untuk menstabilkan rantai pasokan energi global.

"Arab Saudi telah berjanji menempatkan Korsel sebagai prioritas utama, guna memastikan negara kita tidak menghadapi kelangkaan energi," kata Kang.

Selain pengamanan pasokan jangka pendek, delegasi Korsel juga membahas rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak strategisnya di luar area konflik. Ini dikarenakan gangguan berkepanjangan di sekitar Selat Hormuz memicu lonjakan permintaan dari negara-negara pengekspor minyak yang ingin menggunakan fasilitas penyimpanan Korea. Pihaknya juga telah berdiskusi dengan negara-negara Timur Tengah dan mereka menunjukkan minat.

Bagi para produsen di kawasan ini, ketegangan geopolitik yang berulang telah menggarisbawahi kerentanan Selat Hormuz. Akibatnya, mendorong pergeseran ke arah pusat penyimpanan di Asia Timur Laut sebagai antisipasi terhadap gangguan pasokan.

Nantinya, di bawah program penimbunan bersama, perusahaan asing menyimpan minyak mentah di fasilitas Korsel dalam bentuk sewa yang juga memberikan hak pembelian preferensial kepada Seoul pada saat terjadi tekanan pasokan. Korea National Oil Corporation memiliki sembilan fasilitas penyimpanan minyak di seluruh negeri, yang mengelola cadangan setara dengan konsumsi selama 116 hari, dilansir Korea JoongAng Daily.

3. Pentingnya navigasi yang aman di Selat Hormuz bagi ekonomi Korsel

Bendera Korea Selatan. (Unsplash.com/Stephanie Nakagawa)

Baru-baru ini, juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel Chung Binna mengatakan bahwa navigasi yang aman melalui Selat Hormuz tetap menjadi isu penting bagi Seoul dan komunitas internasional yang lebih luas, baik dari sudut pandang keamanan maupun ekonomi.

"Korsel memantau perkembangan dengan cermat dan menjaga komunikasi dengan negara-negara terkait," ungkapnya.

Kapal-kapal yang terkait dengan Korsel telah menghadapi kesulitan melintasi selat tersebut di tengah pembatasan yang diberlakukan Iran. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi Korsel yang ketahanan energinya sangat bergantung pada impor dari Timur Tengah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team