ilustrasi AI ChatGPT (pexels.com/Matheus Bertelli)
Bukan berarti kamu bisa sepenuhnya santai melihat kondisi ekonomi Asia saat ini, ya. Neumann menilai kawasan tersebut tetap memiliki kerentanan, hanya saja bentuknya berbeda dari ancaman pada 1990-an. Jika dahulu masalah utamanya berkaitan dengan kerentanan finansial, sekarang Asia justru menghadapi apa yang disebut sebagai demand vulnerability atau kerentanan dari sisi permintaan.
Masalahnya berkaitan erat dengan ketergantungan sejumlah negara Asia terhadap ledakan industri perangkat keras AI di Amerika Serikat. Ekspor produk elektronik yang berkaitan dengan AI selama ini ikut menopang pertumbuhan ekonomi Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura. Jika kenaikan imbal hasil obligasi AS dan biaya pendanaan akhirnya menekan industri AI, permintaan terhadap produk dari Asia bisa ikut melemah dan membuat pertumbuhan ekonomi kawasan melambat.
Jadi, apakah krisis keuangan Asia 1997 akan terulang? Berdasarkan pandangan ekonom HSBC Frederick Neumann, jawabannya tidak sesederhana melihat beberapa indikator yang tampak mirip. Memang ada persamaan, seperti tingginya imbal hasil Treasury AS, pelemahan yen Jepang, serta optimisme teknologi yang kini dipicu oleh AI. Namun, struktur ekonomi Asia saat ini sudah jauh berbeda sehingga risiko yang dihadapi kawasan tersebut juga ikut berubah.
Kalau kamu ingin memahami situasinya, poin pentingnya bukan sekadar membandingkan angka 1997 dengan kondisi sekarang. Kamu juga perlu melihat bagaimana posisi keuangan negara-negara Asia telah berubah dan seberapa besar ketergantungannya terhadap permintaan global. Dengan begitu, kamu bisa melihat bahwa ancaman yang dihadapi Asia saat ini bukan berarti pengulangan persis krisis 1997, melainkan potensi perlambatan jika mesin pertumbuhan berbasis AI dan ekspor mulai kehilangan tenaga.