Kunjungan Wisman Tembus 1,25 Juta di April 2026, Tertinggi Sejak COVID

- Kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada April 2026 mencapai 1,25 juta, naik 14,75 persen dari bulan sebelumnya dan menjadi capaian tertinggi sejak pandemi COVID-19.
- Secara kumulatif Januari–April 2026, kunjungan wisman tembus 4,68 juta dengan dominasi turis asal Malaysia, Australia, dan China; peningkatan didorong musim liburan luar negeri.
- Perjalanan wisatawan nusantara mencapai 97,55 juta pada April 2026 meski turun bulanan; tingkat hunian hotel berbintang naik hingga 48,83 persen berkat meningkatnya aktivitas MICE pasca-Lebaran.
Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 1,25 juta kunjungan pada April 2026. Capaian tersebut meningkat 14,75 persen dibandingkan Maret 2026 dan naik 7,22 persen dibandingkan April tahun lalu.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini mengatakan, jumlah kunjungan wisman pada April 2026, terdiri atas 1,08 juta kunjungan melalui pintu masuk utama dan 168.569 kunjungan melalui pintu masuk perbatasan.
“Secara total jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada April 2026 mencapai 1,25 juta kunjungan atau meningkat 14,75 persen secara bulanan dan naik 7,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Pudji dalam Konferensi Pers BPS, Senin (2/6/2026).
1. Jumlah kunjungan wisman Januari-April capai 4,68 juta kunjungan

Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisman sepanjang Januari-April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan atau meningkat 8,24 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Menurut Pudji, capaian tersebut menjadi yang tertinggi untuk periode Januari-April sejak 2020.
Berdasarkan kewarganegaraan, wisman yang paling banyak berkunjung ke Indonesia melalui pintu masuk utama berasal dari Malaysia dengan porsi 16,65 persen dari total kunjungan.
"Posisi berikutnya ditempati Australia sebesar 12,65 persen dan China sebesar 10,73 persen. Kunjungan wisatawan pemegang paspor Malaysia, Australia, dan China meningkat baik secara bulanan maupun tahunan," tuturnya.
Sementara itu, pintu masuk utama yang paling banyak menerima wisman masih melalui Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang didominasi wisatawan asal Australia. Peningkatan jumlah kunjungan wisman pada April antara lain didorong oleh periode liburan sekolah di Australia serta spring holiday di Perancis.
2. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara 97,55 juta perjalanan

Di sisi lain, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada April 2026 tercatat sebanyak 97,55 juta perjalanan. Jumlah tersebut turun 22,79 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan merosot 24,14 persen dibandingkan April 2025.
"Secara kumulatif perjalanan wisnus selama Januari-April 2026 mencapai 417,06 juta perjalanan atau meningkat 1,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sejak tahun 2021," ujarnya.
3. Pejalanan wisnus ke luar negeri turun 18,85 persen secara bulanan

Sementara itu, jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke luar negeri atau wisatawan nasional pada April 2026 tercatat sebanyak 644 ribu perjalanan. Angka ini menurun 18,85 persen secara bulanan dan turun 30,54 persen dibandingkan April 2025.
Secara kumulatif, jumlah perjalanan warga Indonesia ke luar negeri sepanjang Januari-April 2026 mencapai 3,14 juta perjalanan atau turun 3,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi akomodasi, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada April 2026 mencapai 48,83 persen. Angka tersebut meningkat 6,05 poin persentase dibandingkan Maret 2026 dan naik 1,85 poin persentase dibandingkan April tahun lalu.
TPK hotel berbintang tertinggi tercatat di Bali sebesar 57,94 persen, diikuti DKI Jakarta sebesar 54,80 persen dan Kalimantan Barat sebesar 53,76 persen. Menurut BPS, sebagian besar provinsi mengalami peningkatan TPK hotel berbintang pada April 2026. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran (MICE) setelah berakhirnya periode Ramadan dan Lebaran. Selain itu, TPK hotel berbintang secara umum masih lebih tinggi dibandingkan hotel nonbintang di berbagai provinsi.
"Kondisi ini mencerminkan mulai meningkatnya aktivitas perjalanan bisnis dan kegiatan penyelenggaraan acara di sejumlah daerah," ucapnya.
















