Jakarta, IDN Times - Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira memperkirakan sektor manufaktur masih akan menghadapi berbagai tantangan hingga akhir 2026. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, proses pemulihan industri dinilai akan berlangsung lambat dan tidak merata.
Menurut Anggawira, industri yang berorientasi ekspor dan padat karya menjadi sektor yang paling rentan terhadap tekanan ekonomi, baik dari pelemahan permintaan global maupun kenaikan biaya produksi.
"Pelemahan ini juga menunjukkan bahwa daya beli masyarakat memang sedang tertekan. Ketika pesanan baru turun, produksi melambat, dan pelaku industri mulai lebih berhati-hati, artinya konsumsi domestik belum cukup kuat menjadi penopang utama industri," tegasnya, Sabtu (11/7/2026).
