Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menutup Kesenjangan Komunikasi Talenta Bisnis Indonesia di Era AI

Menutup Kesenjangan Komunikasi Talenta Bisnis Indonesia di Era AI
Ilustrasi ELSA Business, yang kini mulai berbasis AI. (Dok. ELSA)
Intinya Sih
  • Adopsi AI di Indonesia meningkat pesat, namun hanya sebagian kecil organisasi yang benar-benar siap memanfaatkannya secara optimal menurut laporan Microsoft, LinkedIn, dan Cisco.
  • Kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris menjadi faktor penting dalam kesiapan tenaga kerja global, karena hambatan bahasa masih mengganggu kolaborasi dan produktivitas di banyak perusahaan.
  • ELSA Business menghadirkan solusi pembelajaran berbasis AI untuk meningkatkan kemampuan komunikasi profesional, membantu karyawan beradaptasi dengan era digital dan memperkuat daya saing organisasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap dunia kerja dan bisnis secara fundamental. Tantangannya kini tidak lagi sekadar mengadopsi teknologi, tetapi memastikan organisasi memiliki talenta yang siap memanfaatkannya secara optimal.

Berdasarkan Work Trend Index 2024 dari Microsoft dan LinkedIn, sebanyak 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah menggunakan generative AI dalam pekerjaan sehari-hari. Namun, Cisco AI Readiness Index 2025 menunjukkan bahwa hanya 23 persen organisasi di Indonesia yang siap sepenuhnya memanfaatkan potensi AI.

Seiring meningkatnya adopsi AI, kebutuhan terhadap keterampilan manusia juga semakin tinggi. World Economic Forum memproyeksikan analytical thinking, resilience, creative thinking, technology literacy, serta AI and big data sebagai kompetensi utama hingga 2030.

1. Bahasa Inggris dan komunikasi jadi penting

Perwakilan ELSA Business dan Danamon berfoto bersama di depan layar berisi komitmen kolaborasi untuk pengembangan karyawan di kantor Danamon.
ELSA Business dan Danamon hadirkan kerja sama untuk pengembangan karyawan. (Dok. Istimewa)

Untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam lingkungan kerja yang semakin global, kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris menjadi semakin penting. Namun, kemampuan bahasa Inggris masih menjadi tantangan bagi banyak tenaga kerja Indonesia yang masih berada dalam kategori low proficiency menurut EF English Proficiency Index 2025.

Dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga organisasi. Studi global IDC (2025) menunjukkan bahwa 78 persen perusahaan mengalami kendala dalam interaksi dengan klien, mitra bisnis, dan ekspansi pasar akibat hambatan bahasa, sementara 74 persen menyatakan hambatan komunikasi turut mempengaruhi kolaborasi internal dan pengambilan keputusan.

Di sisi lain, tantangan ini tidak selalu disebabkan oleh kurangnya pemahaman bahasa Inggris. Banyak profesional sebenarnya telah memahami bahasa Inggris, namun belum percaya diri menggunakannya dalam situasi kerja nyata. Kesenjangan antara memahami dan mampu berkomunikasi secara efektif dapat membatasi produktivitas, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi secara optimal.

2. Pengembangan kemampuan Bahasa Inggris jadi penting

Karyawan Danamon dan ELSA Business berfoto bersama dalam acara peluncuran program pembelajaran daring untuk pengembangan karyawan.
ELSA Business dan Danamon hadirkan kerja sama untuk pengembangan karyawan. (Dok. Istimewa)

Karena itu, pengembangan kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan talenta perusahaan untuk meningkatkan Global Workforce Readiness, dimana karyawan mampu menjadi pemimpin dan mampu menghadapi dinamika bisnis tingkat global serta memaksimalkan nilai bisnis yang dihasilkan dari transformasi digital.

“Di era AI, kesiapan organisasi ditentukan oleh juga oleh kemampuan talenta untuk beradaptasi dan berkomunikasi secara efektif. Karena itu, investasi pada pengembangan keterampilan menjadi kunci untuk membangun organisasi serta meningkatkan Global Workforce Readiness," ujar Country Director ELSA Business Indonesia, Yasser Muhammad Syaiful dalam keterangannya.

ELSA Business melalui ELSA Enterprise AI Learning Agent, memanfaatkan AI coach dan simulasi berbasis real-world business scenario. Dengan begitu, para peserta dapat berlatih komunikasi profesional dalam situasi yang relevan dengan pekerjaan sehari-hari.

Pendekatan berbasis AI ini membantu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan kepercayaan diri dalam berkomunikasi, sekaligus mendukung kesiapan talenta untuk beradaptasi dan berkembang di era AI.

3. Hadirnya pembelajaran yang lebih konseptual

Seorang pembicara mempresentasikan materi bertema loyalitas pelanggan di acara ELSA Business yang kini berbasis kecerdasan buatan.
Ilustrasi ELSA Business, yang kini mulai berbasis AI. (Dok. ELSA)

Secara global, ELSA Business telah dipercaya oleh lebih dari 1.300 organisasi di dunia dalam mendukung pengembangan keterampilan komunikasi karyawan. Melalui program pembelajaran berbasis AI, ELSA Business memungkinkan pelatihan yang terukur dan dapat diterapkan dalam skala besar, sesuatu yang sulit dicapai melalui metode pelatihan konvensional.

"Melalui teknologi AI, ELSA Business membantu perusahaan menghadirkan pembelajaran yang lebih personal, kontekstual, dan terukur, sehingga pengembangan talenta dapat memberikan dampak yang nyata bagi kesiapan tenaga kerja maupun pertumbuhan bisnis,” ungkap Yasser.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More