Rupiah Tembus Rp18.000, Airlangga Pastikan Fundamental Ekonomi Kuat

- Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski rupiah sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS, dengan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen dan neraca perdagangan masih positif.
- Pemerintah menjaga inflasi di kisaran target 2,5 persen serta menyiapkan insentif seperti pembebasan bea masuk bahan baku plastik dan LPG untuk mendukung daya saing industri.
- Program pemerintah seperti KUR dan kredit perumahan terus berjalan baik, sementara lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di sekitar 5 persen.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai fundamental ekonomi Indonesia masih tetap kuat meski nilai tukar rupiah kembali menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pemerintah menyebut pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca perdagangan, hingga sektor perbankan masih menjadi penopang ketahanan ekonomi domestik.
Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi kemarin masih baik di 5,61 persen. Kemudian, neraca perdagangan secara year to date juga masih positif," ujar Airlangga dikutip Sabtu (11/7/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda kemarin menguat sebesar 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS.
1. Kinerja ekspor diklaim masih terjaga

Menurut dia, defisit neraca perdagangan yang terjadi dalam satu bulan terakhir terutama dipicu oleh kenaikan nilai impor bahan bakar minyak (BBM).
Di sisi lain, kinerja ekspor sejumlah komoditas utama Indonesia masih terjaga. Airlangga menyebut ekspor kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya.
"Ekspor kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy sebetulnya angkanya relatif sama seperti sebelumnya. Tentu ini akan terus kita jaga dalam beberapa bulan ke depan," katanya.
2. Tingkat inflasi masih terjaga

Airlangga juga menegaskan tingkat inflasi masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.
Untuk menjaga daya saing industri, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah insentif, di antaranya pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
Selain itu, pemerintah akan memberikan fasilitas bea masuk nol persen untuk impor liquefied petroleum gas (LPG) sebagai bahan baku industri petrokimia selama enam bulan ke depan.
3. Prospek ekonomi Indonesia masih tetap terjaga

Airlangga menambahkan, berbagai program pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit perumahan, juga terus berjalan dengan capaian yang dinilai positif.
Ia menilai prospek ekonomi Indonesia masih tetap terjaga. Hal itu tercermin dari proyeksi sejumlah lembaga internasional yang masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen.
"Dari berbagai lembaga, baik World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita masih di kisaran 5 persen. Jadi, secara umum mereka menilai perekonomian Indonesia relatif aman dan solid," ucap Airlangga



















