Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mata Uang Garuda Ditutup Menguat ke Rp17.963 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah ditutup menguat 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.963 per dolar AS pada perdagangan Jumat, mengikuti tren positif mayoritas mata uang Asia.
  • Penguatan rupiah dipicu pelemahan dolar AS setelah data Non-Farm Payrolls Amerika Serikat lebih rendah dari ekspektasi, membuka peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
  • Meski menguat, analis menilai ruang penguatan rupiah masih terbatas karena minat investor asing belum pulih dan pasar menanti katalis positif dari ekonomi domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2027). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp17.963 per dolar AS.

Pada perdagangan sore ini, rupiah tercatat menguat 32 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

1. Rincian mata uang yang menguat sore ini

Mayoritas mata uang di Asia bergerak menguat, rinciannya:

  • Bath Thailand menguat 0,08 persen

  • Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen

  • Rupee India menguat 0,06 persen

  • Pesso Filipina menguat 0,14 persen

  • Won Korea menguat 7,28 persen

2. Alasan rupiah menguat

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Penguatan didorong oleh pelemahan dolar AS setelah data ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) AS dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar.

"Data tersebut memicu tekanan terhadap dolar AS karena meningkatkan harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memiliki ruang lebih besar untuk memangkas suku bunga dalam waktu mendatang," tegasnya.

3. Penguatan rupiah masih berlangsung terbatas

Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan masih akan berlangsung terbatas. Pasalnya, minat investor asing terhadap pasar keuangan domestik dinilai belum sepenuhnya pulih, sehingga arus modal asing masih cenderung berhati-hati.

Selain mencermati perkembangan kebijakan moneter AS, pelaku pasar juga masih menunggu katalis positif dari dalam negeri yang mampu mendorong masuknya kembali dana asing ke pasar obligasi maupun saham Indonesia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article