Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Ada Risiko yang Tidak Bisa Diasuransikan? Ini Penjelasannya

Ilustrasi asuransi
Ilustrasi asuransi (unsplash.com/Vlad Deep)
Intinya sih...
  • Mekanisme pengumpulan risiko dalam asuransi
    • Perusahaan mengumpulkan dana premi dari kelompok berisiko rendah dan tinggi secara bersamaan.
    • Risiko baru dianggap layak asuransi jika dapat dihitung, diukur, dan dilacak probabilitasnya berdasarkan data historis.
    • Batasan hukum dan tanggung jawab manajer risiko
      • Perusahaan asuransi dilarang memberikan perlindungan terhadap denda atau sanksi pidana karena melanggar ketentuan hukum.
      • Manajer risiko harus bekerja ekstra untuk mengidentifikasi ancaman kerugian organisasi mereka.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dalam dunia asuransi, tidak semua potensi kerugian dapat ditanggung oleh perusahaan penyedia layanan. Terdapat kondisi yang disebut sebagai risiko yang tidak dapat diasuransikan (uninsurable risk).

Dilansir situs, uninsurable risk yakni situasi di mana tingkat kerugian sulit diprediksi, terlalu tinggi, atau secara hukum dilarang untuk dijamin. Langkah tersebut diambil perusahaan asuransi untuk membatasi kerugian finansial dari kejadian yang hampir dipastikan akan terjadi.

Meski begitu, beberapa wilayah menyediakan skema "pool risiko tinggi" bagi warga yang sulit mendapatkan proteksi standar, walaupun dengan konsekuensi premi yang jauh lebih mahal dan manfaat yang terbatas.

1. Mekanisme pengumpulan risiko dalam asuransi

Asuransi kendaraan
ilustrasi asuransi kendaraan (freepik.com/jcomp)

Konsep dasar asuransi sebenarnya bertumpu pada pengumpulan risiko (risk pooling). Perusahaan mengumpulkan dana premi dari kelompok berisiko rendah dan tinggi secara bersamaan. Secara tidak langsung, dana dari nasabah yang jarang mengajukan klaim digunakan untuk menutupi biaya mereka yang berada di kategori risiko tinggi.

Agar sistem ini tetap sehat secara finansial, mayoritas anggota dalam kelompok tersebut harus tetap berada dalam kondisi aman atau tidak mengalami kerugian. Jika perusahaan nekat menanggung risiko yang tidak dapat diukur, peningkatan pembayaran klaim dikhawatirkan akan menguras dana cadangan dan menyebabkan perusahaan bangkrut.

Suatu risiko baru dianggap layak asuransi jika para aktuaris dapat menghitung, mengukur, dan melacak probabilitasnya berdasarkan data historis. Sebagai contoh, banjir rutin di suatu wilayah masih bisa dihitung risikonya, namun hal personal seperti kegagalan pernikahan dianggap tidak mungkin diasuransikan karena faktor kegagalannya terlalu abstrak untuk dikalkulasi secara pasti.

2. Batasan hukum dan tanggung jawab manajer risiko

ilustrasi asuransi jiwa
ilustrasi asuransi jiwa (freepik.com/rawpixel.com)

Penetapan status risiko yang tidak dapat diasuransikan juga dipengaruhi oleh aspek legalitas. Perusahaan asuransi dilarang memberikan perlindungan terhadap denda atau sanksi pidana karena tindakan tersebut melanggar ketentuan hukum.

Namun, hingga kini belum ada daftar tunggal yang merinci seluruh jenis risiko yang masuk kategori ini. Hal tersebut membuat manajer risiko di perusahaan-perusahaan besar harus bekerja ekstra untuk mengidentifikasi ancaman kerugian organisasi mereka.

Jika asuransi komersial tidak mampu menanggung risiko tertentu, perusahaan terpaksa mencari cara lain untuk mengelola atau mengeliminasi potensi bahaya tersebut secara mandiri.

3. Contoh kondisi yang sulit mendapat proteksi asuransi

ilustrasi asuransi (freepik.com/freepik
ilustrasi asuransi (freepik.com/freepik

Setiap perusahaan asuransi memiliki kebijakan berbeda, namun umumnya terdapat tiga faktor utama yang membuat sebuah objek sulit mendapatkan perlindungan:

Frekuensi Kejadian Terlalu Tinggi: Jika sebuah peristiwa bencana dianggap terlalu sering terjadi, perusahaan asuransi cenderung menolak memberikan jaminan.

Lokasi Geografis Ekstrem: Properti yang berada di pesisir pantai dengan frekuensi badai yang sangat tinggi sering kali dianggap tidak dapat diasuransikan karena risiko kerusakan sudah hampir pasti terjadi.

Zona Rawan Bencana: Pemilik hunian di wilayah yang rawan tanah longsor atau zona banjir permanen biasanya akan sulit mendapatkan polis standar. Dalam situasi ini, masyarakat umumnya harus bergantung pada program asuransi khusus dari pemerintah atau penyedia layanan spesialis risiko tinggi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in Business

See More

BRI Buka Pendaftaran Program Desa BRILiaN 2026, Ini Syaratnya!

18 Feb 2026, 07:07 WIBBusiness