Mengenal Bahaya Skema Piramida dan Bedanya dengan MLM Legal, Cek!

- Skema piramida mengandalkan perekrutan anggota baru sebagai sumber uang utama, sehingga berisiko runtuh saat calon peserta terbatas dan anggota di lapisan bawah kehilangan dana.
- MLM legal berfokus pada penjualan produk kepada konsumen ritel; peserta seharusnya tetap dapat memperoleh penghasilan tanpa wajib merekrut distributor baru.
- Waspadai janji cepat kaya, tekanan membeli stok, dan klaim kesuksesan. Sebelum membayar, teliti aliran uang, biaya, kontrak, pasar produk, serta keluhan perusahaan.
Kasus dugaan skema piramida kembali menjadi perhatian setelah 52 warga Singapura ditangkap dan ditahan di Guangxi, China, karena diduga terlibat dalam skema tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa kamu perlu lebih teliti ketika mendapat tawaran bisnis yang menjanjikan penghasilan besar lewat penjualan produk maupun perekrutan anggota baru.
Pasalnya, skema piramida bisa dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat seperti bisnis multi-level marketing (MLM) yang legal. Padahal, cara bisnis tersebut menghasilkan uang bisa sangat berbeda. Lantas, bagaimana cara membedakan MLM legal dengan skema piramida dan apa saja bahayanya?
1. Pahami cara kerja skema piramida

ilustrasi seminar (pexels.com/fauxels) Secara sederhana, skema piramida adalah model bisnis yang menjadikan perekrutan peserta baru sebagai sumber utama untuk menghasilkan uang. Kamu biasanya diminta bergabung, membayar sejumlah biaya atau membeli produk, kemudian mendapatkan dorongan untuk mengajak orang lain masuk ke dalam jaringan. Menurut Investor.gov yang dikelola U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), skema piramida klasik membuat peserta berusaha mendapatkan uang terutama atau bahkan hanya dengan merekrut peserta baru.
Masalahnya, sistem seperti ini membutuhkan aliran anggota baru secara terus-menerus agar uang tetap bergerak ke bagian atas jaringan. Dalam Investor.gov dijelaskan bahwa skema semacam ini pada akhirnya akan runtuh karena jumlah peserta yang dibutuhkan terus membesar, sementara jumlah calon anggota baru tentu terbatas. Ketika perekrutan gak lagi mampu menghasilkan cukup uang untuk membayar peserta sebelumnya, banyak orang yang berada di bagian bawah akhirnya kehilangan uang.
2. Kenali bedanya MLM legal dan skema piramida

ilustrasi bisnis MLM, member, anggota (pexels.com/Tam Hoang) MLM gak otomatis berarti skema piramida, lho, karena ada bisnis MLM yang memperoleh pendapatan melalui penjualan produk kepada konsumen. Menurut Federal Trade Commission (FTC), peserta MLM umumnya bisa mendapatkan uang melalui penjualan produk kepada pelanggan ritel dan, dalam beberapa model, memperoleh komisi dari penjualan yang dilakukan distributor yang mereka rekrut. FTC juga menekankan bahwa dalam MLM yang bukan skema piramida, seseorang seharusnya tetap bisa menghasilkan uang dari penjualan kepada pelanggan ritel tanpa harus merekrut distributor baru.
Hal ini sejalan dengan penjelasan pengacara Tania Chin dari Lighthouse Law yang dikutip CNA. Dalam struktur MLM, distributor independen bisa memperoleh pendapatan dari penjualan langsung sekaligus komisi dari penjualan perwakilan baru yang mereka rekrut. Sementara itu, pada skema piramida, perekrutan justru menjadi fokus utama untuk menghasilkan uang sehingga produk bisa saja hanya menjadi kedok untuk menjalankan sistem tersebut.
3. Waspadai janji untung besar dan stok menumpuk

ilustrasi penghasilan fantastis, keuntungan, money scam, fraud, penipuan uang, investasi bodong (pexels.com/Pavel Danilyuk) Kamu patut berhati-hati kalau sebuah bisnis menawarkan penghasilan fantastis dalam waktu singkat atau menggambarkan peluang tersebut sebagai cara cepat untuk menjadi kaya. Menurut Investor.gov, janji mendapatkan keuntungan tinggi dalam waktu singkat merupakan salah satu tanda yang perlu dicurigai karena komisi bisa saja sebenarnya berasal dari uang peserta baru, bukan dari pendapatan penjualan produk. FTC juga memasukkan janji berlebihan mengenai potensi penghasilan sebagai salah satu tanda bahaya skema piramida.
Risiko lainnya muncul ketika kamu diminta membeli produk dalam jumlah tertentu secara berkala agar tetap dianggap aktif atau berhak mendapatkan bonus. FTC menjelaskan bahwa peserta skema semacam ini bisa membeli lebih banyak produk daripada yang mereka butuhkan atau mampu jual kembali. CNA juga mencatat bahwa tekanan membeli produk dalam jumlah bulanan dapat membuat peserta memiliki stok yang sulit dijual, sementara kewajiban merekrut orang dari lingkungan terdekat berpotensi merusak hubungan dengan keluarga dan teman.
4. Jangan gampang percaya karena ada orang yang sudah untung

ilustrasi peringatan (freepik.com/drobotdean) Kamu mungkin semakin yakin sebuah bisnis aman ketika orang yang mengajakmu bergabung terlihat sukses. Apalagi kalau mereka menunjukkan mobil, liburan, penghasilan, atau gaya hidup yang diklaim berasal dari bisnis tersebut. Padahal menurut FTC, kamu tetap perlu melakukan riset sendiri dan gak hanya mengandalkan klaim penghasilan dari distributor yang sedang mempromosikan bisnis.
Kamu juga perlu melihat dari mana sebenarnya uang perusahaan berasal. Investor.gov menyarankan calon peserta mempertanyakan apakah perusahaan benar-benar memperoleh pendapatan dari penjualan produk kepada konsumen di luar jaringan, bukan hanya dari perekrutan anggota. CNA pun mengutip pengacara Andy Yeo yang menyarankan calon peserta memetakan aliran uang dalam bisnis, termasuk siapa yang memegang dana, untuk apa uang digunakan, dan apakah memang ada produk yang benar-benar dijual. Dengan begitu, kamu bisa menilai apakah bisnis tersebut memang berjalan dari aktivitas penjualan yang nyata atau justru bergantung pada uang dari anggota baru.
5. Lakukan pengecekan sebelum mengeluarkan uang

ilustrasi berpikir (magnific.com/benzoix) Sebelum bergabung, jangan langsung membayar biaya pendaftaran atau membeli paket produk hanya karena mendapat tekanan untuk segera mengambil kesempatan. FTC menyarankan untuk melakukan riset terhadap perusahaan, mencari ulasan atau keluhan, memahami seluruh biaya, membaca dokumen dan kontrak, serta memeriksa kebijakan pengembalian produk. Kamu juga bisa bertanya kepada distributor yang masih aktif maupun yang sudah keluar mengenai penghasilan bersih, pengeluaran, jumlah produk yang dibeli, dan apakah mereka benar-benar mendapatkan uang dari penjualan kepada konsumen.
Selain itu, coba jawab satu pertanyaan sederhana: apakah kamu tetap bisa mendapatkan penghasilan yang masuk akal hanya dengan menjual produk kepada orang di luar jaringan, tanpa merekrut siapa pun? Tania Chin yang dikutip CNA menyebut pertanyaan tersebut sebagai salah satu cara untuk melihat apakah sebuah model bisnis berpotensi menjadi jebakan perekrutan. Kalau jawabannya tidak, sebaiknya jangan terburu-buru memasukkan uang sebelum memahami model bisnis dan legalitasnya secara lebih mendalam.
Pada akhirnya, kamu memang perlu lebih kritis ketika ditawari bisnis yang menggunakan sistem jaringan atau perekrutan. MLM gak otomatis merupakan skema piramida, tapi kamu perlu melihat sumber pendapatan sebenarnya, bukan hanya nama atau label yang digunakan perusahaan. Kalau bisnis lebih banyak membicarakan perekrutan, menjanjikan keuntungan fantastis, atau memintamu terus membeli produk agar bisa mendapatkan bonus, sebaiknya anggap itu sebagai tanda bahaya.
Mengeluarkan uang untuk sebuah peluang bisnis tetap memiliki risiko, bahkan ketika bisnis tersebut terlihat profesional dan banyak orang yang mengikutinya. Karena itu, jangan menyerahkan keputusan finansial sepenuhnya kepada orang yang mengajakmu bergabung, ya. Luangkan waktu untuk melakukan riset, memahami aliran uang, menghitung seluruh biaya, dan memastikan produk memang memiliki pasar nyata sebelum mengambil keputusan.




















