Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Desak Suku Bunga AS Dipangkas, Pasar Malah Antisipasi Kenaikan

Trump Desak Suku Bunga AS Dipangkas, Pasar Malah Antisipasi Kenaikan
ilustrasi Amerika Serikat (unsplash.com/Jaime Dantas)
  • Donald Trump mendesak The Fed segera memangkas suku bunga karena menilai biaya pinjaman tinggi merugikan daya saing Amerika Serikat.
  • Ekonomi AS menambah 162.000 pekerjaan pada Agustus, sementara data Juli direvisi menjadi kenaikan 44.000 pekerjaan, memperkuat sinyal pasar tenaga kerja.
  • Inflasi tahunan masih 3,4% di atas target 2%, harga energi meningkat, dan hampir 60% trader memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga pada September.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Donald Trump kembali mendesak bank sentral Amerika Serikat atau The Fed untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Menurut Trump, suku bunga yang terlalu tinggi membuat AS berada dalam posisi yang gak menguntungkan dibandingkan negara lain.

Namun, keinginan Trump justru berlawanan dengan sinyal yang muncul dari pasar setelah data ketenagakerjaan AS terbaru dirilis. Pertumbuhan lapangan kerja pada Agustus ternyata jauh lebih kuat dari perkiraan, sementara inflasi masih berada di atas target The Fed.

Kondisi tersebut membuat peluang kenaikan suku bunga pada September justru semakin diperhitungkan. Lantas, kenapa Trump ingin suku bunga turun ketika pasar malah mulai bersiap menghadapi kenaikan?

  1. 1. Trump ingin suku bunga AS segera dipangkas

    ilustrasi Donald Trump
    ilustrasi Donald Trump (unsplash.com/History in HD)

    Trump secara terbuka meminta The Fed menurunkan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Ia menilai tingginya suku bunga membuat Amerika Serikat mengalami kerugian karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal. Dalam pernyataannya di media sosial, Trump bahkan mengatakan AS seharusnya memiliki suku bunga paling rendah dibandingkan negara mana pun di dunia.

    Bagi kamu yang mengikuti ekonomi AS, sikap Trump ini sebenarnya cukup penting karena presiden sedang memberikan tekanan secara terbuka kepada bank sentral. Trump juga meminta pimpinan The Fed untuk mengambil keputusan yang menurutnya lebih menguntungkan bagi Amerika. Namun, keputusan mengenai suku bunga tetap sangat bergantung pada kondisi ekonomi, terutama inflasi dan pasar tenaga kerja.

  2. 2. Data pekerjaan justru bikin peluang kenaikan meningkat

    ilustrasi berangkat kerja, jalan kaki, karyawan kantoran, pekerja, New York, Amerika Serikat, jalan raya
    ilustrasi berangkat kerja, jalan kaki, karyawan kantoran, pekerja, New York, Amerika Serikat, jalan raya (pexels.com/Sora Shimazaki)

    Masalahnya, data pekerjaan terbaru memberikan alasan yang berbeda dari keinginan Trump. Ekonomi AS menambah 162.000 pekerjaan pada Agustus, jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis yang hanya mencapai 56.000 pekerjaan. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan perekrutan di sektor restoran, bar, serta pendidikan pemerintah daerah menjelang tahun ajaran baru.

    Gak hanya angka Agustus yang terlihat kuat, data bulan sebelumnya juga ternyata direvisi naik. Jika sebelumnya Juli diperkirakan kehilangan 23.000 pekerjaan, perhitungan terbaru menunjukkan ekonomi justru menciptakan sekitar 44.000 pekerjaan. Artinya, kalau kamu melihat keseluruhan data, pasar tenaga kerja AS terlihat lebih kuat daripada yang sebelumnya diperkirakan.

  3. 3. Inflasi dan harga energi masih jadi masalah

    ilustrasi isi bensin
    ilustrasi isi bensin (unsplash.com/Ali Mkumbwa)

    Meski lapangan kerja bertambah, AS masih menghadapi persoalan inflasi. Harga-harga naik 3,4 persen dalam 12 bulan terakhir, sedangkan target inflasi tahunan The Fed berada di level 2 persen. Situasi ini membuat bank sentral punya alasan untuk berhati-hati sebelum memutuskan memangkas suku bunga.

    Tekanan harga juga semakin rumit karena konflik antara AS dan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak global. Pada Jumat, harga rata-rata diesel di AS bahkan mencapai rekor tertinggi US$5,85 per galon atau sekitar Rp103.171 per galon, dibandingkan US$3,71 atau sekitar Rp65.429 per galon pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jadi, meskipun kamu melihat pasar tenaga kerja yang kuat, biaya hidup masyarakat masih menghadirkan risiko inflasi yang tak bisa diabaikan.

  4. 4. Para ekonom melihat kenaikan suku bunga makin mungkin

    ilustrasi The Fed atau Federal Reserve
    ilustrasi The Fed atau Federal Reserve (commons.wikimedia.org/AgnosticPreachersKid)

    Kondisi tersebut membuat sejumlah ekonom menilai kenaikan suku bunga menjadi lebih mungkin terjadi. Stephen Brown, kepala ekonom Amerika Utara di Capital Economics, menilai data ketenagakerjaan Agustus sangat kuat sampai sulit menemukan alasan untuk mempertahankan suku bunga tanpa perubahan. Menurutnya, data inflasi berikutnya hanya perlu sedikit lebih tinggi dari target The Fed untuk semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada September.

    Pandangan serupa disampaikan Neil Birrell, kepala investasi di Premier Miton. Ia menilai peluang kenaikan suku bunga memang meningkat setelah melihat kekuatan pasar tenaga kerja terbaru. Data CME Group juga menunjukkan hampir 60 persen trader memperkirakan kenaikan suku bunga pada September, sehingga ekspektasi pasar kini cukup berbeda dari keinginan Trump.

  5. 5. Keputusan The Fed bisa berdampak ke pasar saham

    ilustrasi investasi, pasar saham
    ilustrasi investasi, pasar saham (freepik.com/rawpixel.com)

    Pertemuan berikutnya untuk menentukan kebijakan suku bunga dijadwalkan pada 15-16 September. Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75 persen pada Juli, sekaligus mencatat keputusan tersebut sebagai yang kelima secara berturut-turut tanpa perubahan. Dengan inflasi yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang kuat, keputusan September menjadi sesuatu yang patut kamu perhatikan.

    Menariknya, indeks saham AS justru bergerak turun setelah data pekerjaan yang kuat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Trump menyebut reaksi tersebut sebagai sesuatu yang gak masuk akal karena menurutnya data pekerjaan yang bagus seharusnya membuat pasar saham naik. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa kabar ekonomi yang terlihat positif bagi masyarakat belum tentu dianggap positif oleh pasar saham jika berpotensi membuat kebijakan moneter menjadi lebih ketat.

    Situasi ekonomi AS saat ini memang cukup rumit karena ada dua kekuatan yang saling berlawanan. Di satu sisi, Trump ingin suku bunga dipangkas agar biaya pinjaman lebih rendah dan posisi AS lebih kompetitif, tapi di sisi lain inflasi masih berada di atas target dan pasar tenaga kerja menunjukkan ketahanan yang kuat. Kondisi tersebut membuat pasar justru mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.

    Bagi masyarakat yang mengikuti perkembangan ekonomi global, keputusan The Fed nanti layak diperhatikan karena bisa memengaruhi pasar saham, biaya pinjaman, nilai aset, hingga sentimen ekonomi secara lebih luas. Apalagi, data inflasi berikutnya akan menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan apakah ekspektasi kenaikan suku bunga semakin kuat atau kembali berubah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More