Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan hal serupa. Dia mengatakan, pasar tak menyukai adanya ketidakpastian, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan bank sentral.
“Bukan karena fundamental ekonomi Indonesia berubah secara tiba-tiba, melainkan karena pasar keuangan pada dasarnya tidak menyukai ketidakpastian, terutama ketika terjadi pergantian kepemimpinan di bank sentral yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah suku bunga, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta memastikan stabilitas sistem keuangan,” kata Hendra dalam keterangannya.
Hendra mengatakan, sebelum ada pemberitaan itu, pasar modal dalam negeri masih menghadapi sentimen negatif dari eksternal.
“Sentimen tersebut muncul di tengah kondisi global yang juga masih penuh tantangan, mulai dari menjelang keputusan suku bunga The Fed (FOMC), tingginya volatilitas pasar global, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik yang membuat investor cenderung mengambil sikap wait and see,” ucap Hendra.
Meski begitu, menurutnya terdapat sentimen positif yang berpotensi membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak ini dapat meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global, mengurangi tekanan terhadap kebijakan suku bunga bank sentral, serta menurunkan risiko kenaikan biaya energi bagi dunia usaha.
“Bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak, pelemahan harga minyak juga berpotensi memberikan sentimen positif terhadap inflasi domestik, neraca perdagangan, dan stabilitas nilai tukar rupiah,” tutur Hendra.