Laporan Global Broadband Price League 2026 dari Broadband Genie memperlihatkan bahwa wilayah kepulauan dan negara dengan kondisi geografis tertentu mendominasi daftar internet termahal di dunia. Dari 214 negara dan wilayah yang dibandingkan, selisih harga antara termurah dan termahal bahkan mencapai lebih dari 140 kali lipat. Lantas, negara dan wilayah mana saja yang masuk daftar tersebut?
Negara dengan Internet Termahal di Dunia 2026

- Laporan Global Broadband Price League 2026 membandingkan 214 negara dan wilayah, dengan selisih biaya broadband termurah dan termahal melampaui 140 kali lipat.
- Wallis dan Futuna menjadi wilayah termahal dengan rata-rata 373,88 dolar AS per bulan, disusul Turkmenistan 286,24 dolar AS dan Turks serta Caicos 252 dolar AS.
- Sebanyak 18 dari 25 pasar broadband termahal merupakan negara atau wilayah kepulauan; keterpencilan, kabel bawah laut, infrastruktur, pasar, dan biaya operasional memengaruhi harga.
Internet sudah menjadi kebutuhan penting untuk bekerja, menjalankan bisnis, belajar, hingga mengakses berbagai layanan. Namun, biaya untuk mendapatkan koneksi internet ternyata berbeda sangat jauh antara satu negara dan negara lainnya. Di sejumlah wilayah, masyarakat harus membayar ratusan dolar AS setiap bulan untuk layanan broadband rumah.
Table of Content
1. Wallis dan Futuna jadi wilayah dengan internet termahal

Masyrakat Wallis dan Futuna (commons.wikimedia.org/Brigitte & Heinz) Wallis dan Futuna menempati posisi pertama sebagai wilayah dengan biaya internet tetap termahal. Rata-rata harga paket broadband di wilayah tersebut mencapai 373,88 dolar AS per bulan, atau sekitar Rp6,6 juta. Angka tersebut jauh di atas biaya internet di banyak negara lain yang masuk dalam pemeringkatan.
Wallis dan Futuna merupakan wilayah kepulauan di Pasifik Selatan dengan jumlah penduduk yang kecil dan letak yang cukup terpencil. Kondisi seperti ini membuat pembangunan serta pemeliharaan jaringan telekomunikasi menjadi lebih mahal karena infrastruktur harus menjangkau wilayah yang jauh dengan jumlah pelanggan yang relatif sedikit. Kebutuhan terhadap koneksi melalui kabel bawah laut juga menjadi salah satu faktor penting yang membuat biaya penyediaan internet di wilayah kepulauan bisa melonjak.
2. Turkmenistan punya biaya internet lebih dari Rp5 juta per bulan

Masyarakat Turkmenistan (commons.wikimedia.org/Ben Paarmann) Turkmenistan berada di posisi kedua dengan rata-rata biaya broadband sebesar 286,24 dolar AS per bulan, setara sekitar Rp5,1 juta. Angka tersebut membuat negara di Asia Tengah ini berada di antara pasar internet dengan biaya paling tinggi dalam pemeringkatan global. Posisi Turkmenistan cukup menarik karena negara ini bukan wilayah kepulauan, berbeda dari sebagian besar nama lain dalam daftar.
Biaya internet yang tinggi tidak selalu hanya berkaitan dengan jarak geografis atau keberadaan sebagai negara kepulauan. Kondisi pasar telekomunikasi, jumlah penyedia layanan, infrastruktur yang tersedia, serta biaya operasional juga dapat memengaruhi harga yang dibayarkan pelanggan. Karena itu, kasus Turkmenistan menunjukkan bahwa internet mahal memiliki penyebab yang lebih beragam daripada sekadar persoalan lokasi.
3. Turks dan Caicos Islands masuk tiga besar

Turks dan Caicos Islands (commons.wikimedia.org/Jared) Turks dan Caicos Islands menempati urutan ketiga dengan rata-rata biaya broadband 252 dolar AS per bulan. Jika dikonversikan menggunakan kurs sekitar Rp17.700 per dolar AS, nilainya mencapai sekitar Rp4,5 juta setiap bulan. Wilayah kepulauan di Karibia ini menjadi salah satu contoh bagaimana lokasi yang terpencil dapat berpengaruh terhadap biaya akses internet.
Saint Barthélemy kemudian berada di posisi keempat dengan biaya rata-rata 207,26 dolar AS, atau sekitar Rp3,7 juta per bulan. Eswatini melengkapi lima besar dengan rata-rata 193,31 dolar AS, setara sekitar Rp3,4 juta. Lima besar tersebut menunjukkan bahwa meskipun wilayah kepulauan mendominasi, negara daratan seperti Eswatini dan Turkmenistan juga dapat memiliki biaya broadband yang sangat tinggi.
4. Daftar negara dengan internet termahal di dunia

Masyarakat Eswatini (commons.wikimedia.org/Sphiwe Clememtine Mkhabela) Selain lima nama teratas, Broadband Genie mencatat sejumlah negara dan wilayah lain. Mereka memiliki biaya internet tetap yang jauh lebih mahal dibandingkan harga internet rata-rata global. Berikut daftarnya berdasarkan rata-rata harga broadband bulanan
Negara dengan internet termahal di dunia
Sumber: Global Broadband Price League 2026 dari Broadband Genie Peringkat
Negara/Wilayah
Biaya per Bulan
1
Wallis dan Futuna
US$373,88 / sekitar Rp6,6 juta
2
Turkmenistan
US$286,24 / sekitar Rp5,1 juta
3
Turks dan Caicos Islands
US$252 / sekitar Rp4,5 juta
4
Saint Barthélemy
US$207,26 / sekitar Rp3,7 juta
5
Eswatini
US$193,31 / sekitar Rp3,4 juta
6
Suriah
US$189,92 / sekitar Rp3,4 juta
7
Burundi
US$186,46 / sekitar Rp3,3 juta
8
Komoro
US$175,12 / sekitar Rp3,1 juta
9
Cayman Islands
US$167,39 / sekitar Rp3 juta
10
British Virgin Islands
US$155 / sekitar Rp2,7 juta
Data tersebut berasal dari pemeringkatan Broadband Genie yang mengukur harga paket fixed-line broadband, bukan tarif internet seluler. Studi ini menggunakan harga yang dikumpulkan dari situs resmi penyedia layanan internet lokal atau situs perbandingan broadband tepercaya. Menariknya, 18 dari 25 pasar broadband termahal di dunia merupakan negara atau wilayah kepulauan. Hal ini memperlihatkan bahwa lokasi geografis memiliki kaitan kuat dengan biaya internet, terutama ketika sebuah wilayah membutuhkan infrastruktur khusus untuk terhubung dengan jaringan global.
Bagi konsumen, harga internet yang murah tentu menjadi keuntungan karena koneksi digital zaman sekarang semakin berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga dan kegiatan bisnis. Sebaliknya, biaya broadband yang mencapai jutaan rupiah per bulan dapat menjadi beban besar, terutama di wilayah yang pendapatannya tidak sebanding dengan harga layanan. Menurut kamu, apakah biaya internet di Indonesia saat ini sudah cukup murah dibandingkan negara lain?





![[QUIZ] Di Umur Berapa Kamu akan Kaya Raya? Cari Tahu di Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20240715/austin-distel-vvacrva56fc-unsplash-da57c56c5776d1a35ab60d3b63cfcb1b.jpg)














