ilustrasi Doha, Qatar (pexels.com/Halid Elosman)
Negara-negara dengan cadangan minyak dan gas yang melimpah biasanya memiliki keuntungan dalam menyediakan listrik murah. Qatar, Kuwait, Arab Saudi, dan Aljazair termasuk contoh negara yang mendapatkan manfaat dari sumber energi domestik yang besar. Ketersediaan bahan bakar berbiaya rendah membantu menekan biaya produksi listrik. Hasilnya, tarif yang dibayar masyarakat dapat dijaga tetap terjangkau.
Selain faktor sumber daya alam, kebijakan subsidi juga memainkan peran penting. Qatar misalnya memiliki tarif listrik sekitar Rp522 per kWh, sedangkan Kuwait berada di kisaran Rp636 per kWh. Arab Saudi juga menawarkan tarif sekitar Rp848 per kWh, jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara Eropa. Dukungan pemerintah membantu menjaga harga listrik tetap stabil bagi rumah tangga.
Meski demikian, kebijakan subsidi memiliki konsekuensi tersendiri bagi anggaran negara. Pemerintah harus menyediakan dana yang besar untuk mempertahankan harga listrik yang rendah. Karena itu, setiap negara memiliki pendekatan yang berbeda dalam menyeimbangkan antara keterjangkauan tarif dan keberlanjutan fiskal. Kebijakan energi yang dipilih akhirnya sangat menentukan harga listrik yang dinikmati masyarakat.
Data dari GlobalPetrolPrices.com menunjukkan bahwa tarif listrik dunia dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kebijakan pemerintah hingga ketersediaan sumber daya energi. Negara-negara Eropa dan sejumlah wilayah kepulauan mendominasi daftar negara dengan tarif listrik termahal. Sebaliknya, banyak negara kaya minyak dan gas menikmati tarif listrik yang jauh lebih rendah berkat sumber energi domestik dan dukungan subsidi.
Indonesia sendiri berada di posisi ke-98 dari 145 negara dengan tarif rata-rata sekitar Rp1.483 per kWh. Posisi tersebut menunjukkan bahwa biaya listrik di Indonesia masih relatif terjangkau dibandingkan sebagian besar negara lain. Sementara itu, Bermuda menjadi negara dengan tarif listrik tertinggi sekitar Rp7.596 per kWh, sedangkan Iran menjadi yang termurah dengan tarif sekitar Rp49 per kWh. Perbedaan yang mencapai lebih dari 155 kali lipat tersebut memperlihatkan betapa besar pengaruh kebijakan energi terhadap kehidupan masyarakat di seluruh dunia.