Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Belanja Subsidi dan Kompensasi Tembus Rp233 Triliun di Semester I

Belanja Subsidi dan Kompensasi Tembus Rp233 Triliun di Semester I
Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Realisasi belanja subsidi dan kompensasi APBN 2026 mencapai Rp233 triliun hingga semester I, naik 44,4 persen secara tahunan dan setara 52,1 persen dari pagu.
  • Lonjakan harga energi global, pelemahan rupiah, serta fluktuasi harga minyak mentah Indonesia mendorong APBN meningkatkan belanja subsidi dan kompensasi sebagai peredam gejolak.
  • Konsumsi BBM, LPG, listrik bersubsidi, pupuk, serta penerima subsidi bunga KUR meningkat, turut menaikkan kebutuhan belanja subsidi selama semester I 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi belanja subsidi dan kompensasi dalam APBN 2026 mencapai Rp233 triliun hingga semester I 2026.

Nilai tersebut naik 44,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp161,4 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Bahkan realisasi itu setara 52,1 persen dari pagu APBN 2026, terdiri dari belanja subsidi Rp116 triliun dan pembayaran kompensasi Rp116,9 triliun.

"Realisasi subsidi dan kompensasi dipengaruhi oleh fluktuasi ICP (harga minyak mentah Indonesia), nilai tukar, serta peningkatan volume BBM, LPG, dan listrik bersubsidi," tulis Kementerian Keuangan dalam laporannya, dikutip Selasa (28/7/2026).

1. Faktor kenaikan harga energi global

Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Arief Rahmat)

Tak hanya itu, Kemenkeu juga mencatat belanja tersebut dipicu lonjakan harga energi global dan pelemahan nilai tukar rupiah sehingga APBN harus bekerja lebih besar sebagai peredam gejolak (shock absorber).

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent mencapai 85 dolar AS per barel pada Juli 2026, naik 22,7 persen secara tahunan dan 39,6 persen sejak awal tahun (year to date/YTD).

2. Kenaikan konsumsi energi turut mendorong belanja subsidi

Ilustrasi anggaran (Sumber Gemini)
Ilustrasi anggaran (Sumber Gemini)

Selain faktor harga, kenaikan konsumsi energi turut mendorong belanja subsidi. Penyaluran BBM bersubsidi hingga semester I 2026 mencapai 7.989,5 ribu kiloliter (KL), meningkat 7,8 persen dibandingkan 7.410,1 ribu KL pada periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan konsumsi BBM bersubsidi terjadi seiring kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026, yang berpotensi mendorong peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi. Sementara itu, penyaluran LPG 3 kilogram naik 2 persen menjadi 3.563 juta kilogram dan jumlah pelanggan listrik bersubsidi bertambah 2,1 persen menjadi 43,1 juta pelanggan.

3. Ada peningkatan subsidi non energi

Ilustrasi anggaran. (IDN Times)
Ilustrasi anggaran. (IDN Times)

Di luar energi, belanja subsidi juga terdorong oleh peningkatan subsidi nonenergi. Penyaluran pupuk bersubsidi naik 21,4 persen menjadi 4,5 juta ton dari 3,7 juta ton pada semester I 2025.

Adapun jumlah debitur penerima subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) meningkat 3,6 persen menjadi 2,4 juta debitur.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More