- Amerika Serikat tercatat menyumbang surplus terbesar dengan nilai 18,11 miliar dolar AS
- India yang mencatatkan surplus sebesar 13,49 miliar dolar AS.
- Filipina juga memberikan kontribusi positif dengan surplus 8,42 miliar dolar AS.
Neraca Dagang Indonesia Surplus 2,51 Miliar Dolar AS Desember 2025

- Neraca dagang Indonesia pada Desember 2025 mencatat surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS, menandai 68 bulan berturut-turut neraca perdagangan positif.
- Surplus ini didorong oleh kinerja komoditas non-migas yang tercatat surplus 4,60 miliar dolar AS, sementara komoditas migas tercatat defisit 2,09 miliar dolar AS.
- Pada periode Januari–Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 41,05 miliar dolar AS, meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu.
Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca dagang Indonesia pada Desember 2025 mengalami surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS, menandai 68 bulan berturut-turut neraca perdagangan positif sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan surplus ini terutama didorong oleh kinerja komoditas non-migas yang tercatat surplus 4,60 miliar dolar AS.
Beberapa komoditas yang berkontribusi besar terhadap surplus tersebut antara lain lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
"Penyumbang utama surplus pada Desember 2025 adalah lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," kata Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (2/2/2026).
1. Neraca dagang migas alami defisit

Sementara non-migas mencetak surplus, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit 2,09 miliar dolar AS, dengan penyumbang utama minyak mentah dan hasil minyak.
Untuk periode Januari–Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 41,05 miliar dolar AS, meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 31,33 miliar dolar AS.
Ateng Hartono membandingkan surplus tahun lalu dengan periode Januari-Desember pada 2024 yang tercatat sebesar 31,33 miliar dolar AS, menunjukkan peningkatan yang signifikan.
"Surplus pada Januari–Desember 2025 tercatat cukup tinggi, yaitu 41,05 miliar dolar AS, jauh lebih besar dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebesar 31,33 miliar dolar AS," ujar Ateng.
2. Komoditas non migas catatkan surplus 60,75 miliar sepanjang 2025

Sepanjang 2025, komoditas non-migas mendominasi dengan surplus 60,75 miliar dolar AS, sementara komoditas migas masih mencatat defisit 19,70 miliar dolar AS.
Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 19,70 miliar dolar AS atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 20,40 miliar dolar AS.
3. Daftar negara penyumbang surplus dan defisit untuk Indonesia

Lebih rinci, terdapat tiga negara penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia periode Januari-Desember 2025, yaitu Amerika Serikat, India, dan Filipina.
Sementara itu, ada negara penyumbang defisit terbesar:
- China menjadi negara penyumbang defisit terbesar dengan nilai defisit sebesar 20,50 miliar dolar AS.
- Australia menyumbang defisit sebesar 5,65 miliar dolar AS
- Singapura mencatatkan defisit sebesar 5,47 miliar dolar AS.
Menurut Ateng, berdsarkan sektor non-migas, terdapat tiga negara penyumbang surplus terbesar tetap didominasi oleh Amerika Serikat, India, dan Filipina. Amerika Serikat menjadi negara penyumbang surplus terbesar dalam perdagangan non-migas, dengan angka 21,12 miliar dolar AS, disusul oleh India dengan surplus sebesar 13,62 miliar dolar AS, dan Filipina yang mencatatkan surplus 8,33 miliar dolar AS.
Namun, ada juga negara-negara yang mencatatkan defisit dalam neraca perdagangan non-migas. China masih menjadi negara penyumbang defisit terbesar, dengan defisit mencapai 22,17 miliar dolar AS. Diikuti oleh Australia yang mencatatkan defisit 4,88 miliar dolar AS, dan Brazil dengan defisit 1,76 miliar dolar AS.

















