Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Neraca Dagang RI Defisit Perdana dalam 6 Tahun Jadi Sorotan Media Asing
Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)
  • Neraca dagang Indonesia Mei 2026 defisit 1,61 miliar dolar AS, pertama kali dalam enam tahun, akibat ekspor turun dan impor naik karena lonjakan harga minyak mentah global.
  • Faisal Rachman menilai defisit bersifat sementara karena dipicu kenaikan harga minyak dunia yang mulai turun pada Juni 2026, sehingga tekanan impor diperkirakan mereda.
  • Surplus neraca dagang diproyeksi terus menyempit sepanjang 2026 seiring pertumbuhan impor lebih tinggi dari ekspor, meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kinerja neraca dagang Indonesia yang mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026 turut menjadi sorotan media asing. Defisit terjadi karena nilai ekspor hanya mencapai 23,20 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan impor yang mencapai 24,81 miliar dolar AS.

Kondisi tersebut mengakhiri tren surplus neraca dagang yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Ini juga menjadi defisit neraca dagang pertama sejak April 2020. Sejumlah media asing termasuk Reuters dan Asia Nikkei menyoroti hal tersebut.

Besarnya defisit tersebut turut menjadi perhatian. Defisit perdagangan pada Mei 2026 merupakan yang terdalam sejak April 2019, saat Indonesia membukukan defisit sebesar 2,33 miliar dolar AS.

1. Impor naik karena naiknya harga minyak mentah global

Ilustrasi neraca perdagangan. (Dok. Antara)

Head of Macroeconomic and Financial Market Research PermataBank, Faisal Rachman mengatakan defisit neraca dagang disebabkan laju impor yang meningkat karena kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sehingga menopang permintaan domestik.

Di sisi lain, impor minyak dan gas melonjak seiring kenaikan harga minyak mentah global akibat konflik di Timur Tengah.

"Sebagian besar kenaikan impor berasal dari migas. Seluruh kelompok penggunaan barang impor mencatat pertumbuhan, terutama bahan baku/penolong. Komoditas utama seperti mesin mekanik, mesin listrik, dan plastik juga mengalami peningkatan signifikan," jelasnya, Kamis (2/7/2026).

Sebaliknya, ekspor terkontraksi 5,73 persen yoy pada Mei 2026, berbalik tajam dari pertumbuhan 21,98 persen yoy pada April 2026. Penurunan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian global, termasuk eskalasi perang dagang dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan permintaan global.

2. Defisit bersifat sementara akibat lonjakan harga minyak dunia

Ilustrasi perdagangan ekspor. IDN Times/Istimewa

Faisal menilai defisit neraca dagang pada Mei 2026 bersifat sementara dan terutama dipicu lonjakan harga minyak dunia, bukan mencerminkan tren jangka panjang.

Meskipun rata-rata harga minyak mentah global meningkat pada Mei dibandingkan April, harga minyak turun signifikan pada Juni 2026 sehingga tekanan impor diperkirakan akan mereda.

"Karena itu, Indonesia diperkirakan kembali mencatat surplus neraca dagang, meski dengan tren yang semakin menyempit. Sejalan dengan itu, kami tetap mempertahankan proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan tahun ini," ujarnya.

2. Laju neraca dagang diproyeksi terus menyempit

Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay)

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda, sehingga mendorong pulihnya lalu lintas kapal kontainer di Timur Tengah setelah pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap.

Meski demikian, Faisal tetap memperkirakan surplus neraca dagang Indonesia akan terus menyempit sepanjang 2026. "Penyebab utamanya adalah pertumbuhan impor yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan ekspor," jelasnya.

Menurut Faisal, penyempitan surplus perdagangan diperkirakan didorong oleh kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan ekonomi sehingga menjaga permintaan domestik tetap kuat dan meningkatkan impor.

3. Pertumbuhan ekspor diproyeksi akan kembali normal

ilustrasi ekspor (pixabay.com/michaelgaida)

Di sisi lain, pertumbuhan ekspor diperkirakan kembali normal setelah lonjakan pengiriman pada tahun lalu untuk mengantisipasi kenaikan tarif.

"Selain itu, pelemahan permintaan global, terutama dari China, diperkirakan akan menekan kinerja ekspor Indonesia. Walaupun kondisi geopolitik di Timur Tengah membaik, situasi dinilai masih rapuh dan ketidakpastian perang dagang global masih membayangi prospek ekonomi," tegasnya.

Akibatnya, gangguan rantai pasok global diperkirakan masih berlanjut dan membatasi aktivitas perdagangan dunia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article