Defisit Minyak Dorong Indonesia Dekati Rusia untuk Amankan Pasokan

- Produksi minyak Indonesia terus menurun hingga hanya sekitar 577 ribu barel per hari, jauh di bawah kebutuhan nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari.
- Pemerintah mulai menjajaki kerja sama energi dengan Rusia yang menawarkan pasokan hingga 100 juta barel minyak dengan harga preferensial untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
- Mekanisme impor antarpemerintah disiapkan guna meminimalkan risiko sanksi dan membuka peluang barter, meski tantangan pembayaran serta jarak pengiriman masih menjadi perhatian utama.
Ketahanan energi menjadi salah satu tantangan terbesar yang sedang dihadapi Indonesia saat ini. Produksi minyak dalam negeri terus mengalami penurunan, sementara kebutuhan bahan bakar masyarakat justru semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Kondisi tersebut membuat Indonesia harus mengimpor minyak mentah dan produk bahan bakar dalam jumlah besar untuk menjaga pasokan tetap aman. Situasi geopolitik global yang memanas, terutama konflik di Timur Tengah, juga menambah kekhawatiran mengenai stabilitas pasokan energi dunia.
Karena itulah pemerintah mulai melirik Rusia sebagai salah satu mitra yang dapat membantu memenuhi kebutuhan energi nasional. Langkah ini bukan hanya soal membeli minyak lebih murah, tapi juga menjadi upaya memperkuat keamanan energi Indonesia dalam jangka panjang.
1. Produksi minyak nasional belum mampu mengejar kebutuhan

Indonesia sebenarnya pernah memproduksi sekitar 1,5 juta barel minyak per hari pada dekade 1990-an. Namun, banyak ladang minyak yang sudah berumur tua sehingga produksinya terus menurun. Pada Mei 2026, produksi minyak mentah Indonesia hanya mencapai sekitar 577 ribu barel per hari, masih berada di bawah target pemerintah sebesar 610 ribu barel per hari.
Padahal, kapasitas kilang minyak nasional mencapai sekitar 1,2 juta barel per hari. Dalam praktiknya, kilang hanya mengolah sekitar 950 ribu barel per hari atau sekitar 80 persen dari kapasitas yang tersedia. Artinya, Indonesia sudah mengalami kekurangan pasokan minyak mentah bahkan sebelum memperhitungkan kebutuhan bahan bakar jadi.
Kondisi ini terlihat dari tren impor minyak mentah Indonesia yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021, impor minyak mentah berada di kisaran 260 ribu barel per hari, sedangkan pada 2026 volumenya diperkirakan mendekati 380 ribu barel per hari. Nigeria masih menjadi pemasok terbesar, disusul Arab Saudi, Angola, Gabon, Brasil, dan beberapa negara lainnya.
2. Ketergantungan impor membuat pemerintah perlu mencari pemasok baru

Kebutuhan bahan bakar di Indonesia ternyata jauh lebih besar dibanding kemampuan produksi domestik. Konsumsi produk minyak nasional diperkirakan mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, pasokan dari kilang dalam negeri belum bisa memenuhi seluruh permintaan tersebut.
Kesenjangan paling besar terjadi pada bensin. Kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 690 ribu barel per hari, tapi sebanyak 60 persen masih dipenuhi melalui impor. Rata-rata impor bensin Indonesia pada 2025 bahkan mencapai sekitar 430 ribu barel per hari.
Selama ini Indonesia membeli minyak mentah dari berbagai negara, terutama Nigeria yang menyumbang sekitar 100 ribu barel per hari. Selain itu, Indonesia juga mengimpor minyak dari Angola, Gabon, Arab Saudi, dan Brasil. Diversifikasi pemasok menjadi penting supaya Indonesia gak terlalu bergantung pada satu kawasan tertentu, terutama saat terjadi gangguan pasokan global.
3. Rusia mulai dipandang sebagai mitra strategis di sektor energi

Hubungan Indonesia dan Rusia semakin berkembang sejak Presiden Prabowo Subianto terpilih pada awal 2024. Indonesia juga resmi menjadi anggota penuh BRICS pada Januari 2025, yang membuka peluang kerja sama ekonomi lebih luas dengan negara-negara anggota lainnya. Salah satu bidang yang mulai mendapatkan perhatian adalah perdagangan energi.
Rusia disebut menawarkan pasokan hingga 100 juta barel minyak kepada Indonesia dengan harga preferensial. Jika dibutuhkan, Moskow bahkan siap menyediakan tambahan sekitar 50 juta barel minyak lagi. Tawaran tersebut muncul setelah kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia pada pertengahan April 2026.
Rusia juga sudah mengirimkan minyak mentah ke Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Dua kapal tanker diketahui membawa masing-masing sekitar 700 ribu barel minyak jenis Sakhalin Blend. Minyak tersebut memiliki kandungan sulfur rendah dan karakteristik yang cocok untuk menghasilkan bensin, sehingga sesuai dengan kebutuhan kilang di Indonesia.
4. Pemerintah menyiapkan jalur impor khusus agar risiko lebih kecil

Pemerintah tampaknya menyadari bahwa pembelian minyak Rusia masih memiliki tantangan tersendiri. Salah satu kendala terbesar adalah risiko sanksi internasional yang dapat memengaruhi perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam transaksi tersebut. Karena itu, pemerintah mulai menyiapkan mekanisme impor yang berbeda dari biasanya.
Pada akhir April 2026, pemerintah mengeluarkan aturan yang memperbolehkan lembaga layanan publik mengimpor minyak mentah, bahan bakar, dan LPG melalui kerja sama antarpemerintah. Selanjutnya, pada 8 Juni 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan tugas kepada Lemigas untuk menangani impor minyak mentah, termasuk kemungkinan pembelian dari Rusia.
Mekanisme ini dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap Pertamina yang masih bergantung pada pembiayaan internasional. Selain itu, perdagangan antarpemerintah juga berpotensi membuka peluang sistem barter. Rusia disebut bersedia membantu pembangunan fasilitas penyimpanan minyak, terminal pelabuhan, bahkan menghidupkan kembali proyek kilang Tuban yang hingga kini masih tertunda.
5. Peluang kerja sama tetap dibayangi sejumlah tantangan

Meskipun menawarkan banyak keuntungan, kerja sama energi dengan Rusia gak sepenuhnya bebas hambatan. Pembayaran menggunakan dolar AS diperkirakan sulit dilakukan karena sebagian besar bank komersial masih berhati-hati terhadap transaksi yang berkaitan dengan Rusia. Kondisi tersebut membuat kedua negara harus mencari alternatif sistem pembayaran lain.
Jarak pengiriman minyak juga menjadi pertimbangan penting. Pengiriman minyak dari Sakhalin ke Indonesia membutuhkan waktu sekitar 15 hari dalam kondisi normal, meskipun beberapa pengiriman terakhir memerlukan waktu lebih lama. Sementara itu, pengiriman minyak dari pelabuhan Primorsk dapat memakan waktu hingga 50 hari.
Meski begitu, Indonesia bukan satu-satunya negara Asia Tenggara yang mulai melirik minyak Rusia. Filipina telah menerima beberapa pengiriman minyak Rusia sejak Maret 2026, sedangkan Vietnam juga dikabarkan tengah menjajaki peluang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa minyak Rusia kini semakin dipandang sebagai instrumen untuk menjaga ketahanan energi, bukan semata-mata komoditas yang harus dihindari.
Menurunnya produksi minyak nasional membuat Indonesia harus mencari cara agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi. Rusia menawarkan peluang menarik melalui pasokan minyak yang besar, harga yang berpotensi lebih kompetitif, serta kemungkinan kerja sama pembangunan infrastruktur energi.
Meski masih ada tantangan terkait pembayaran dan risiko geopolitik, langkah pemerintah mendekati Rusia menunjukkan bahwa keamanan energi kini menjadi prioritas utama. Jika kerja sama ini dapat dikelola dengan baik, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat pasokan energi sekaligus mengurangi tekanan akibat ketergantungan impor dari pemasok tradisional.





















