CIMB Niaga Soroti Rendahnya Literasi Keuangan Anak Muda Indonesia

- Amir Widjaya dari CIMB Niaga menyoroti hasil PISA yang menunjukkan literasi keuangan pelajar Indonesia berada di peringkat terendah di antara negara OECD.
- Ia menegaskan pentingnya edukasi perencanaan keuangan sejak sekolah agar generasi muda memahami dasar pengelolaan uang secara lebih baik.
- Banyak anak muda belum memahami konsep dasar seperti menabung, investasi, cicilan, dan biaya aplikasi, menandakan urgensi peningkatan literasi keuangan nasional.
Jakarta, IDN Times - Head of Marketing, Brand & Customer Experience CIMB Niaga, Amir Widjaya, menilai rendahnya literasi keuangan di Indonesia menjadi alasan penting perlunya edukasi mengenai financial planning.
Menurutnya, hasil asesmen Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan, kemampuan literasi keuangan pelajar Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara OECD.
“Yang sangat menyedihkan, dari seluruh OECD countries, ranking kita itu paling rendah. So, Indonesia adalah financial literacy-nya paling rendah berdasarkan data financial literacy PISA,” ujar dia saat menghadiri acara Media Gathering OCTO untuk Keluarga Indonesia di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
1. Rendahnya ranking menjadi suatu urgensi

Amir mengatakan, hasil asesmen PISA menunjukkan kemampuan financial literacy atau literasi keuangan pelajar Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Sehingga, menurut dia, rendahnya ranking literasi keuangan dari anak muda di Indonesia menjadi suatu urgensi.
“Student kita, anak muda kita, rankingnya paling rendah. Dan itu yang memang kenapa ini menjadi sebuah urgency sebenarnya,” lanjut dia.
2. Perlu diajarkan sejak di bangku sekolah

Selain itu, ia menilai, pemahaman mengenai perencanaan keuangan tidak seharusnya hanya menjadi ranah perbankan untuk mengedukasi masyarakat.
Melainkan, ia menyebut, materi itu juga perlu dikenalkan di lingkungan sekolah dan akademisi.
"Pembelajaran financial planning tidak hanya harusnya di ranah perbankan, tapi juga bahkan harusnya ada di dalam skill-skill yang ada di dalam dunia sekolah dan akademisi," kata Amir.
3. Banyak yang belum memahami konsep dasar keuangan

Amir menilai, masih banyak orang yang belum memahami pentingnya menabung, berinvestasi sejak muda, mengetahui arti cicilan, hingga memahami berbagai biaya dalam aplikasi atau biaya lainnya. Sehingga menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan literasi keuangan masih menjadi masalah yang mendesak.
“Tapi mungkin kalau ditanya, kenapa sih kita musti nabung? Kenapa sih kita musti punya investasi sejak muda? Apa sih itu artinya cicilan? Dan apa sih artinya sebuah charges dari aplikasi, misalnya kalau kita punya handphone gitu ya. Apa itu biaya? Apa itu ini? Ini masih terjadi sesuatu yang masalah urgency cukup besar, ya,” pungkas Amir.



















