Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
OpenAI Diam-Diam Ajukan IPO, Investor Ritel Berpeluang Ikut Masuk
ilustrasi logo Open AI (pexels.com/Andrew Neel)
  • OpenAI diam-diam mengajukan IPO rahasia untuk mempersiapkan diri menjadi perusahaan publik, dengan alasan efisiensi strategi dan kebutuhan transparansi keuangan di tengah biaya komputasi yang sangat besar.
  • Perusahaan memperluas sumber pendapatan lewat paket langganan ChatGPT, iklan, serta pengembangan produk baru seperti peramban web, perangkat keras konsumen, dan agen AI untuk berbagai sektor industri.
  • Persaingan ketat dengan Anthropic dan meningkatnya minat investor terhadap generative AI menjadikan IPO OpenAI sebagai momen penting yang dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap masa depan industri ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesOpenAI, perusahaan pengembang ChatGPT, secara diam-diam mengajukan pendaftaran rahasia untuk melaksanakan penawaran umum perdana (IPO). Langkah ini menempatkan perusahaan akal imitasi (AI) tersebut dalam posisi siap menjalani salah satu debut pasar saham yang paling dinanti sekaligus membuka peluang bagi investor ritel untuk memiliki sahamnya.

Berdasarkan laporan yang merangkum berbagai media besar, keputusan itu muncul setelah rival utamanya, Anthropic, juga mengungkap rencana melantai di bursa. Selain itu, kabar tersebut hadir menjelang pencatatan saham SpaceX di Nasdaq pada Jumat (12/6/2026).

Tiga aksi korporasi tersebut diperkirakan dapat menghimpun modal hingga ratusan miliar dolar Amerika Serikat (AS). Sementara berbagai sumber media menyebut kebutuhan pendanaan yang sangat besar menjadi alasan utama untuk menopang target pertumbuhan masing-masing perusahaan.

1. OpenAI menyusun strategi menuju perusahaan publik

Pada 3 Oktober 2019, Sam Altman selaku Co-Founder sekaligus CEO OpenAI hadir sebagai pembicara dalam ajang TechCrunch Disrupt 2019 yang berlangsung di Moscone Convention Center, San Francisco. (wikimediacommons.org/TechCrunch)

OpenAI masih belum menentukan jadwal pelaksanaan IPO. Melalui pernyataan resmi di halaman newsroom, perusahaan menyampaikan proses tersebut kemungkinan membutuhkan waktu karena ada sejumlah hal yang lebih mudah dijalankan saat statusnya masih perusahaan swasta.

Gambaran mengenai pertimbangan tersebut kemudian dijelaskan dalam pernyataan resminya.

“Mungkin akan memakan waktu karena ada hal-hal yang ingin kami lakukan yang kemungkinan lebih mudah dilakukan sebagai perusahaan swasta,” menurut perusahaan, dikutip CNN.

Perusahaan juga menjelaskan, pengajuan rahasia dilakukan untuk mengantisipasi potensi kebocoran informasi sekaligus memberi ruang agar mereka bisa bergerak lebih cepat menuju pasar publik ketika momentum yang dianggap tepat muncul. Dalam penjelasannya, OpenAI turut mengakui adanya konsekuensi yang menyertai perubahan status menjadi perusahaan terbuka.

Status perusahaan publik nantinya membuat OpenAI harus membuka kondisi keuangannya secara lebih transparan. Keterbukaan tersebut berkaitan dengan investasi besar yang tengah digelontorkan untuk infrastruktur AI, chip, pusat data, dan sumber daya komputasi. Berdasarkan informasi dari sumber pelaporan, biaya komputasi tahunan OpenAI diperkirakan mencapai 100 miliar dolar AS (setara Rp1.816 triliun), angka yang melampaui pendapatan perusahaan saat ini. Setelah menghimpun dana 122 miliar dolar AS (setara Rp2.215 triliun) pada Maret lalu, valuasi OpenAI kini mencapai 852 miliar dolar AS (setara Rp15.472 triliun).

2. OpenAI memperluas sumber pendapatan bisnis

ilustrasi portofolio investasi (pexels.com/Artem Podrez)

Di tengah kebutuhan pendanaan yang besar, Kepala Keuangan OpenAI Sarah Friar sempat menarik perhatian melalui komentarnya mengenai kemungkinan dukungan pemerintah AS untuk membantu pembiayaan perusahaan, meski pernyataan tersebut kemudian diklarifikasi. Pada saat yang sama, Friar bersama tim memperluas pilihan monetisasi ChatGPT melalui paket langganan baru seharga 8 dolar AS (setara Rp145 ribu) dan mulai menghadirkan iklan.

Laporan internal memperkirakan jumlah pelanggan ChatGPT dapat mencapai 122 juta pengguna tahun ini, sementara sektor iklan ditargetkan menjadi sumber pendapatan utama pada 2030.

Selain mengembangkan chatbot, OpenAI juga telah meluncurkan peramban web serta menyiapkan inisiatif perangkat keras (hardware) untuk konsumen. Perusahaan turut memperkenalkan agen AI yang mampu melakukan coding dan mengelola aplikasi langsung di komputer pengguna. Pengembangan alat AI untuk sektor pemerintahan, kesehatan, dan keuangan juga terus dilakukan. Pada sisi hukum, gugatan Elon Musk terhadap OpenAI baru-baru ini ditolak pengadilan karena melewati batas waktu undang-undang, meski kubu Musk berencana mengajukan banding.

3. Persaingan generative AI memengaruhi sentimen investor

Ilustrasi AI (pexels.com/Tara Winstead)

Persaingan di sektor generative AI berlangsung semakin ketat. Anthropic yang didirikan Dario Amodei setelah keluar dari OpenAI akibat perbedaan prinsip dengan Direktur Utama OpenAI Sam Altman, baru-baru ini mencatat valuasi sebesar 965 miliar dolar AS (setara Rp17.524 triliun). OpenAI dan Anthropic kini bersaing memperebutkan pengguna individu maupun klien korporasi. Situasi tersebut berlangsung di tengah gugatan hukum yang mengaitkan ChatGPT dengan sejumlah insiden serta adanya penolakan sebagian masyarakat terhadap penggunaan AI. OpenAI juga sempat mengalami gejolak internal pada 2023 ketika Altman diberhentikan sementara dari jabatannya.

Dilansir BBC, Sunil Krishnan dari Aviva Investors menjelaskan bahwa perusahaan teknologi membutuhkan pendanaan dalam jumlah sangat besar sehingga tidak ada pihak yang ingin tertinggal memanfaatkan akses modal dari pasar publik. Sementara itu, assistant professor Richard Crowley dari Singapore Management University menyebut hasil IPO akan membentuk persepsi investor terhadap masa depan sektor generative AI. Crowley juga menjelaskan, nasib OpenAI dan Anthropic di bursa saham akan saling terikat karena dipengaruhi oleh sentimen pasar yang sama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article