Fitch Pangkas Outlook Peringkat Utang RI Jadi Negatif, Ini Penyebabnya

- Fitch Ratings menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif karena meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap kredibilitas bauran kebijakan ekonomi nasional.
- Meskipun outlook berubah, peringkat BBB tetap dipertahankan berkat stabilitas makroekonomi, rasio utang moderat, serta cadangan devisa yang memadai meski penerimaan negara masih lemah.
- Fitch memproyeksikan defisit fiskal 2026 sekitar 2,9 persen PDB dan defisit transaksi berjalan melebar ke 0,8 persen, sementara pertumbuhan ekonomi diperkirakan stabil di kisaran 5 persen.
Jakarta, IDN Times - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat kredit jangka panjang mata uang asing (long-term foreign currency issuer default Rating/IDR) tetap dipertahankan di level BBB.
Revisi outlook tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan serta konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia. Hal ini muncul di tengah sentralisasi pengambilan keputusan yang dinilai kian menguat.
1. Ada ketidakpastian sisi kebijakan dan kekhawatiran kredibitas bauran kebijakan

Problem seputar kebijakan pemerintah RI tersebut berpotensi menekan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, serta memberi tekanan pada ketahanan eksternal.
“Upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketegangan sosial yang masih ada setelah protes tahun lalu akan mendorong pengeluaran sosial lebih tinggi, termasuk program Makan Bergizi Gratis (1,3% dari PDB). Rencana untuk memprioritaskan pengeluaran pada semester I-2026 dapat menambah risiko defisit fiskal,” tulis draf laporan Fitch yang diterima IDN Times, dikutip Rabu (4/3/2026).
2. Alasan tetap pertahankan peringkat BBB

Di sisi lain, Fitch tetap mempertahankan peringkat BBB karena Indonesia dinilai memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Hal ini didukung prospek pertumbuhan jangka menengah yang solid, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang moderat, serta cadangan eksternal yang memadai.
“Kekuatan peringkat ini dibatasi oleh penerimaan pendapatan yang lemah, biaya pembayaran utang yang tinggi, serta faktor struktural yang tertinggal, seperti indikator tata kelola, dibandingkan negara-negara dengan peringkat ‘BBB’ lainnya,” tulis Fitch.
3. Defisit fiskal 2026 diperkirakan sentuh 2,6 persen

Fitch memproyeksikan defisit fiskal Indonesia pada 2026 berada di kisaran 2,9 persen PDB, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7 persen PDB. Proyeksi tersebut dipengaruhi asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif serta peningkatan belanja sosial, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Upaya pemerintah meningkatkan kepatuhan pajak diperkirakan dapat memperbaiki penerimaan negara. Namun, dampaknya dinilai belum signifikan dalam jangka pendek.
"Fitch memperkirakan rasio penerimaan pemerintah terhadap PDB hanya sekitar 13,3 persen pada periode 2026–2027, jauh di bawah rata-rata negara dengan peringkat BBB," tegasnya.
4. Defisit transaksi berjalan akan melebar ke 0,8 persen

Dari sisi eksternal, Fitch memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi sekitar 0,8 persen PDB pada 2026, terutama akibat melemahnya ekspor bersih. Meski demikian, cadangan devisa dinilai masih relatif kuat, dengan kemampuan menutup sekitar lima bulan kebutuhan pembayaran transaksi berjalan.
Namun, sentimen investor disebut masih rapuh, terutama setelah meningkatnya volatilitas pasar domestik dan kekhawatiran terkait tata kelola pasar modal. Kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal, menekan nilai tukar rupiah, serta meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Di tengah berbagai risiko tersebut, Fitch menilai ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat. Lembaga itu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tetap stabil di kisaran 5 persen pada 2026–2027, didorong permintaan domestik, peningkatan belanja pemerintah, serta investasi di sektor hilirisasi.
Meski begitu, Fitch menilai target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 8 persen pada 2029 akan sulit dicapai tanpa reformasi struktural yang lebih mendalam. Secara keseluruhan, Fitch menegaskan stabilitas kebijakan ekonomi, peningkatan penerimaan negara, serta penguatan tata kelola akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah peringkat kredit Indonesia ke depan.
















.jpg)

