Pemerintah Bersiap Bangun Tol Tembus Bukit Lembah Anai Akhir 2026

- Pembangunan tol alternatif di Lembah Anai mendesak karena jalur utama rawan bencana dan padat
- Kementerian PU juga fokus pada penanganan tebing rawan longsor untuk memastikan keberlangsungan infrastruktur jalan
- Ruas Lembah Anai dan Malalak dianggap sebagai urat nadi ekonomi Sumatra Barat, sehingga konektivitasnya harus terjaga dengan baik
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan pengembangan infrastruktur jangka panjang di kawasan Lembah Anai, Sumatra Barat, melalui pembangunan jalan tol alternatif berupa terowongan yang melintasi kawasan perbukitan. Menteri PU, Dody Hanggodo, menyampaikan penanganan permanen Lembah Anai saat ini masih terus berjalan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca serta karakteristik wilayah yang rawan bencana.
"Target permanen kami Juli 2026. Setelah itu, kami mulai menyiapkan rencana jalan tol melalui tunnel yang menembus bukit di kawasan ini," kata Dody dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1/2026).
1. Pembangunan tol dinilai mendesak

Dody menegaskan, pembangunan jalan tol alternatif di Lembah Anai menjadi kebutuhan mendesak karena ruas tersebut merupakan salah satu jalur terpadat sekaligus paling rawan bencana di Sumatra Barat.
Menurutnya, keberadaan jalur tambahan diperlukan agar konektivitas tetap terjaga apabila ruas utama mengalami gangguan di kemudian hari. Rencana pembangunan terowongan sebenarnya telah dibahas sejak 2017 dan pernah dikaji oleh Japan International Cooperation Agency (JICA). Dari hasil kajian tersebut, struktur bukit di kawasan Lembah Anai dinilai cukup kuat untuk menopang lalu lintas kendaraan apabila dibangun terowongan jalan tol.
"Lembah Anai ini padat dan sering tertimpa musibah. Sesuai arahan Presiden Prabowo, kami harus menyiapkan tambahan jalan. Agar, ke depan manakala jalan ini bermasalah karena apapun itu, masih ada ruas alternatifnya," ujarnya.
2. Penanganan tebing rawan longsor

Selain pembangunan jalan dan terowongan, Kementerian PU juga menyiapkan penanganan menyeluruh terhadap tebing-tebing rawan longsor di sepanjang trase Lembah Anai. Upaya tersebut meliputi penguatan lereng, pembangunan struktur pelindung, serta penanganan titik-titik kritis agar infrastruktur jalan dapat bertahan dalam jangka panjang.
Dody menekankan, penanganan jalan tidak dapat dipisahkan dari pengamanan tebing di sekitarnya. Menurutnya, tanpa penguatan lereng dan tebing, jalan yang telah dibangun tidak akan memiliki daya tahan yang optimal.
"Kalau kami menangani jalannya, tebingnya juga wajib ditangani. Kalau tidak, jalannya tidak akan bertahan lama. Semua penanganan ini akan kami permanenkan," ujar Dody.
3. Lembah Anai urat nadi ekonomi Sumbar

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menyebut ruas Lembah Anai dan Malalak merupakan urat nadi perekonomian Sumatra Barat. Oleh sebab itu, kelancaran konektivitas di kawasan tersebut menjadi hal yang sangat penting bagi aktivitas masyarakat dan distribusi ekonomi.
Andre menilai, pembangunan jalan tol melalui terowongan di kawasan bukit Lembah Anai merupakan solusi strategis untuk menjawab persoalan konektivitas jangka panjang. Dia menyampaikan, mengingat Lembah Anai hampir setiap tahun terdampak bencana, keberadaan jalur alternatif dari Sicincin menuju Bukittinggi dinilai sangat dibutuhkan.
"Insya Allah akhir 2026 pembangunannya akan dimulai oleh Kementerian PU," kata Andre.
















