Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perkuat Funding-Bisnis Inti Lewat Transformasi BRIVolution Reignite
Paparan kinerja BRI. (IDN Times/Screenhot Zoom).
  • BRI menjalankan BRIVolution Reignite untuk memperkuat dana murah, memperbarui bisnis inti, dan membangun mesin pertumbuhan baru melalui ekosistem serta kanal digital.
  • Bisnis mikro tetap menjadi kekuatan utama dengan penyempurnaan proses, kapabilitas mantri, dan manajemen risiko; BRI juga memperluas pertumbuhan lewat value chain, ekosistem, serta layanan bullion bank.
  • Hingga kuartal II-2026, aset BRI mencapai Rp2.352 triliun; kredit, pendapatan bunga, dan laba operasional naik, disertai penurunan biaya dana, NPL, serta peningkatan ROE.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terus memperkuat transformasi bisnis untuk menjaga momentum pertumbuhan. Melalui program BRIVolution Reignite, BRI fokus memperkuat sumber pendanaan sekaligus mengembangkan sumber pertumbuhan baru.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan transformasi tersebut dijalankan melalui dua agenda utama. Pertama, memperkuat funding franchise untuk memperbesar basis dana murah. Kedua, melakukan pembaruan terhadap bisnis inti sekaligus membangun new core sebagai mesin pertumbuhan baru.

Dari sisi pendanaan, BRI mengandalkan pendekatan berbasis ekosistem untuk meningkatkan dana murah. Perseroan juga mengoptimalkan kanal digital, mulai dari akuisisi merchant, transaksi BRImo, QRIS, hingga BRILink Agen.

"Transformasi yang kami jalankan bukan semata-mata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan," ujar Hery dalam paparan kinerja BRI, Senin (31/8/2026).

1. BRI tetap mengandalkan bisnis mikro sebagai salah satu kekuatan utama

Gedung BRI. (Dok. BRI)

Selain memperkuat pendanaan, BRI tetap mengandalkan bisnis mikro sebagai salah satu kekuatan utama. Perseroan terus menyempurnakan proses bisnis, memperkuat kapabilitas tenaga pemasar atau mantri, serta menerapkan manajemen risiko yang lebih granular.

"Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga agar ekspansi bisnis mikro tetap diikuti oleh perbaikan kualitas aset," jelasnya.

Di sisi lain, BRI mulai memperluas sumber pertumbuhan melalui akuisisi value chain dan ekosistem, penyempurnaan proposisi nilai produk dan targeting nasabah, serta pengembangan layanan bullion bank.

2. Aset BRI mencapai Rp2.352 triliun

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Implementasi transformasi tersebut mulai tercermin dalam kinerja keuangan BRI hingga kuartal II-2026. Secara konsolidasi, aset BRI mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan aset tersebut terutama ditopang oleh kredit dan pembiayaan yang meningkat 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun.

Ekspansi kredit tersebut didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 6,7 persen yoy menjadi Rp1.581 triliun. Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BRI naik 9,9 persen yoy menjadi Rp80,5 triliun dari sebelumnya Rp73,3 triliun.

Sementara itu, laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) meningkat 12,8 persen yoy menjadi Rp65,7 triliun.

"Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian," kata Hery.

3. Fundamental BRI makin sehat

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Tak hanya pertumbuhan bisnis, BRI juga mencatat perbaikan sejumlah indikator fundamental. Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0 persen pada kuartal II-2025 menjadi 2,4 persen pada kuartal II-2026. Dari sisi efisiensi, cost to income ratio (CIR) membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.

"Kualitas aset juga membaik. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen. Sementara itu, cost of credit (CoC) turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen," tuturnya.

Perbaikan fundamental tersebut turut menopang kemampuan BRI dalam menghasilkan imbal hasil. Return on Assets (ROA) perseroan tetap berada di kisaran 2,7 persen. Adapun return on equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen pada kuartal II-2025 menjadi 18,8 persen pada kuartal II-2026.

"Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat," jelas Hery.

Curated For You

Editorial Team

Related Article