Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BI Rate Naik, BRI Sebut Aktivitas Bisnis UMKM Justru Makin Ekspansif

BI Rate Naik, BRI Sebut Aktivitas Bisnis UMKM Justru Makin Ekspansif
ilustrasi UMKM (pexels.com/roni onie)
  • Kenaikan BI Rate 100 basis poin menjadi 5,75 persen belum menahan ekspansi UMKM; indeks aktivitas bisnis naik dari 102,5 pada 2025 menjadi 104,7 pada kuartal I-2026.
  • BRI menilai fundamental perbankan tetap kuat: kredit industri tumbuh 12,7 persen, DPK 10,2 persen, LAR turun ke 8,5 persen, dengan likuiditas dan profitabilitas terjaga.
  • Semester I-2026, aset BRI mencapai Rp2.352 triliun dan laba bersih Rp31,2 triliun; perseroan memperluas pembiayaan produktif sambil memperketat manajemen risiko dan kualitas aset.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyebut kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 100 basis poin menjadi 5,75 persen pada kuartal II-2026 belum menyurutkan ekspansi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Optimisme pelaku UMKM justru meningkat, tercermin dari indeks aktivitas bisnis yang naik dari 102,5 pada 2025 menjadi 104,7 pada kuartal I-2026.

"Indeks aktivitas bisnis UMKM menunjukkan penguatan dari 102,5 pada 2025 menjadi 104,7 pada kuartal I-2026. Ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM secara umum masih berada pada fase ekspansi dan semakin optimistis terhadap aktivitas usahanya," kata Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Konferensi pers kinerja keuangan secara daring, Senin (31/8/2026).

  1. 1. Kondisi industri perbankan nasional yang masih memiliki fundamental kuat

    ilustrasi bank
    ilustrasi bank (vecteezy.com/MUHAMMAD NUR)

    Menurut Hery, optimisme pelaku UMKM tersebut sejalan dengan kondisi industri perbankan nasional yang masih memiliki fundamental kuat. Hingga kuartal II-2026, kredit industri perbankan tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 10,2 persen yoy.

    Dari sisi kualitas aset, kondisi industri perbankan juga menunjukkan perbaikan. Rasio loan at risk (LAR) industri turun dari 8,9 persen pada kuartal I-2026 menjadi 8,5 persen pada kuartal II-2026. Sementara itu, likuiditas perbankan masih memadai dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 88,3 persen. Dari sisi profitabilitas, return on asset industri atau ROA tetap solid di level 2,5 persen.

    "Secara keseluruhan kami melihat industri perbankan Indonesia tetap kuat dan resilient, dengan intermediasi yang semakin ekspansif dan kualitas aset yang membaik," ujar Hery.

  2. 2. BRI ingin pertumbuhan bisnis mikro ke depan berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas aset

    Screenshot_20260831_092212_Zoom.jpg
    Paparan kinerja BRI. (IDN Times/Screenhot Zoom).

    Menurut Hery, optimisme pelaku UMKM menjadi salah satu modal bagi BRI untuk menjaga pertumbuhan bisnis. Namun, perseroan tidak sekedar mengejar ekspansi kredit, tetapi juga memastikan pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan melalui transformasi bisnis.

    Untuk itu, BRI menjalankan dua agenda secara bersamaan, yakni memperkuat pendanaan dan bisnis inti serta mengembangkan sumber pertumbuhan baru.

    Pada bisnis mikro, BRI terus membenahi proses bisnis dan memperkuat penerapan manajemen risiko yang lebih granular. Langkah ini dilakukan agar ekspansi pembiayaan tetap diiringi dengan perbaikan kualitas aset.

    "Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan bisnis mikro ke depan berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas aset yang kita miliki," ujar Hery.

  3. 3. Total aset BRI tembus Rp2.352 triliun

    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)

    Strategi tersebut mulai tercermin pada kinerja BRI hingga semester I-2026. Total aset perseroan mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen secara tahunan.

    Penyaluran kredit dan pembiayaan juga tumbuh 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,7 persen yoy menjadi Rp1.581 triliun.

    Pertumbuhan kredit dan pendanaan tersebut menopang pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang naik 9,9 persen yoy menjadi Rp80,5 triliun. Pre-provision operating profit (PPOP) juga meningkat 12,8 persen yoy menjadi Rp65,7 triliun.

    Kinerja tersebut mendorong laba bersih BRI tumbuh 17,5 persen yoy menjadi Rp31,2 triliun pada semester I-2026. Dari sisi pendanaan, peningkatan dana murah turut menekan biaya dana atau cost of fund (CoF) BRI. Secara bank only, CoF turun dari 3,0 persen pada kuartal II-2025 menjadi 2,4 persen pada kuartal II-2026.

    Efisiensi operasional juga membaik. Cost to income ratio (CIR) turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen. Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen. Cost of credit (CoC) juga membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

    "BRI tidak hanya tumbuh lebih cepat, tetapi kualitas pertumbuhannya juga semakin baik," tutur Hery.

    Ke depan, BRI masih melihat ruang untuk memperluas bisnis, terutama melalui pembiayaan sektor produktif dan ekonomi kerakyatan. Kendati demikian, ekspansi akan tetap dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan penguatan manajemen risiko.

    Hery menegaskan, dukungan terhadap program pemerintah dan upaya menjaga kualitas aset bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya, kata dia, harus berjalan beriringan agar pertumbuhan bisnis BRI tetap sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More