Trump Borong Minyak Venezuela untuk Isi Cadangan Strategis AS

- Trump menyatakan minyak dari kesepakatan Venezuela akan mengisi cadangan strategis AS, yang tersisa sekitar 290 juta barel per 21 Agustus 2026, mendekati level terendah 44 tahun.
- Kesepakatan mencakup pasokan 65 miliar barel minyak mentah Venezuela selama 25 tahun, melalui pengembangan 17 ladang dan delapan blok baru dengan target awal 1,5 juta barel per hari.
- Venezuela memiliki lebih dari 300 miliar barel cadangan minyak, tetapi produksinya terhambat krisis dan infrastruktur; sementara harga bensin reguler AS mencapai 4,07 dolar AS per galon.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyampaikan bahwa minyak yang diperoleh melalui kesepakatan baru dengan Venezuela akan dialokasikan untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis AS. Lewat unggahan di platform Truth Social pada Minggu (30/8/2026), Trump menyalahkan eks Presiden Joe Biden atas kondisi cadangan yang nyaris kosong dan menyatakan pengisian penuh akan segera dimulai, dengan pasokan dari kesepakatan tersebut disebut sebagai hadiah Venezuela bagi rakyat AS.
Persediaan cadangan minyak strategis AS turun menjadi sekitar 290 juta barel per 21 Agustus 2026, mendekati titik terendah dalam 44 tahun akibat pengambilan stok pada masa pemerintahan Biden dan Trump untuk menghadapi gangguan pasokan global, termasuk invasi Rusia ke Ukraina serta konflik AS-Israel dengan Iran. Kapasitas maksimum cadangan nasional itu mencapai 714 juta barel, sementara pengaruh kesepakatan tersebut terhadap pengemudi di AS dalam jangka pendek masih belum dapat dipastikan.
Table of Content
1. Venezuela menyuplai minyak mentah kepada AS selama 25 Tahun

ilustrasi pabrik minyak (pexels.com/Zakelj) Rencana pengisian cadangan tersebut berkaitan dengan kesepakatan ekonomi berupa pasokan 65 miliar barel minyak mentah Venezuela selama 25 tahun yang diumumkan Trump pada Jumat (28/8). Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu (29/8), Presiden Interim Venezuela, Delcy Rodriguez, menyebut kerja sama itu sebagai kesepakatan bersejarah karena membuka peluang bagi negaranya untuk mengembangkan industri minyak tanpa melepas kepemilikan dan kedaulatan atas sumber daya alam.
Program itu dirancang melalui pengembangan 17 ladang minyak dengan sasaran produksi awal 1,5 juta barel per hari serta delapan blok minyak di lahan baru. Berdasarkan skema tersebut, Caracas akan memperoleh 19 dolar AS (sekitar Rp341 ribu) untuk setiap barel yang diproduksi dan dijual ke AS, sedangkan Rodriguez memperkirakan pemasukan dapat mencapai 209 miliar dolar AS (sekitar Rp3,75 kuadriliun) per tahun bergantung pada harga pasar, yang akan digunakan untuk memperoleh modal, teknologi, dan keahlian operasional guna memulihkan sektor energi yang terdampak sanksi.
2. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia

ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay) Menurut laporan Fox News, Venezuela memiliki lebih dari 300 miliar barel cadangan minyak mentah atau sekitar 20 persen dari total cadangan dunia, sehingga posisinya melampaui Arab Saudi sebagai negara dengan stok minyak terbesar di dunia. Meski menguasai sekitar 17 persen cadangan global, krisis politik dan kerusakan infrastruktur membuat negara tersebut hanya berkontribusi sekitar 1 persen terhadap produksi minyak dunia.
Minyak mentah berat Venezuela secara teknis sesuai dengan spesifikasi kilang di kawasan Pantai Teluk AS yang kurang cocok mengolah minyak serpih atau shale oil lokal yang memiliki karakter lebih ringan. Kepastian pasokan tersebut diproyeksikan dapat menopang operasional kilang domestik, memperluas pilihan jalur impor AS, serta menjadi perlindungan terhadap kemungkinan gangguan pasokan global seperti krisis pengiriman di Selat Hormuz.
3. Harga bensin AS naik di tengah kerja sama Venezuela

ilustrasi pengisian bahan bakar minyak (pexels.com/Engin Akyurt) Kerja sama Caracas dengan Washington berlangsung di tengah tekanan politik AS sejak Januari setelah pasukan khusus AS menangkap eks Presiden Nicolas Maduro dan Mahkamah Agung Venezuela menyerahkan kepemimpinan kepada Rodriguez. Dampak kerja sama politik dan energi tersebut terhadap biaya hidup masyarakat AS bergantung pada kemampuan Venezuela meningkatkan kapasitas produksinya.
Data AAA menunjukkan harga rata-rata bensin reguler di AS berada pada 4,07 dolar AS per galon (sekitar Rp73 ribu) per galon. Harga tersebut meningkat cukup jauh dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, ketika bensin berada di sekitar 3,19 dolar AS per galon (sekitar Rp57 ribu) per galon.
















